
Eih? tuan kau fikir ini ikan asin. Maen beli semua.
"Hah? kenapa tuan?" Tanya Adiba
yang aneh dengan Gibran.
"Bukankah kau menyukainya?"
Bertanya sambil mendekati Adiba hendak meraih dagu Adiba. Adiba segera
melangkah mundur menjauhi Gibran, ia tidak ingin sesuatu hal aneh terjadi lagi.
Sikap Adiba
membuat Gibran terseringai, gadis ini ternyata cukup menjaga diri.
"Tidak tuan," Jawab Adiba
menunduk.
"Baiklah, pilihlah yang kau suka."
Ucap Gibran dan langsung duduk di sofa.
"Tidak tuan terimakasih, saya tidak
membutuhkannya." Tolak Adiba.
Penolakan Adiba
membuat Gibran marah dan langsung menarik Adiba keruangan ganti dan mengambil
beberapa pakaian yang diambilnya secara asal. Lagi-lagi Gibran berlaku kasar
dengan mendorong kasar Adiba hingga terbentur dinding pembatas.
"Kau mau mempermalukanku dengan hanya memakai
piyama di rumah sakit hah?." Mencengkram dagu Adiba
yang meringis kesakitan hanya menundukan
kepalanya.
"Cepat pakai!" Ucap Gibran sambil
melemparkan beberapa gantung baju ke wajah Adiba.
Gibran langsung
keluar dari ruang ganti. Tidak ingin membuat Tuan sang penguasa marah, Adiba
segera mengganti pakaiannya. Ketika selesai, Adiba langsung keluar dengan wajah
menunduk dan tubuh gemetar mengingat kemarahan Gibran.
Gibran menatap
Adiba, tanpa sejengkalpun yang hilang dari pandangan matanya.
"Vin, Bungkus semua pakaian yang kusuruh tadi"
Ucap Gibran kepada sekertaris Vino yang setia berdiri di sampingnya.
Semua? untuk apa sebanyak itu? hey tuan aku tidak
__ADS_1
berdagang. Batin Adiba
"Baik tuan muda" Jawab sekertaris
Vino
Hah iya? bagaimana kau akan membungkus pakaian sebanyak itu tuan? kau
bahkan butuh mobil box besar untuk mengangkutnya. Batin Adiba tak percaya.
Gibran kembali
menarik lengan Adiba dan membawanya keluar dan kembali masuk pada ruang
gramedia. Terdapat banyak buku disana, Gibran meraih satu buku asal dengan
terus menarik lengan Adiba.
"Maaf tuan lepaskan, kita akan kemana?"
Tanya Adiba
"Pilih buku yang kau butuhkan untuk belajar dan baca ini!" Ucap Gibran
sambil memberi sebuah buku yang berjudul Cara cepat belajar matematika.
Kenapa dia bisa tau aku tidak bisa matematika. Batin Adiba
"Aku ajar mengajarimu!" Ucap
Gibran lagi. Adiba menatap Wajah tampan dan dingin itu, ia sangat heran denan
sosok Gibran.
Melihat Adiba
yang hanya melamun membuat Gibran kembali menarik Adiba dan mengambil beberapa
buku yang dikiranya cocok untuk Adiba. Kemudian membawanya ke kasir.
"Selamat siang tuan. Wahh sudah mempunyai Anak tetapi anda tetap
tampan sekali." Ucap pelayan kasir wanita yang terpesona oleh
ketampanan Gibran dan sudah menggandeng tangan gadis kecil.”
Adiba langsung
bangun dari lamunannya.
Anak? setua itukah dia. Haha lihatlah
wajahnya sudah merah. Batin Adiba yang senang melihat kekesalan
Gibran.
"Shittt," Dengus Gibran
"Dia istriku!" Berbicara penuh
penekanan sambil merangkul bahu Adiba.
"ha? Maafkan saya tuan, maaf."
Ucap kasir menunduk ketakutan melihat tatapan Gibran.
__ADS_1
Hey tuan! kenapa kau selalu seenaknya seperti ini. Batin Adiba yang kesal dengan sikap Gibran. Gibran
menyerahkan buku-buku yang ditentengnya kepada sekertaris Vino. Mereka
menghampiri cafe terdekat yang masih terletak di dalam mall untuk makan siang.
Setelah selesai
menyelesaikan semuanya, mereka pulang diantar sekertaris Vino yang mengemudi.
Adiba dan Gibran duduk dibelang, sejuta kali Adiba menolak sejuta kali pula
Gibran mengancamnya dan akhirnya Adiba mengalah dan duduk dibelakang
bersamanya.
"Ke apartement." Ucap Gibran
kepada sang pengemudi sekertaris Vino
"Hah? untuk apa?" Protes Adiba.
"Tenanglah!! jangan berharap lebih. Aku sama
sekali tidak tertarik padamu! Aku hanya ingin istirhat." Ucap
gibran menjelaskan
Ucapan Girban
membuat Adiba lega tetapi tetap saja membuatnya khawatir, takut khilaf takut
melakukan kesalahan dan terjadi pencurian lagi. Adiba menggeser duduknya
menjauhi Gibran memberi jarak.
Gibran yang
menyadari tingkah adiba mendengus kesal.
Cihh, aku sudah bilang sama sekali tidak tertarik padamu!!
Setelah sampai,
mereka disambut hangat oleh para pengawal dan langsung melangkah menuju lift. Sekertaris
Vino mengantar Adiba dan Gibran sampai depan pintu sambil menenteng barang
belanjaan tadi.
"Pulanglah vin, terimakasih." Ucap
Gibran kepada sekertaris Vino sambil mengambil alih tentengan belanjaan.
"Baik tuan, selamat beristirahat."
Jawab sekertaris Vino.
Pulang? hey kau mau
kemana pak? Tolonglah, tolong aku keluar dari kandang singa ini. Batin Adiba menjerit, tubuhnya gemetar
kala Sekertaris Vino menutup pintu. Bulu kuduknya bahkan berdiri melihat betapa
luasnya apartemen milik Gibran ini.
__ADS_1