PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Kebenaran


__ADS_3

Gibran yang baru tiba di bandara langsung berlari, menerobos masuk tanpa memperdulikan orang yang terjatuh akibat bertabrakan dengannya.


Bukan hal mudah mencari satu orang di tempat ramai seperti ini.


"Kerudung biru" Gibran bergegas mengejar wanita yang disangka Adiba.


Dengan kasar Gibran menarik lengan gadis tersebut agar berbalik.


"Adib!" wanita itu berbalik


"i am sorry" Gibran salah orang. Wanita itu bukanlah istrinya.


Gibran berlari menjelajari seisi Bandara, namun yang dicari tak kunjung ditemukan. Hak itu membuat Gibran frustasi dan jengah.


"Adiba!!!" Teriaknya, tubuhnya jatuh tersungkur. Beberapa orang yang lewat menatapnya iba dan kasihan.


Gibran teringat sesuatu, dia mengangakat kedua tangannya. Berdoa kepada Tuhan agar dapat menemukan Adiba.


Gibran mengakui dirinya lalai, tidak seperti Adiba yang taat beribadah. Gibran bersimpuh menyerahkan segala permasalahan nya kepada sang Kuasa kali ini.


Dengan tangis yang menetes ke tangannya. Gibran memohon belas kasih tuhan yang kuasa.


"Tuhan, baru kali ini aku menyerah padamu. aku memang orang yang pantas kau hukum. Tapi untuk kali ini kumohon kepadamu. Kembalikanlah Adiba kepadaku, kembalikanlah anakku padaku."


Mengusap wajah dengan tangannya.


Seperti mendapat petunjuk, Gibran kembali bersemangat dan berlari ke Boarding Room. ia ingat ucapan Vino jika Zein akan membawa istrinya ke negara X"


Benar saja, Gibran dapat melihat istri kesayangannya sedang tersenyum disana. Cahaya Gibran mulai kembali, namun senyumnya pudar menjadi amarah ketika tangan kekar menimpa pundak istrinya.


"Baji**an!!" Ucapnya sambil berlari.


Bugh.


Seseorang menghantam tubuh Zein hingga tersungkur, Aisyah dan Adiba yang terkejut langsung berhamburan membantu Zein.


"Kamu gak papa?" Tanya Adiba khawatir.


Adiba dan Aisyah membantu Zein berdiri.


"Singkirkan tanganmu!!" bentak Gibran kepada Adiba.


Adiba tidak memperdulikan suara Gibran, Adiba malah dengan sengaja menggenggam lengan Zein dan membantunya berdiri.


"Sialan!!"


Gibran menarik paksa kerah meja Zein dan menghantamnya kembali.


Bugh


"Gibran!!" Bentak Adiba dengan lantang.


Ups!! Adiba meluapakan sesuatu. Adiba lupa jika dirinya sedang pura pura amnesia.

__ADS_1


Gibran berdiri, tersenyum sinis menatap Adiba dan Zein.


"Bagus! Jadi ini tujuanmu pura pura amnesia agar bisa lari dengan pria brengsek ini dan membawa bayiku!"


Bayiku? adiba tercengang. bagaimana Gibran tahu perihal bayi mereka. Masa bodo.


"Bayimu?" Jawab Adiba sedikit tertawa mengejek.


"Yang mana bayimu?"


"yang didalam perutku atau yang berada dalam perut wanita itu?" tunjuk Adiba kepada keyla yang sudah berdiri dibelakang Gibran.


Semua orang menatap Keyla termasuk sekertaris Vino yang baru tiba.


Gibran terdiam mendengar pertanyaan adiba, dirinya sendiri tidak tau yang mana bayinya. Tapi yang jelas bayi yang dikandungan Adiba adalah bayinya, darah dagingnya. yang di dalam kandungan Keyla? Ntahlah.


Adiba membalikan senyuman sinis menatap Gibran ketika Gibran tidak mampu menjawab pertanyaannya Kemudian berbalik mnarik tangan Zein untuk pergi.


Adiba sudah muak dengan semuanya.


"Bajingan, lepaskan istriku!!" Gibran menepis tangan Adiba membuat Adiba meringis kesakitan


"Bajingan? Lalu apa dirimu? Apa dirimu yang berciuman bersana wanita yang sudah bersuami" Ucap Adiba dengan tegas.


Gibran semakin marah karna adiba membela pria Zein.


"Aku? haha kau tau Adiba? Aku keparat yang sudah tidur dengan dua wanita dan membuat mereka sama sama hamil sekarang"Jawab gibran yang dibumbui dengan tawa.


Plak!


Cukup! Adiba sudah muak dengan semuanya.


