PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Asrama


__ADS_3

Sesampai dirumah utama, Gibran disambut sumringah oleh Mama Alexa.


"Wah anak mama udah pulang, gimana tadi disana?" Tanya Mama Alexa menghampiri Gibran yang sudah duduk di sofa


"Biasa saja." Jawab Gibran acuh


lain halnya dengan Mama Alexa, ia senyam senyum melihat putranya karena rencana untuk mendekatkan Gibran dan Adiba berhasil.


belum lama duduk Gibran meraih ponsel disakunya dan menelpon.


"Jemput sekarang!." Perintah Gibran dan langsung mematikannya.


"Lho, mau kemana nak?


apa sebaiknya tidak istirahatnya saja ini sudah pukul 2 siang, kau bahkan baru sampai." Mama Alexa menyarankan.


"Ke kantor, tidak mah ada urusan yang harus diselesaikan sekarang juga." Jelas Gibran dan langsung naik hendak membersihkan badan dan mengganti baju.


Gibran memang bisa dibilang orang yang gila kerja, ia tidak akan melewatkan waktu yang menurutnya sangat berharga hanya untuk berdiam diri dirumah.


tak lama kemudian sekertaris Vino datang menyapa Mama Alexa yang sedang menonton tv sambil menyeruput segelas teh.


"Selamat siang nyonya." sapa Vino tersenyum


"Siang" Jawab Nyonya tersenyum juga.


-Tumben nyonya tersenyum, dia tidak salah minum kan? Batin sekertaris Vino tidak percaya.


"Vin, tolong kamu siapkan acara pernikahan untuk Gibran dan Adiba nanti. saya ingin semuanya terlihat sempurna." Ujar Mama Alexa


-Oh, pantas! anda memang merubah semuanya nona, bahkan sebelum tinggal dirumah ini. Batin sekertaris Vino tersenyum


"Baik nyonya." Jawab sekertaris Vino


Tak lama kemudian Gibran datang dengan style formalnya yang sangat mengagumkan, wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya rambutnya pun terlihat masih basah dan aroma tubuhnya tercium semerbak wangi sampai terhirup oleh Mama Alexa, sekertaris Vino dan beberapa pelayan yang sedang beres-beres disana.


"Ayo berangkat,!" Ajak Gibran

__ADS_1


sekertaris Vino hanya menunduk dan melangkah keluar menuju mobil kemudian membukakan pintu untuk Gibran.


Mama Alexa menatap lekat pundak lebar Gibran yang lama-lama menghilang dari pandangannya, ia tidak menyangka putra kecilnya sudah tumbuh dewasa dan tampan. Wajahnya mengingatkannya kepada Mahendra suami tercintanya.


Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang, sesekali Vino melirik Gibran dari kaca spion terlihat wajah Gibran yang segar namun terlihat sangat kebingungan.


"Apa ada masalah tuan? anda terlihat sedang kebingungan." Tanya sekertaris Vino


"Awasi gadis norak itu! aku tidak ingin kekasihnya itu mengganggunya." seru Gibran mengusap wajahnya kasar.


sekertaris Vino tersenyum lebar mendengar hal itu, ia berpendapat jika tuannya sudah mulai move on dan mulai menyukai gadis yang bernama Adiba.


"Sialan!!!! kau menertawakanku!!!. Dengus Gibran menatap tajam sekertaris Vino.


"Ti_tidak tuan." Menjawab dengan senyum tipis di bibirnya.


"Aku sama sekali tidak tertertarik dengan gadis norak itu!!!.


dia hanya menginginkan hartaku.


Aku hanya tidak ingin mengecewakan mama." Timbal Gibran lagi.


-Yaya terserah anda pak bos. Batin sekertaris Vino.


Sesampainya di kantor....


seperti biasa semua para karyawati terpukau melihat penampilan Gibran yang selalu terlihat sempurna meski sudah tengah bolong seperti ini, mereka menundukan kepala tanda memberi hormat. Gibran hanya acuh dan berlalu melanjutkan langkahnya yang lebar.


Gibran membuka jas dan menggantungkan di kursi kebesarannya. Ia mulai bergelut dengan tumpukan kertas diatas mejanya.


*****


Adiba sudah duduk berkumpul dikamar bersama teman-temannya yang berjumlah 5 orang sambil belajar sebelum menghadapi ujian.


"Cie yang udah punya calon suami, sampai diantar kedepan pintu kamar." Ujar Aisyah sambil mencolek pipi Adiba


seketika wajar Adiba memerah karna malu, Aisyah dan semua teman-teman yang duduk berasama tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Oh iya! si mas ganteng itu namanya siapa Ba? Tanya Aisyah yang tiba-tiba kepo.


"Tuan Gibran." Jawab Adiba pelan sambil menundukan wajah malu.


"Mau jadi suami kok manggilnya tuan?


Timbal Sarah teman satunya lagi yang sedang membereskan buku tak jauh dari posisi mereka.


Adiba hanya tersenyum mendengarnya.


"Harusnya manggil dengan sebutan sayang, mas, hany gitu kyk orang-orang Ba." Celetoh Aisyah cekikikan.


-Huft gimana mau manggil kayak gitu. lihat wajahnya saja aku tidak berani. Batin Adiba


"Hahaha kak Aisyah sok tau.


kayak yang sudah pernah ngalamin aja." Sahut Gina (adik kelas Adiba) yang sedang duduk disamping Aisyah.


"Udah, udah


kasian kak Adiba. Lihat! wajahnya sampai merah seperti itu." Sahut Rohati (adik kelas Adiba) yang duduk tepat di samping Adiba.


"*H**ehehe maaf*." Jawab mereka bersamaan.


"gak papa." Jawab Adiba tersenyum


"Oh iya Ba, kenapa pulang tiba-tiba?berhari-hari juga, aku fikir kamu keluar." Tanya Sarah menghampiri mereka.


Adiba menundukan kepala dan tak di sadari air matanya menetes membasahi buku-buku yang sedang dibacanya.


"Ayah meninggal." Lirih Adiba


"Innalilahi wainnailaihi roojiun." Jawab mereka serentak.


Mereka berhamburan memeluk Adiba yang sedang menangis, mereka ikut bersedih atas musibah yang menimpa sahabatnya.


"Hikss,,,,hikss,,,hiksss,, Jangan sedih ya kak, ada Gina disini." Sahut Gina memeluk Adiba

__ADS_1


"Kita turut berduka cita ya Ba, semoga ayahmu bahagia disana. diampuni semua dosannya dan ditempatkan di syurga_Nya." Sahut Aisyah yang kemudian ikut memeluk mereka berempat.


Mereka hanyut dalam obrolah hangat yang rindu akan kehadiran Adiba dan mencoba menghiburnya, sesekali mereka tertawa karna celetohan yang dibuat Aisyah.


__ADS_2