
Di dalam kamar...
"Cari tau apa saja kegiatan gadis bodoh itu sebelum menikah denganku!" Perintah Gibran kepada Sekertaris Vino dalam sambungan
Gibran merebahkan tubuhnya diatas ranjang king sizenya, tanpa menunggu lama Gibran langsung tertidur karena kantuk dan lelahnya.
Adiba yang baru saja selesai menyatap makan malam langsung merapihkannya dan berjalan menuju kamar.
Adiba mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan, pelan-pelan Adiba membuka pintu kamar.
"Dia sudah tidur ternyata" Gumamnya kecil.
Adiba mengendap-endap masuk kedalam kamar mandi seperti maling, kemudian membersihkan badan dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang umat muslim.
Setelah selesai menjalankan aktifitasnya, Kantuknya menyerang. Adiba berjalan pelan menuju sofa yang ada diruang tv mengantisipasi kejadian kemarin terulang kembali yang dituduh sebagai penggoda padahal dia Gibran sendiri yang memulainnya kemudian tertidur.
***
Sayup-sayup Adiba mendengar lantunan adzan subuh yang berasal dari luar apartemen. untung Adiba bangun lebih awal dibanding Gibran, Adiba bisa ikut membersihkan badan dikamar mandi Gibran dan menjalankan kewajibannya.
Adiba membuat sarapan pagi dan segelas kopi untuk Gibran.
"Apa yang kau lakukan?." Tanya Gibran yang tiba-tiba datang dengan penampilan khas bangun tidurnya tetapi tetap terlihat tampan.
"Ah, selamat pagi tuan.
saya membuat sarapan untuk anda. Mandilah terlebih dahulu, saya akan menyiapkan air dan baju untuk anda." Jelas Adiba
Anehnya Gibran hanya menurut dan mengekor dibelakang Adiba yang ingin menyiapkan air untuk mandi.
-Tumben tidak komentar. Batin Adiba aneh
Selesai menyiapkan air hangat, Gibran mandi dan memakai pakaian yang telah disiapkan Adiba.
Flasback on
Gibran membuka matanya ketika sang surya menyentuh kulitnya. Seketika Ingatannya langsung kepada gadis itu.
-Dimana dia?. Batin Gibran yang khawatir jika gadis itu kabur dan melapor kepada mamanya.
matanya berputar mencari keberadaan Adiba, tetapi tidak menemukannya. Gibran beranjak menuju kamar mandi tetapi tetap tidak menemukan apa yang dicarinya.
Gibran berjalan keluar kamar matanya menuju dapur dan ah ketemu! obyek yang dicarinya ada di sana sedang berdiri didepan kompor.
Flasback off
Gibran duduk di ujung meja dan mulai menyeruput kopinya.
"Duduklah!" Titah Gibran
"Iya tuan." Jawab Adiba gugup kemudian duduk disebelah kanan Gibran dibatasi oleh satu kursi kosong.
__ADS_1
Gibran menatap sinis kursi kosong itu. -Beraninya gadis ini. Batinnya
Gibran menyantap makanan yang dibuat Adiba, tetapi tidak dengan Adiba.
"Kenapa diam? makanlah! aku sudah bilang jangan sampai kau mati di apartemenku!" Tegas Gibran
"Ba_baik tuan terimakasih." Jawab Adiba
Adiba mulai menyantap makanan tersebut ketika sudah mendapatkan ijin dan perintah dari suaminya.
"Hari ini saya akan mendaftar kuliah, apa anda mengizinkan saya tuan?" Tanya Adiba berhati-hati ketika sarapan sudah selesai.
"Aku tidak peduli!" Jawab Gibran kemudian pergi meninggalkan Adiba.
"Ah baiklah aku anggap iya" Ucap Adiba bermonolog sendiri
***
Adiba sangat bahagia hari ini, karena akan mendaftar kuliah. Adiba sudah bersiap menggunakan pakaian yang tersedia di ruang ganti.
Meski tidak menggunakan make up hanya menaburkan sedikit bedak tidak menghilangkan aura kecantikannya, ditambah baju yang disediakan Gibran kala itu termasuk baju-baju yang modern dan elegan. Meski awalnya risi Adiba tetap memakainya karna ia tidak membawa baju ketika pindah ke apartemen ini.
