PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
18 Peringatan!


__ADS_3

Setelah Adiba ikut masuk, Gibran menekan tombol


25. Seketika pintu lift langsung


menutup rapat. Hanya ada


mereka berdua di dalam lift tersebut, Adiba yang sadar akan bahaya melangkah mundur


hingga terbentur dinding.


 "Patuhilah ucapanku


tadi, atau kau akan tahu akibatnya!"Melirik


sekilas kemudian kembali menatap depan.


 "Iya


tuan." Jawab Adiba pelan.


 Aku seperti habis tertangkap basah selingkuh


saja, lagipula apa salahku? Dokter itu hanya menolongku. Protes Adiba di dalam hati, lagi-lagi dia tidak berani mengungkapkan protesnya.


 Ting. Pintu lift terbuka, Gibran melangkah lebar menuju ruangan


Ana adik kesayangannya. Dia sangat merasa bersalah terhadap Ana karena


sudah membunuh kekasihnya, tetapi apa yang dilakukan Darren tidaklah bisa di maafkan.


Darren sahabatnya dan juga kekasih


adiknya tega berkhinat dengan Shella.


 Bagaimana jika Ana


mengetahui akulah pembunuhnya? Bagaimana perasaannya jika mengetahui


Darren telah berselingkuh dengan Shella. Persetan dengan semua ini!. Umpat Gibran, Ia muak dengan semuanya.


 Didepan ruangan, sudah ada sekertaris Vino yang


menunggutuannya.


 "Dimana ruangannya?" Tanya Gibran.


 "Di sini, tuan." Jawab Vino menunjukan ruangan.


 Gibran melangkah masuk diikuti Adiba, Adiba seperti anak


itik yang membuntuti induknya. Baru beberapa


langkah Gibran berbalik menatap Vino.


 "Apa


kau sudah membereskannya." Tanya Gibran.


 "Sudah


tuan muda, ia sekarang berada di Gudang markas" Jawab Sekertars Vino yang sudah mengerti arah pertanyaan tuannya.


 Gibran pun melanjutkan langkah kakinya. melihat


mamanya sedang tidur disamping Ana,membuat hatinya sangat tersayat-sayat, ia


adalah orang yang tidak berguna ia tidak bisa melindungi orang-orang di


sekitarnya.


 "Temani


mama! Jangan berani


melangkah keluar sejengkalpun tanpa seijinku!" Tatapannya penuh kepada Adiba yang


menunduk.


 "Antar


aku kesana sekarang."Titah Gibran kepada sekertaris Vino


 "Iya


tuan muda."


 Gibran melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Adiba yang menatap kepergiannya.


Didalam mobil.


"Apa


yang kau lakukan kepada mayatnya?" Tanya Gibran kepada sekertaris Vino yang fokus


menyetir.


 "Kita

__ADS_1


sudah menguburnya, semua pengawal kita sudah menghapus jejaknya."


sekertaris Vino menjelaskan


 "Apa


kita perlu membuangnya tuan?" Tanya sekertaris Vino yang melihat tuannya


hanya diam,


 "Apa! sedikit saja kau menyentuhnya, kubunuh kau." Sarkas Gibran.


Sekertaris vino diam mendengar jawaban Gibran.


 Dia sudah


mengkhianatimu tuan! Apalagi yang kau harapkan darinya? sudah ada nona Adiba yang jauh lebih


baik.


 Geram sekertaris Vino


kepada Gibran yang berlebihan mencintai Shella yang menurutnya tidak wajar dan


lihatlah sekarang meski wanita itu telah berkhianat ia tetap membelanya.


 20 menit melakukan perjalanan, tibalah mereka di Gudang


markas Gibran yang jauh dari kerumunan warga. Markas itu biasa ia gunakan untuk


menyekap para pengkhianat perusahaan. Langkah kakinya terhenti mendengar rintihan


suara Shella yang


berasal tidal jauh dari posisinya.


 “Apa yang mereka


lakukan bodoh!” Mencengkram kerah kemeja sekertaris Vino dan


mendorongnya hingga terbentur keras dinding.


 “Mereka hanya


memberinya sedikit pelajaran tuan muda, tenanglah dia sudah mengkhianatimu!” Jelas sekertaris Vino menyadarkan Gibran akan


tujuannya.


 Gibran melepaskan cengkramandan mendorong tubuh Sekertaris Vino.


tubuh Shella yang selama ini ia rindukan, Shella dikelilingi para pengawal


Gibran yang jumlahnya enam orang. Tubuh, kaki dan tangannya diikat erat dikursi


sedang mulutnya di bekam oleh kain. Gadis itu meronta ketika Gibran disana, air


matanya kian deras memohon agar Gibran sedikit iba padanya.


