
Sementara itu.
"Kau ini keterlaluan" Sekertaris Vino membuang jasnya asal, dia sangat kesal hari ini.
Aisyah yang juga baru tiba menautkan alis karna si ketek paus itu tiba-tiba marah-marah.
Aisyah tak menanggapi, dia hanya duduk manis di pinggiran kasur menatap Sekertaris Vino yang terus melempar barang barang yang ia kenakan tadi secara asal.
"Memuji pria lain di depanku!" Lanjutnya.
Aisyah membulatkan mulutnya, oh... jadi itu alasannya marah.
Dasar pria tua ini!!! bisa-bisanya cemburu dengan baby B si tampan itu. Aisyah menggelengkan kepalanya.
Menghembuskan nafas, kemudian berdiri mendekati suaminya yang masih merajuk menatap jendela.
Aisyah memeluk Sekertaris Vino dari belakang, menyenderkan kepalanya di punggung kokoh tersebut.
Amarah Sekertaris Vino mereda ketika mendapat sentuhan lembut dari istrinya. Pria itu berbalik kemudian kembali memeluk Aisyah.
Merangkum wajah Aisyah dan mencium keningnya.
"Apa kau cemburu?" Tanya Aisyah diiringi senyum kecil, dia masih tidak menyangka jika pria tua ini bisa bisanya cemburu dengan seorang bayi.
"Tidak!" sangkal Sekertaris Vino kemudian membalikan badan membekangi Aisyah.
Aisyah tersenyum kemudian kembali memeluk Sekertaris Vino dari belakang.
"Baiklah, jika kau tidak cemburu. Itu artinya aku bisa terus menciumi wajah baby B yang merah mungil itu. Aku bisa terus menatap wajahnya yang tampan. Aku juga bisa....mmmpph"
Sekertaris Vino ******* habis bibir Aisyah yang cerewet. gadis ini ternyata masih saja cerewet. mendengar Aisyah memuji bayi itu membuatnya panas, entahlah. Padahal itu hanya seorang bayi yang tidak akan bisa melawannya.
******* habis hingga membuat Aisyah tak bisa mengimbanginya.
Ada apa ini? Gumam Aisyah aneh di tengah pautan mereka.
Sekertaris Vino terus menyesapi miliknya, hanya miliknya. Hingga selesai, barulah nafas mereka memburu.
Sekertaris Vino mendekatkan kening mereka hingga bersentuhan. Menyentuh bibir Aisyah.
"Aku tidak mengizinkan bibir mu mengucapkan nama pria lain apalagi memujinya"
Hah? apa ini? gila ya dia.
__ADS_1
"Bicaralah selebar mungkin. Bicara jika kau hanya mencintaiku!" Tekan Sekertaris Vino membuat Aisyah sedikit takut.
Aisyah hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya yang aneh. dibalik sifatnya yang konyol bgai Aisyah, namun Si ketek sialan itu tetaplah Sekertaris Vino. Seoranh pria dingin dan seorang sekertaris dari pria dingin juga.
Jadi tidak heran jika Aisyah terkadang takut juga dengan suaminya sendiri.
"Bibir, dan semua yang ada pada dirimu hanya milikku!" Timbalnya lagi. Kemudian menuntuk Aisyah untuk tidur di atas kasur.
Dan terjadilah hal seperti 'itu'
Beberapa saat kemudian
"Aku sebenarnya kasihan kepada Adiba" Ujar Aisyah, jarinya terus berlarian entah menggambar apa di atas dada bidang suaminya.
Mereka masih berbaring setelah kegiatan tersebut. hanya dengan di tutup selimut, Aisyah terus bermain di dada bidang Sekertaris Vino yang lebar.
Sekertaris Vino menautkan alis.
apa yang perlu dikasihani? Tuan Gibran sudah menjadi bentengnya. Tidak ada yang perlu ditakutkan dan dikasihani, Tuan Gibran mempunyai segalanya untuk diberikan kepada istrinya.
"Kau tau, dia hanya sebatang kara. Aku yakin dia merindukan ayahnya setelah persalinan." Aisyah bercerita tanpa menatap suaminya.
"Kata ibu, seorang wanita pasti merindukan ayah ibunya jika setelah bersalin. Karna rasa sakit yang dia rasakan mengingatkan dia kepada ibunya sewaktu melahirkan dia." Ucap Aisyah panjang lebar.
"Tapi apa kau tau, ibunya tak pernah menyayanginya. Maka dari itu Adiba lebih dekat dengan ayahnya. Namun sayang sekali, ketika menjelang wisuda ayahnya meninggal. Maka dari itu aku yakin jika Adiba pasti merindukan ayahnya." Aisyah terus bercerita.