Gibran mengusap pipi kanannya yang sudah merah akibat tamparan wanita lugu. Wanita lugu yang berani menampar pria Arrogant. Gibran menatap tajam Adiba dengan tatapan membunuh. Hal itu sedikit membuat nyali Adiba menciut.


"Mmmmphhh" Gibran berjalan mendekat menghampiri Adiba dan menciumnya di depan muka umum. Membuat semua orang terkejut buat main.


Adiba yang terkejut tentu melawan, namun karna kekuatannya yang jauh lebih kecil membuatnya kalah dan menyerah dicium oleh suaminya sendiri.


Tubuh Zein lunglai, gadis yang dicintainya sedang berciuaman dengan Gibran. Berbeda dengan Aisyah yang ribut menyaksikan reka adegan tersebut.


"Tontonan gratis" Gumam Aisyah tertawa kecil.


Tawa Aisyah langsung terhenti ketika matanya tak sengaja menangkap wajah Sekertaris Vino yang menatap tajam kepadanya. Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.


Lama mereka berpautan tanpa memperdulikan orang yang menatap mereka heran. Adiba membuka mata.


Nampak wajah Keyla dibelakang tubuh Gibran yang menatap kearahnya. sontak Adiba mendorong tubuh Gibran.


"Lepaskan!" Tegasnya


Gibran mengikuti arah pandang adiba yang menatap keyla. Gibran pun sempat terkejut akan kelakuan dan keberadaan orang di sekitarnya.


Keyla tersenyum, tangannya menggenggam tangan Mr. Alonzo disampingnya.

__ADS_1


Keyla dan Mr. Alonzo berjalan menghampiri Gibran dan Adiba


"Adiba, kumohon maafkan aku. Aku telah membuatmu salah faham" Keyla menggenggam tangan Adiba.


"Anak yang kukandung bukanlah anak Gibran, melainkan anak dari suamiku Mr. Alonzo" Ujar Keyla membuat semua orang semakin terkejut.


"Tapi waktu itu..." Ucap Gibran tergantung.


Adiba semakin marah dan menatap Gibran sendu. Waktu itu? Kan berarti emang ada hubunhan.


Keyla tersenyum merangkum wajah Adiba.


"Tenanglah, Gibran hanyalah milikmu."


"Waktu itu, tidak terjadi apapun diantara kita. Ada yang menjebak kita sehingga kita tidur bersama, tapi tidak terjadi apapun diantara kita" Lanjutnya.


"Ya, karna saya sendiri yang sudah membuktikan dan mengambil keperawanannya" Jelas Mr. Alonzo membuat Keyla tersipu malu, karna suaminya terlalu gamblang menjelaskan.


Gibran menghela nafas lega. Tidak dengan Adiba.


Adiba tetap saja merajuk, karna bagaimanapun Gibran tetap salah karna telah mencium Keyla di depan matanya.


Adiba berjalan menjauhi semua orang, lelah dengan semua lermasalahannya.


Gibran tersenyum melihat Adibanya merajuk dan pergi. Keyla, Vino, dan Zein tersenyum memberikan perseyujuan agar Gibran menyusul dan menjelaskan lebih rinci agar Adiba kembali.


Gibran berlari mengejar istri kecilnya yang sedang merajuk seperti anak kecil, menagkap dan memeluknya kuat dari belakang.


Ada kehangatan dan kenyamanan dihati Adiba, tapi adegan Gibran yang mencium Keyla terus berlarian di kepalanya.


"Lepaskan!" Kukuh Adiba.


Gibran tersenyum membuat Adiba semakin jengkel.


"Sayang, Kau mau aku menciummu lagi disini?" Ucapnya diringi tawa mesum membuat Adiba melotot.


tidak tahu malu.


Adiba berbalik dan menjauh.


Benar saja, Gibran kembali menarik Adida dan mencium Adiba dengan rakusnya di muka umum membuat Adiba pasrah dan memeluk suaminya.


Adiba rindu sekaligus marah kepada Gibran. Adiba menangis dan memukul mukul dada bidang suaminya di dalam pelukan Gibran.


"Maafkan aku" Lirih Gibran sambil menciumi seluruh kepala Adiba dan mendekapnya kuat kuat.


Tidak akan kubiarkan kau pergi lagi.


Semua orang yang menyaksikan, menangis terharu melihat sepasang suami istri tersebut. Mr. Alonzo merangkul Keyla sambil menatap Gibran dan Adiba. Sedangkan Aisyah memeluk dirinya sendiri sambil menatap Gibran dan Adiba.


Vino? dia tersenyum lapar menatap Aisyah.


Giliranku. Gumamnya tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2