 "Pergilah!"


Titah Gibran kepada pada pengawalnya.Para


pengawal itupun pergi satu persatu dari gudang tersebut tetapi tidak dengan


sekertaris Vino ia tetap berdiri disamping tuannya, berjaga mencegah jika


Gibran melakukan hal bodoh lagi.


 Gibran berjongkok mensejajarkan posisinya


dengan Shella, kemudian membuka bekam


kain dari mulutnya.


 "Hany.... hiks, hiks, hiks.Maafkan aku, Darren


menculikku dia memaksaku melakukannya. Kumohon maafkan aku, Aku mencintaimu."


 Cih! dramamu sangat


mengagumkan wanita liar! Gumam


sekertaris Vino yang memang sangat tidak menyukai Shella. Sekertaris Vino sering mengirimkan utusannya


untuk menyelidiki gerak-gerik Shella tanpa sepengetahuan tuannya.


 Betapa geramnya sekertaris


Vino ketika mengetahui bahwa Shella hanya menjadikan Gibran sebagai atm


berjalannya. Shella selalu berfoya-foya dan memamerkan semua koleksi barang branded


kepada teman-temannya. Tapi Vino kalah karena Gibran sendiri tidak


mempermasalahkan hal itu. Gibran  memang


sangat memanjakan Shella apapun permintaannya, dia bahkan menanggung seluruh

__ADS_1


keluarga gadis tercintanya tersebut.


 Sekertaris Vino hanya diam


selama ini karena melihat cinta dan kebahagiaan dimata tuannya, tetapi ketika


Shella mulai berhubungan spesial dengan Darren yang merupakan kekasih dari adik


tuannya darahnya naik ia melaporkan semuanya kepada Gibran.


 Gibran mengelap air mata Shella dengan ibu


jarinya, melihat gibran yang luluh akan tangisannya membuatnya semakin


bertingkah.


 Shella mencium ibu jari Gibran secepat kilat.


Gibran yang menyadari akan hal itu segera mencengkram dagu Shella.


 "Beraninya


kau mengkhianatiku!" Gigi-giginya


tercekat.


 "Hiks,


hiks, sakit. Kamu jahat hany, sudah


kubilang dia menyekapku." Shella kembali menangis.


 "Tapi


kenapa kau menahanku ketika aku ingin membunuhnya hah?"


 Suaranya menggelegar bak petir di ruangan tersebut. Nyali Shella sedikit menciut mendengarnya.


 "Aku


tidak ingin kau menjadi pembunuh hiks, hiks, hiks." Jelas Shella


 Tak puas dengan jawaban Shella, Gibran berbalik hendak


pergi. Namun suara lirihan gadisnya sukses membuat hatinya ikut teriris. Jujur


saja, jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat mencintai Shella. Namun


penghianatan yang dilakukannya membuat Gibran sangat kecewa.


 "Hany


kumohon lepaskan aku, aku takut disini hiks, hiks, hiks."


 Gibran masih ingat ketika dia


panik mendapati Shella menangis di pojokan kamar, gadi situ gemetar ketakutan karena


gelap dan petir yang menggelegar. Dan hal itu pula membuat Gibran harus


menemani Shella sampai pagi tiba. Juga awal dimana Gibran merasakan kehangatan tubuh


kekasihnya.


 Ya hubungan mereka memang sudah sampai situ,


itulah yang membuat Gibran sangat


menyayangi Shella. Gibran sering mengajaknya menikah untuk mempertanggung


jawabkan semuanya. Namun


Shella selalu menolak dengan alasan masih ingin menimba ilmu hingga membuat Gibran  merelakan kepergian Shella untuk menimba ilmu


di Universitas impiannya di Inggris.


 Namun lain kenyataannya. Bukan menimba ilmu, Gibran malah mendengar kabar


jika ia tengah bersama seorang pria brengs*k disebuah villa.


 "Lepaskan


dia!"


Seru Gibran kemudian


melenggang pergi, meninggalkan Sekertaris Vino yang kecewa akan keputusan


tuannya untuk melepaskan Shella. Sekertaris Vino mengira tuan Gibran akan


membunuhnya atau hanya sekedar membuangnya tetapi ia malah menyuruh untuk


melepaskannya begitu saja.


 Cinta memang membuat


semua orang bodoh!

__ADS_1


__ADS_2