Sekertaris Vino sedikit tertampar ingatan ketika mengingat kematian ayah dari nona Adiba. Mengingatkannya pada kejadian waktu itu.
"Apa kau tau penyebab kematian ayahnya?" Pertanyaan Aisyah membuat Sekertaris Vino terpaku. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Aisyah mendongkak menatap wajah suaminya yang tiba-tiba terdiam.
"Suamiku,..."Aisyah memanggil lembut
"Ah ya!"
Ops, Sekertaris Vino telah salah ucap. Tatapan binar Aisyah membuat kesadarannya hilang.
"Kau tau?Kau tau kenapa ayahnya meninggal?" Tanya Aisyah antusias. Sekertaris Vino tak menjawab, pria itu hanya menatap istrinya yang kini sudah menatapnya.
"Aku tidak yakin ayahnya meninggal karna sakit, karna setauku ayahnya Adiba tidak mempunyai riwayat penyakit apapun. Jadi aku merasa sedikit aneh." Tutur Aisyah ketika suaminya tak kunjung menjawab.
"Aku tidak tahu, sudah tidurlah" Jawab Sekertaris Vino dingin membuat Aisyah langsung terdiam.
apa aku mengucapkan hal yang salah?
__ADS_1
"Tidur atau aku akan melakukannya lagi"
"Eh iya!" Tutur Aisyah cepat dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Sekertaris Vino, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sedangkan pria itu, dia beranjak memungut pakaiannya yang berserakan diatas lantai kemudian melangkah ke kamar mandi.
Gibran kembali setelah mencari makan untuk malam ini, dia membawa banyak sekali makanan untuk dirinya, Adiba dan juga tamu yang takut sewaktu-waktu datang.
Baru saja pria gagah dan tampan itu memegang handle pintu rumah sakit, terdengar isak tangis dari dalam.
Apa Adiba menangis? tapi kenapa?
Gibran tak jadi melangkah ketika terdengar lirihan suara istri kecilnya.
"Adiba rindu ayah, lihatlah cucu ayah sudah lahir. Dia sangat tampan seperti menantumu. Aku yakin, jika ayah ada disini ayah pasti akan bahagia melihat aku sudah berkeluarga dan menikah dengan pria yang berganggung jawab sepertinya. Ayah, aku mencintainya. Baby B adalah bukti cinta kami."
"Baby B, apa kau mau melihat kakekmu?" Adiba bergurau dengan putranya, Baby B hanya terdiam melihat ibunya yang sudah meneteskan air mata.
"Ayah, aku rindu ibu aku rindu padamu...hiksss" Tangis Adiba tak tertahan lagi, dia menumpahkan kerinduan yang selama ini dia tahan.
Hati Gibran bagai tertusuk ribuan belati kala istrinya mengatakan jika 'ayahnya akan bahagia melihat dia menikah dengan pria bertanggung jawab'
Jika saja Adiba tau yang sebenarnya, mungkinkah dia akan tetap mengatakan hal yang sama?
Adiba, ayahmu mungkin tidak akan pernah sudi melihat wajahku. Kesalahanku padanya terlalu besar, ditambah dengan penghianatanku padamu. Jika dia masih disini, mungkin dia sudah mengambilmu dariku.
Gibran terdiam di depan pintu, rasa takut kembali menyerang. Takut jika istrinya akan mengetahui semuanya, tapi ini tidak benar. Jika dia tetap merahasiakannya, mungkin dia akan lebih berdosa karna telah menutup kebenaran.
Arghhh
Gibran mengusap wajahnya kasar, hatinya bimbang antara ya dan tidak.
Sanggupkah dia mengatakan bahwa dialah yang telah membunuh ayah dari seorang gadis yang sangat ia cintai. sanggupkah dia jika Adiba pergi dan tidak memaafkannya.
Baby B, apa yang akan difikirkan bayi itu jika dia sudah besar dan mengetahui jika ayahnya lah yang telah membunuh kakeknya sendiri.
Diwaktu yang bersamaan Sekertaris Vino datang dan membungkuk hormat.
"Tuan" Sapa Sekertaris Vino, Gibran hanya menatap sekertarisnya kemudian kembali menatap Adiba yang masih menangis tersedu-sedu tanpa suara di balik kaca.
Sekertaris Vino menghembuskan nafas, dia ikut merasakan penyesalan tuannya. Apa yang diucapkan istrinya ternyata benar.
__ADS_1