
"Kau janji akan pulang cepet?" sungut Adiba sedang tangannya sudah sangat lihai melilit dasi merah di kerah baju suaminya.
Adiba merajuk ketika Gibran ingin berangkat kerja, Adiba masih seperti kemarin. Tidak ingin jauh jauh dari suaminya, Adiba ingin ikut tapi Gibran melarangnya. Pasalnya Gibran akan memulai project pembangunan itu hari ini, hal yang sangat berbahaya membawa istri kecilnya kesana.
"Ya sayang" Ucapnya kemudian mencium seluruh wajah istrinya.
Gibran sedikit aneh dengan perubahan Adiba yang manja tapi karna hal itu juga membuat Gibran semakin sayang dan gemas oleh setiap rajukan Adiba.
Adiba mulai berkaca melihat kepergian Gibran yang diikuti oleh Vino di sampingnya.
"Apa nyonya baik baik saja?" Bi Lastri yang baru tiba itupun berlari melihat nyonyanya seperti mau menangis.
Adiba menghembuskan nafasnya kasar, lagi lagi Bi Lastri memanggilnya nyonya.
"Hmm bi, aku baik baik saja." Jawab Adiba jutek dan langsung berlari ke kamar dan menangis disana.
Hal itu membuat Bi Lastri kelimpungan. Tak biasanya Adiba bersikap seperti itu, biasanya Adiba bersikap sangat ramah dan sopan.
"Neng kenapa? apa bibi ada buat salah?" Bi Lastri berusaha membujuk sambil mengetuk ngetuk pintu, namun tidak ada sahutan.
"Apa nyonya ada masalah dengan tuan muda Gibran?"
Mendengar nama suaminya membuat Adiba semakin kencang nangisnya.
"Aduh neng, neng kenapa?"
Hening.
Bi Lastri menemukan ide.
Teng teng teng teng teng....
Suara kentungan mangkuk terdengar sangat nyaring di depan pintu kamar Adiba.
"Somay.... Somay" Bi Lastri meniru suara mang Awang.
Ceklek.
Adiba berdiri di depan pintu menatap Bi Lastri
"Aku pengen somay" Ucap Adiba.
Bi Lastri tersenyum simpul melihat nyonyanya yang mudah merajuk dan mudah di bujuk seperti cucunya.
"Jumm"
Adiba tersenyum melihat tingkah ibu paruh baya yang kekanak kanakan itu.
Mereka berangkat ketempat dimana mang Awang jualan yang tak jauh dari astrama Adiba, diantar Supir yang sebelumnya dikirim oleh Gibran.
"Mang siomaynya tiga ya" Ujar Adiba
Niatnya siomay itu akan ia bagi, kepada Bi Lastri dan pak Supir yang menunggu mereka di mobil.
__ADS_1
"Wah neng cantik baru datang lagi, kemana aja" Sapa Mang Awang ramah yang melihat kedatangan pelanggan setianya datang.
"Hes, sudah tua jaga matamu." Tukas Bi Lastri yang berdiri disamping Adiba.
Mang awang tertawa.
"Mbok siapanya to? saya sudah menganggap neng Adiba ini sebagai anak saya sendiri. Dia sudah menjadi pelanggam setia saya, dia sering mampir kesini jika sedang istirahat sekolah dan baru sekarang dia mampir kesini lagi" Jelas mang udin sambil tangannya sibuk memotong siomay dan tahu.
Lidah Adiba sampai meleleh melihat bumbu kacang yang kental menumpah di atas siomay.
"Hehe maaf ya mang, Adiba baru sempet kesini lagi"
"Nggeh neng. Mamang ngerti kan sekarang neng udah lulus" Sahutnya tersenyum senyum.
"Ya mang alhamdulillah" Mata Adiba kembali berkaca kaca mendengar ucapan mang awang yang mengingatkan kepada memdiang sang ayah yang berjanji akan datang ke acara wisuda, namun nyatanya tidak.
"Non, non baik baik baik saja?" Tanya Bi Lastri yang kembali khwatir dengan keadaan Adiba yang kembali tiba tiba menangis.
Di dalam mobil, Bi Lastri merasa ada hal aneh dengan nyonya.
"Neng?"
"Hmm?" Mulutnya sibuk mengunyah siomay kesukaannya.
"Neng sudah ada tamu?" Pak supir melolot kepada Bi Lastri.
