
Paginya, Adiba terbangun karena merasakan sesak di dadanya. Adiba terbangun dan betapa terkejutnya mendapati Gibran yang sedang tidur di atas dadanya dan menumpukan kakinya atas kaki Adiba, membuat Adiba tidak bisa bergerak.
Adiba menempelkan punggung tangganya mengecek kondisi Gibran
"Syukurlah dia udah baikan." Ujar Adiba sambil mengusap-ngusap rambut hitam pekat Gibran.
"Tuan! bangunlah. Ini sudah hampir pagi." Seru Adiba sambil memindahkan posisi kepala Gibran keatas bantal.
Perlahan Gibran membuka matanya, sayup-sayup mata layunya melihat Adiba tepat di depannya dan tersenyum.
"Selamat pagi tuan," Ujar Adiba karena melihat Gibran tersenyum.
Adiba beranjak ke kamar mandi memberaihkan badannya dan menjalakan kewajibannya. Setelah selesai, Adiba masih melihat Gibran tertidur di atas kasur.
"Bangunlah tuan, airnya sudah saya siapkan." Ujar Adiba sambil menggoyangkan lengan Gibran membuatnya bangun.
Tanpa berkata Gibran terbangun dan langsung beranjak ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor.
Adiba pergi keruang ganti untuk mempersiapkan baju Gibran kemudian ke dapur membuatkannya sarapan.
"Eh, bibi sudah datang?" Tanya Adiba yang mendapati Bi Lastri sedang membereskan baju.
"Iya Nyha, eh neng.
Bibi sedang membereskan baju, sebentar lagi selesai." Jelas Bi Lastri
"Oh iya." Jawab Adiba
"Neng mau apa? mau bibi masakin apa?" Tanya Bi Lastri menghampiri Adiba.
"Mau masak, tidak bi makasih.
Ini untuk Tuan." Jelas Adiba yang langsung memulai kegiatannya.
__ADS_1
"Bibi bantuin ya."Tawar Bi Lastri
"Sialahkan bi." Jawab Adiba tersenyum.
Melihat kondisi Gibran yang kurang sehat, membuat Adiba ingin membuatkannya bubur pagi ini. Lama bergelut dengan barang-barang dapur, akhirnya masakan buatannya telah selesai.
"Neng?" Tanya Bi Lastri menghampiri Adiba sambil membawa segelas teh hangat buatan Adiba.
"Eh, iya bi? Makasih." Jawab Adiba mengambil Alih gelas tersebut
"Bolehkah bibi bertanya?" Tanya Bi Lastri berhati-hati.
"Silahkan bi, mau tanya apa?"Jawab Adiba sambil tetap fokus menata meja makan.
"Maaf neng, perempuan yang sedang dipeluk tuan di foto itu siapa ya.?" Tanya Bi Lastri pelan sambil menunjuk foto besar yang terpajang di ruang tv.
DEG
Hati Adiba seperti terbentur bongkahan batu besar, fikirannya kalut. Apa yang akan difikiran orang lain jika suaminya memajang foto besar bersama perempuan lain, dirumahnya pula. begitu fikir Adiba.
"Maaf neng, maafin bibi" Ujar Bi Lastri sambil menggenggam tangan Adiba.
"Kenapa bibi harus minta maaf? tidak apa.
Adiba tidak tahu siapa perempuan itu, mungkin sahabatnya jadi dipajang disitu." Jelas Adiba berbohong agar orang lain tidak berfikir yang aneh kepada rumah tangganya.
Cukup dia yang mengetahui lika liku rumah tangganya, tidak dengan orang lain!.
-Maafkan saya tuan, maafkan saya telah berbohong. Batin Adiba
"Oh begitu, sebelumnya maaf ya neng." Ucap Bi Lastri yang masih merasa tidak enak.
Adiba hanya membalasnya dengan senyum.
__ADS_1
Tak jauh dari dapur, Gibran yang hanya memakai pakaian santainya sedang berdiri di depan kamar. Awalnya ia ingin menyusul Adiba, kemudian Gibran memberhentikan langkahnya ketika mendengar percakapan Adiba dan Bi Lastri perihal foto besar yang di pajangnya diruang tv.
Entah kenapa hati Gibran sakit, seperti tersayat pisau melihat senyuman Adiba sambil menjawab pertanyaan pembantunya.
-Munafik! aku tau itu senyuman palsu. Batin Gibran
-Maafkan aku. Batinnya lagi
Setelah Adiba dan Bi Lastri tidak lagi mempermasalahkan perihal foto, barulah Gibran melanjutkan langkah kakinya menghampiri Adiba.
Dengan tiba-tiba, Gibran memeluk Adiba dari belakang, membuat Adiba yang sedang fokus menata makanan pun terkejut.
-Eh, eh kenapa dia?. Batin Adiba
Pipinya merah seperti tomat, apalagi ketika Bi Lastri melihatnya dan tersenyum.
"Ah kau sudah selesai tuan?" Tanya Adiba sambil melepaskan tangan kekar Gibran yang melilit perutnya.
"Hemmmm"Jawab Gibran makin mempererat pelukannya.
-Aaaa tuan! kau ini memang tidak tau malu. Lihatlah kita ditertawakan oleh Bi Lastri. Batin Adiba menjerit.
Gibran semakin memeluk Adiba dan membenamkan wajahnya di leher Adiba, menghirup aroma wangi khas tubuh Adiba. Kemudian Gibran mengecup leher Adiba.
Meski terhalang kain hijabnya, tetap saja membuat Adiba sangat geli.
Bi Lastri malah malu sendiri melihat keromantikan pengantin baru itu, membuatnya memutuskan untuk pergi.
"Pekerjaan saya sudah selesai, permisi tuan nyonya." Ujar Bi Lastri sambil membungkukan badan
Tawa Adiba tak tertahan lagi ketika Bi Lastri sudah pergi, karena Gibran tak henti-hentinya mengecupi leher dan menggelitiki perutnya.
"Hahahaha tuan geli. Kumohon lepaskan." Permintaan Adiba disela tawanya.
__ADS_1
Sekuat tenaga Adiba lepas dari cengkraman kingkong besar tua, kemudian berlari. Gibran mengejarnya, kemudian mereka main kejar-kejaran seperti anak kecil pagi ini.