
“Tante? bolehkah Adiba mengunjungi makam ayah? Adiba belum memberinya doa."
Bertanya dengan
wajah tertunduk karena malu baru saja kenal sudah meminta suatu hal.
Anak sholehah.
Batin Alexa sambil tersenyum.
Alexa
mendongkakkan kepala Adiba dan tersenyum seraya berkata
"Boleh, ayo"
Meraih lengan
Adiba kemudian berdiri mengajaknya keluar pintu dan melangkah menuju lift. Alexa
menekan tombol satu mengarah ke ruangan dasar.
Tiba di ruang
dasar, tampak dua orang pria yang tadi menjemputnya. Satu sedang duduk di sofa
dengan handphone di tangannya dan satu lagi berdiri di sampingnya.
"Gibran! antar Adiba kepemakaman ayahnya"
Berbicara sembari melangkah menuju sofa dan masih menggenggam lengan adiba.
Gibran melihat
gadis itu lekat-lekat dengan mata tajam dengan wajah datarnya, ucapan mama yang
menyuruh untuk menikahinya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tidak mungkin
ia menikahi gadis yang sama sekali tidak dicintainya bahkan ia sama sekali
tidak mengenalnya, tidak mungkin kekasihnya yang cantik dan sexy seperti Shella
diganti dengan gadis cupu dan pendek seperti dia.
"Vin, antar gadis itu"
Titah Gibran
tanpa menoleh.
Belum sempat
sekertaris Vino menjawab, Alexa sudah menyambar ucapan Gibran.
"Tidak!! mama ingin kamu sendiri yang
mengantarnya, jika kamu tidak ingin menekam di penjara!!!" Ancam
__ADS_1
Alexa.
Mata Gibran
langsung membulat mendengar ancaman sang mama. itu artinya gadis itu mengetahui
penyebab kecelakaan ayahnya? dan ia memanfaatkan situasi ini untuk
memperbudakku.
Sial!
Meski
sebenarnya pengajuan tidaklah menjadi masalah bagi Gibran karena ia bisa menyuap
semua polisi untuk berpihak kepadanya dan memberatkan Adiba jika gadis cupu itu
berani melaporkannya, tetapi Gibran yakin mamanya yang keras kepala dan masih
berhutang nyawa kepada ayahnya itu pasti memberikan kesaksian asli kepada
polisi. itu artinya bukan tidak mungkin ia bisa saja menekam di penjara
Dasar gadis licik!!!.
Batin Gibran geram.
Adiba menunduk
melihat tatapan tajam Gibran, ia tidak mengerti maksud dari pembicaraan dua
Alexa kepada anaknya, tentang Menekam
dipenjara. tetapi Adiba memilih diam disituasi mencekam seperti ini.
Adiba tetap
berfikir positif karena tante Alexa sudah menjelaskan alasan ayahnya meninggal
tadi. Adiba melihat Gibran berdiri dari duduknya dan melangkah keluar menuju
pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Pergilah sayang, ikuti Gibran. Dia akan
mengantarkanmu kepemakaman."
Titah Alexa ramah.
"Terima kasih, tidak usah repot-repot tante. Adiba bisa pergi sendiri diantar ojek."
Tolak Adiba tak
kalah ramah.
Alexa tersenyum
__ADS_1
mendengarnya, gadis baik sederhana pula.
"Disini tidak ada ojek sayang. lagipula Adiba tidak mempunyai handphone
untuk memesan ojek online bukan?" Alexa tahu jika Adiba gadis yang
tinggal di astrama pondok pesantren tidak mungkin mempunyai ponsel.
Bukan ia tidak
ingin membantu memesankan ojek online untuk Adiba, tetapi ia ingin Gibran dan
Adiba semakin dekat. Alexa berharap Adiba bisa membantu menarik Gibran dari
jeratan wanita licik itu.
Mendengar
jawaban Alexa, Wajah Adiba tertunduk. Benar apa yang diucapkan tante Alexa.
Sedang Alexa langsung gelagapan merasa sangat bersalah
"Maafkan mama sayang" Ucapnya
lirih
Adiba tersenyum
"Kenapa harus minta maaf? Adiba
sangat berterimakasih kepada tante dan Gibran, maaf jika Adiba merepotkan
kalian." Jawabnya lembut.
Alexa sangat
menyukai gadis ini karena sopan santun dan kesederhanaannya. Ia meraih lengan
adiba dan mengantarkannya kedepan. Wajah Gibran merah menahan amarah. Ia kesal
karena harus menjadi sopir dan mengantarkan gadis tak tau diri itu bahkan dia
sudah membuatnya menunggu.
Gibran mengakui
kesalahannya dan akan bertanggung jawab atas itu. Gibran berniat akan
memberikan tunjangan yang sangat besar kepada gadis itu, tetapi gadis licik itu
malah memanfaatkan kondisi tersebut agar menikahinya.
gadis licik itu pasti sudah bermimpi menjadi nyonya dirumah ini, baiklah
kau akan merasakannya!.Batin Gibran sambil seringai tipis tersungging
di bibirnya.
__ADS_1
Di mobil....