Tamu siapa fikirnya, perempuan atau lelaki kah. Bi Lastri membalas lebih melotot kepada sopir dan benar saja supir itu langsung diam hanya mendengarkan.
"Kurasa belum bi, memangnya kenapa?"
"Kan benar dugaan bibi"
"Benar apanya bi"
"Nanti juga neng tau, neng ikut bibi ke suatu tempat ya"
"Kemana?"
"Ada pokoknya, pasti bikin neng seneng."
"Serius bi?" Wajah Adiba langsung berbinar. Pemikirannya mulai berkenala ke tempat wahana, hiburan, taman atau yang lainnya.
Bi Lastri tersenyum kemudian membisikkan sesuatu kepada sopir. Sopir itu sempat menolak, namun bi lastri memplolotinya dengan tajam membuat sopir itu patuh.
"Kenapa kita kesini bik?" Mereka sudah berjalan di koridor rumah sakit.
"Nanti neng tau" Bi Lastri menuntun Adiba masuk kesebuah ruangan yang bertuliskan Obstetri dan Ginekologi.
Adiba mengikuti arahan dokter untuk berbaring diatas kasur, Adiba hendak memprotes ketika dokter itu menyingkap dan mengoleskan sesuatu kepada perutnya. Tapi Bi Lastri tersenyum memberi tanda tidak apa apa.
Dokter itu melanjutkan aktifitasnya, mengusap ngusap alat di atas perut Adiba. Adiba yang tidak mengerti akan maksudnya menatap aneh dokter yang tersenyum kepadanya.
"Selamat nyonya, bayi anda sudah tumbuh disini. Usianya kini baru menginjak 4 minggu."
__ADS_1
Bi Lastri tersenyum senang.
"Selamat ya neng, selamat. Sebentar lagi neng akan menjadi seorang ibu"
"Hah? Bayi? akan menjadi seorang ibu?" Tanya Adiba yang belum mengerti.
"Iya neng, sebentar lagi neng akan menjadi seorang ibu" Bi Lastri menjelaskan.
"Benarkah dok?" Suara Adiba terbata bata
"Iya, Lihatlah. Usianya baru menginjak 4 minggu" Jelas Dokter.
Adiba meneteskan air mata haru dan bahagia menatap layar yang menampilkan bayinya yang hanya sebesar biji kacang.
Didalam mobil, Adiba tak henti hentinya mengucap syukur atas hadiah yang Allah swt berikan kepada keluarga kecilnya. Sama halnya dengan Bi Lastri dan pak supir yanh ikut bahagia akan kehamilan nyonya mereka.
"Alhamdulillah
alhamdulillah
Allahamdulillah"
"Makasih ya Allah, terimakasih atas hadiah yang paling berharga ini terimakasih telah mempercayaiku. aku berjanji akan menjaganya dengan jiwa dan ragaku."
Tak disangka, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu dan Gibran akan menjadi seorang ayah. Adiba tidak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada suaminya Gibran.
Apalagi kemaren Gibran memang menginginkan bayi dari nya. Adiba tidak menyangka akan secepat ini, Adiba tidak sabar melihat wajah gembira dan tawa Gibran nanti. Adiba ingin cepat cepat pulang dan bertemu suaminya.
Terlalu cepat rasanya bagi Adiba, dan ayahnya akan menjadi kakek.
Ayah? Lirihnya Adiba kembali menangis sambil menciumi kertas kecil itu.
Sesampainya dirumah, Adiba tidak mendapati Gibran disana. Hal itu membuat Adiba kembali bersedih dan memutuskan untuk menunggu suaminya di kamar.
"Hmm kumat lagi" Gumam Bi Lastri geleng geleng kepala.
"Neng mau makan dulu sambil nunggu tuan pulang?"
Tak ada sahutan, Adiba tetap menangis di kamarnya
Bi Lastri sendiri memutuskan untuk menyiapkan makanan dan menelpon tuannya untuk segera pulang, karna kondisi Adiba yang tidak stabil. Bi Lastri berfikir akan lebih baik jika tuan mudanya tahu kondisi istrinya sekarang.
🥀🥀🥀🥀🥀
Hay hay para readersku yang setia😘😘
Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu sehat ya.
Author mau ucapin makasih banyak ni sama temen temen yang udah dukung karya receh author dengan ngelike, vote dan sarannya..
Jangan bosen bosen nunggu updatean ku yg sesuai mood ya😁.
I love youuu😘😘😘😘😘❤❤
__ADS_1