Tok,,,,,tok,,,,,tok
Suara pintu terdengar sangat nyaring sampai ke kamar, ketika Adiba sedang berputar-putar di depan cermin.
"Bukannya dia sudah pergi? ada apa lagi?"Gumam Adiba dan langsung berjalan membukakan pintu.
Meski bingung siapa adiba tetap menjawabnya. Pelayan apartemen mungkin (fikirnya).
"Selamat pagi." Jawab Adiba sopan
"Perkenalkan, saya bi Lastri nyonya.
ART baru, saya ditugaskan untuk membersihkan ruangan dan kembali jika sudah selesai." Jelasnya
"Oh bi Lastri yang akan bekerja disini. Silahkan, silahkan masuk bi." Ajak Adiba sopan sambil memegangi lengan bi Lastri.
"Terimakasih nyonya." Jawab bi Lastri tidak enak.
Mereka masuk kedalam.
"Silahkan duduk dulu bi, mau minum apa?" Tawar Adiba.
"Tidak, tidak usah nyonya.
bibi akan bekerja disini bukan bertamu." Jawab bi Lastri
"Tidak apa-apa. Tolong jangan panggil saya nyonya, panggil saya Adiba saja ya bi. Saya kan lebih muda daripada bibi." Minta Adiba ketika kembali sambil membawa teh hangat.
"Tidak nyonya, maafkan saya.
__ADS_1
itu sudah perintah tuan muda." Jelas bi Lastri.
-Ish, manusia itu!! peraturan macam apa itu. Batin Adiba kesal.
"Hm baiklah, jika ada tuan muda saja.
klo tidak ada bibi panggil saya Adiba titik."Ucap Adiba sambil tersenyum.
Bi Lastri tersanjung dengan keramahan dan kesopanan Adiba.
"Iya nya, eh neng Adiba." Jawab Bi Lastri gugup membuat Adiba tertawa lepas.
"Baiklah, bibi cukup membersihkan ruangan luar saja tidak perlu dengan kamar tuan muda." Jelas Adiba karena ingin tetap melayani suaminya.
"Bibi juga tidak perlu memasak, biar Adiba saja. Kecuali nanti tuan muda sendiri yang meminta bibi memasak." Lanjut Adiba
"Oh iya neng, bibi akan berusaha bekerja dengan baik." Tekad bi Lastri membuat Adiba tersenyum kagum melihat kegigihannya.
"Bi, Adiba mau keluar dulu. Ingat tidak usah memasak ya." Ucap Adiba
"Iya neng hati-hati." Jawab Bi Lastri sambil mengantar Adiba sampai ke depan Pintu.
Adiba berjalan keluar, banyak orang-orang yang sedang berlalu lalang menatapnya.
-Apa ada yang salah dengan pakaianku?. Batin Adiba
Adiba pergi menggunakan ojek pangkalan untuk ke tempat universitas impiannya.
"Pak, kejalan Xxx ya." Pinta Adiba
"Baik non." Jawab tukang ojek sambil memberikan helm kepada Adiba.
"Eh, sebentar.
Apa ada yang salah dengan penampilan saya pak?" Tanya Adiba kepada Adiba karena dirinya masih tetap saja menjadi titik perhatian.
Tukang ojek tersenyum.
"Non nya cantik si, jadi pada diliatin." Jawab tukang ojek yang mengerti kebingungan Adiba.
Adiba hanya menyerngitkan dahinya kemudian naik motor dan melaju ketempat tujuan.
"Terimakasih pak, ini uangnya." Ucap Adiba sambil memberikan selembar uang merah.
"Sama-sama. Non kembaliannya." Teriak tukang ojek ketika mendapati Adiba sudah berlari.
"Ambil aja pak." Jawab Adiba berteriak.
Adiba ngos-ngosan ketika berlari mengejar seseorang yang dikenalnya.
"Huft,,,, tarik nafas." Gumamnya.
__ADS_1
Kemudian melanjutkan larinya ketika seseorang yang dikenalnya semakin menjauh.