PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Berbelanja part 2


__ADS_3

Eih? tuan kau fikir ini ikan asin. Maen beli semua.


 "Hah? kenapa tuan?" Tanya Adiba


yang aneh dengan Gibran.


"Bukankah kau menyukainya?"


Bertanya sambil mendekati Adiba hendak meraih dagu Adiba. Adiba segera


melangkah mundur menjauhi Gibran, ia tidak ingin sesuatu hal aneh terjadi lagi.


Sikap Adiba


membuat Gibran terseringai, gadis ini ternyata cukup menjaga diri.


"Tidak tuan," Jawab Adiba


menunduk.


"Baiklah, pilihlah yang kau suka."


Ucap Gibran dan langsung duduk di sofa.


"Tidak tuan terimakasih, saya tidak


membutuhkannya." Tolak Adiba.


Penolakan Adiba


membuat Gibran marah dan langsung menarik Adiba keruangan ganti dan mengambil


beberapa pakaian yang diambilnya secara asal. Lagi-lagi Gibran berlaku kasar


dengan mendorong kasar Adiba hingga terbentur dinding pembatas.


"Kau mau mempermalukanku dengan hanya memakai


piyama di rumah sakit hah?." Mencengkram dagu Adiba


 yang meringis kesakitan hanya menundukan


kepalanya.


"Cepat pakai!" Ucap Gibran sambil


melemparkan beberapa gantung baju ke wajah Adiba.


 Gibran langsung


keluar dari ruang ganti. Tidak ingin membuat Tuan sang penguasa marah, Adiba


segera mengganti pakaiannya. Ketika selesai, Adiba langsung keluar dengan wajah


menunduk dan tubuh gemetar mengingat kemarahan Gibran.


 Gibran menatap


Adiba, tanpa sejengkalpun yang hilang dari pandangan matanya.


 "Vin, Bungkus semua pakaian yang kusuruh tadi"


Ucap Gibran kepada sekertaris Vino yang setia  berdiri di sampingnya.


 Semua? untuk apa sebanyak itu? hey tuan aku tidak

__ADS_1


berdagang. Batin Adiba


 "Baik tuan muda" Jawab sekertaris


Vino


 Hah iya? bagaimana kau akan membungkus pakaian sebanyak itu tuan? kau


bahkan butuh mobil box besar untuk mengangkutnya. Batin Adiba tak percaya.


 Gibran kembali


menarik lengan Adiba dan membawanya keluar dan kembali masuk pada ruang


gramedia. Terdapat banyak buku disana, Gibran meraih satu buku asal dengan


terus menarik lengan Adiba.


 "Maaf tuan lepaskan, kita akan kemana?"


Tanya Adiba


 "Pilih buku yang kau butuhkan untuk belajar dan baca ini!" Ucap Gibran


sambil memberi sebuah buku yang berjudul Cara cepat belajar matematika.


 Kenapa dia bisa tau aku tidak bisa matematika. Batin Adiba


 "Aku ajar mengajarimu!" Ucap


Gibran lagi. Adiba menatap Wajah tampan dan dingin itu, ia sangat heran denan


sosok Gibran.


 Melihat Adiba


yang hanya melamun membuat Gibran kembali menarik Adiba dan mengambil beberapa


buku yang dikiranya cocok untuk Adiba. Kemudian membawanya ke kasir.


 "Selamat siang tuan. Wahh sudah mempunyai Anak tetapi anda tetap


tampan sekali." Ucap pelayan kasir wanita yang terpesona oleh


ketampanan Gibran dan sudah menggandeng tangan gadis kecil.”


 Adiba langsung


bangun dari lamunannya.


 Anak? setua itukah dia. Haha lihatlah


wajahnya sudah merah. Batin Adiba yang senang melihat kekesalan


Gibran.


"Shittt," Dengus Gibran


 "Dia istriku!" Berbicara penuh


penekanan sambil merangkul bahu Adiba.


"ha? Maafkan saya tuan, maaf."


Ucap kasir menunduk ketakutan melihat tatapan Gibran.

__ADS_1


Hey tuan! kenapa kau selalu seenaknya seperti ini. Batin Adiba yang kesal dengan sikap Gibran. Gibran


menyerahkan buku-buku yang ditentengnya kepada sekertaris Vino. Mereka


menghampiri cafe terdekat yang masih terletak di dalam mall untuk makan siang.


Setelah selesai


menyelesaikan semuanya, mereka pulang diantar sekertaris Vino yang mengemudi.


Adiba dan Gibran duduk dibelang, sejuta kali Adiba menolak sejuta kali pula


Gibran mengancamnya dan akhirnya Adiba mengalah dan duduk dibelakang


bersamanya.


"Ke apartement." Ucap Gibran


kepada sang pengemudi sekertaris Vino


"Hah? untuk apa?" Protes Adiba.


"Tenanglah!! jangan berharap lebih. Aku sama


sekali tidak tertarik padamu! Aku hanya ingin istirhat." Ucap


gibran menjelaskan


Ucapan Girban


membuat Adiba lega tetapi tetap saja membuatnya khawatir, takut khilaf takut


melakukan kesalahan dan terjadi pencurian lagi. Adiba menggeser duduknya


menjauhi Gibran memberi jarak.


Gibran yang


menyadari tingkah adiba mendengus kesal.


Cihh, aku sudah bilang sama sekali tidak tertarik padamu!!


Setelah sampai,


mereka disambut hangat oleh para pengawal dan langsung melangkah menuju lift. Sekertaris


Vino mengantar Adiba dan Gibran sampai depan pintu sambil menenteng barang


belanjaan tadi.


"Pulanglah vin, terimakasih." Ucap


Gibran kepada sekertaris Vino sambil mengambil alih tentengan belanjaan.


"Baik tuan, selamat beristirahat."


Jawab sekertaris Vino.


Pulang? hey kau mau


kemana pak? Tolonglah, tolong aku keluar dari kandang singa ini. Batin Adiba menjerit, tubuhnya gemetar


kala Sekertaris Vino menutup pintu. Bulu kuduknya bahkan berdiri melihat betapa


luasnya apartemen milik Gibran ini.

__ADS_1


__ADS_2