PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Penyebab kematian ayah


__ADS_3

"Ayahmu meninggal, kita ditunggu


dipemakaman sekarang!"


Menjawab dengan suara tak kalah meninggi, Gibran tidak suka mendengar seseorang


menentang setiap ucapannya apalagi membentaknya.


"Apa?"


Dunia Adiba


seakan runtuh detik itu juga, wajah sang ayah langsung terbayang dikepalanya. Ia


memang melupakan satu hal  tadi ketika


mendapat kabar ada yang menjemputnya. Awalnya Adiba mengira jika yang


menjemputnya adalah ayah. Tapi tunggu, apa tadi katanya, ayah meninggal? bagaimana


bisa? bagaimana aku akan menjalani hidupku tanpa satupun keluarga.


Ketika sang ibu


telah lebih lebih dulu, dan sekarang ayah. Harta terakhir paling berharga bagi


Adiba, kini juga akan meninggalkannya. Tidak? Siapapun, tolong katakan padaku


jika ini hanya lelucon kan?


Seketika tubuh


Adiba ambruk, kedua kakinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuh dan


kenyataan pahit ini.


"Ayah! Hiks, hiks, hiks." Adiba


menangis histeris, menelungkupkan wajah cantik di kedua kakinya.


"Hiks, hikss, hikss Ayah. Kenapa ayah meninggalkanku? ayah sudah


berjanji tidak akan meninggalkanku seperti ibu meninggalkanku."


Parau Adiba


disela tangisannya, kesedihannya semakin pecah ketika ia teringat sang ibu yang


juga telah tega meninggalaknya. Bruk! Tubuh Adiba jatuh. Gibran menangkap tubuh


Adiba dan menggendongnya masuk kedalam mobil.


"Cepat jalan!"


Memerintah

__ADS_1


dengan nada suara yang sangat tinggi. Sekertaris mengangguk kemudian menantap


gas.


 


Hati Gibran


bagai tersayat-sayat puluhan belati melihat dan mendengar langsung reaksi gadis


ini ketika mengetahui ayahnya meninggal. Reaksi gadis ini mengingatkanny apda


kisah dia dulu. Kisah dimana Gibran pernah mengalami hal sama seperti Adiba,


ditinggalkan orang terkasih. Masa kehilangan yang sama membuat Gibran ikut


bersedih ketika sang ayah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Hatinya


begitu hancur, dunianya seakan runtuh. Tanpa disadarinya air bening menetes


diujung mata birunya, terjun dan mendarat bebas diwajah adiba yang kini ada


dipangkuannya.


Gibran mengepal


menyesal perbuatannya.


Flasback on


mobil sport mewah berwarna hitam sedang memecah keramaian kota.


Didalamnya ada


seseorang yang duduk dibelakang setir tengah fokus mengahadap jalan. Sesekali


ia melirik kaca spion melihat seseorang yang sedang duduk dibelakang dengan


tangal mengepal dan wajah yang sangat merah menahan emosi.


"Siapkan seluruh para pengawal dan anak buahku


untuk segera datang ke villa di jalan Xxx, aku tunggu dalam 10 menit. Jika terlambat sedetik saja aku habisi kalian


semua!" Tanpa mendengar jawaban dari seberang telpon, ia segera


mematikannya.


"Lebih cepat lagi atau kubunuh kau!"


Memerintah


dengan nafas yang sudah menggebu gebu menahan amarah


"Baik tuan muda" Sopir andalannya tersebut langsung menancap gas

__ADS_1


memenuhi angka full di dasboardnya mematuhi perintah tuannya.


Setelah 10


menit akhirnya mobil tadi sudah tiba ditempat tujuan. Selama itulah ia bergelut


dengan menahan amarahnya sendiri. Gibran langsung keluar dengan mengambil


langkah lebar menuju villa yang dimaksud, sedang dua senjata api di tangannya.


Mata elang


Gibran menyapu bersih para pengawal yang sudah bersiap berbaris mengelilingi


villa dengan nafas terpongoh-pongoh, banyak pula para pengawal musuh yang sudah


babak belur karena pengawalnya.


Gibran semakin bergegas.


"Apa si penghianat itu masih disana Vin?” Menarik kerah baju sekertaris


Vino dan mendorongnya hingga terbentur gerbang besi.


"Ada tuan muda, nona Shella masih ada di dalam"


Shella Candrawinata


adalah tunangan Gibran. Gibran mendapat kabar dari sekertaris Vino jika kekasih


yang selalu ia rindukan selama 2 tahun ini bukanlah di LN menimba ilmu,


melainkan sedang berada dinegaranya sendiri disebuah villa. Bersama seornag


pria.


Betapa bodohnya


dia sama sekali tidak mengetahui kebenaran itu selama ini, selama di perjalanan


Gibran mengutuk dirinya sendiri.


"Awasi semua tempat, jangan biarkan ada yang


berani kabur dan bertindak tanpa seijinku!" Mata elang Gibran


menatap tajam sekertaris Vino, bergerak pada para pengawal yang tengah


tertunduk gemetar.


Tanpa menunggu


lama, Gibran melangkahkan kakinya kesebuah kamar diikuti dengan sekertaris Vino


dan beberapa para pengawal di belakangnya.

__ADS_1


BRAK!!!


__ADS_2