PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Tidakkkkk!!!!!


__ADS_3

Aisyah menghembuskan nafasnya.


"Haruskan aku menikah diusia muda seperti Adiba? " Aisyah tertunduk.


Keesokan harinya.


Adiba berkunjung kerumah Aisyah atas ijin Gibran tentunya.


"Syah, syah. Apa benar Vino melamarmu?" Adiba sangat bersemangat ingin mengetahui perkara tersebut. Pasalnya pagi tadi, Gibran sampai tidak sarapan karna Adiba ingin cepat bertemu dengan sahabatnya. Tentu saja dengan alasan adik bayi Gibran luluh dan mengalah.


"Huft iya" Jawabnya lesu.


"Terus terus?" Adiba antusias


"Terus apanya? " Jawab Aisyah tak bersemangat


"Ih terus kelanjutannya bagaimana? apa kau menerimanya? " Tanya Adiba lagi, sedangkan kedua pria tampan mengikut dibelakang mereka. berusaha mendekat ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun naas, perjanjiaan antara suami dan bumil tidak dapat di ganggu gugat.


"Kamu boleh ikut, tapi satu syaratnya. Kalian tidak boleh dekat dekat dan berjarak minimal 5 meter" Ujar Adiba kala itu.


"Aku tidak tahu"


"Lah anak ini, kenapa tidak tahu? "


"Aku bingung"


"Bingung bagaimananya? " Adiba memegang lengan sahabatnya dan membalikkan agar menghadapnya.


"Aku masih muda, aku ingin kuliah"


"Hey dengarlah, jika masih muda dan ingin kuliah apa salahnya menikah? lagipula kita masih bisa kuliah meski sudah menikah" Jelas Adiba.


Adiba sangat mendukung perjodohan Vino dan Aisyah. Selain menjauhi Zina, Adiba melihat keseriusan dimata Vino. Lelaki itu pasti akan menjaga sahabatnya dengan baik.


Aisyah mengerjap menatap Adiba kemudian tersenyum melihat perut sahabatnya yang bubcit.


Apa aku akan sepertinya?


Hamil dan melahirkan.


Senyum Aisyah mengembang ketika wajah mungil seorang bayi tersenyum kepadanya, Namun senyumannya hilang ketika wajah Vino nampak dibelakang Adiba.


"Lagipula enak lho menikah" Goda Adiba


"Apanya yang enak? "


Aisyah menatap Adiba tak percaya, pemikirannya sudah berpetualang kemana-mana. Ditambah dengan sifat Vino yang mesum, mungkin dia akan menghabisi Aisyah tanpa ampun.


Aisyah menatap wajah Vino yang duduk menatapnya, kemudian mengedipkan mata.


Ikh,,


"Tidakk!!! !!! "


Eh, Aisyah keceplosan. Adiba yang berada di depatnya terkejut, bahkan Gibran dan Vino pun sampai berlari menghampiri mereka.


"Hey Aisyah, kamu kenapa" Adiba Mengguncang-guncangkan tubuh Aisyah.


Eh, aku hanya berhayal.


Huht, sadarlah aisyah.

__ADS_1


"Hmm mikir yang aneh-aneh pasti ni anak"


"Tidak!. "


"Kau pasti mem... " Ucapa Adiba terpotong kala Gibran sudah berucap.


"Sayang! waktumu sudah habis"


"Tap,, "


"Ayo pulang! "


Akhir-akhir ini, emosi Gibran hanya berfokus pada Adiba. Dia bahkan mengabaikan perusahaan hanya untuk mengantar Adiba ketempat sahabatnya.


Tidak sabar ingin melahap dan menjenguk baby boy, Gibran terus menatap arloji di lengannya.


Hingga pada waktunya, Gibran menggendong Adiba dan membawanya kedalam mobil. Meninggalkan Aisyah yang menatap kearahnya.


"Ucapanan nona hanya bagian sedikit dari yang akan di dapatkan olehmu" Lelaki itu menimpal, kemudian berjalan mengikuti Majikannya.


Hanya bagian sedikit??


Lalu yang besarnya seperti apa? aaa tidak!!!


Aisyah menggeleng gelengkan kepala kemudian lari tergesa-gesa menjauh sejauh mungkin dari tatapan lelaki mesum tersebut.


 


Kini, mereka sudah sampai dirumah utama. Gibran memutuskan untuk mengantar Adiba kerumah utama dan menitipkannya kepada mama.


Gibran sangat berhati-hati dan siaga terhadap Adiba yang tengah mengandung bayi mereka.


"Sayang ingat ucapanku tadi!."


Gibran membacanya dengan sangat gamblang.


"Ya, aku mengerti."


"Bagus!."Gibran mencium pucuk kepala Adiba kemudian mengelus perut Adiba dan menciumnya.


"Ma aku titip Adiba."


"iya, mama pasti akan jaga menantu dan cucu mama ini dengan sangat baik" Alexa pun sangat antusias akan kehamilan cucu pertamanya.


"Aku pergi ma"


"Iya sayang hati-hati"


Gibranpun kini sudah menghilang bersama dengan Vino. Jika saja tidak ada meeting penting saat ini, dia pasti tidak akan melepaskan Adiba.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu Vin?."


Menikah bukanlah perkara yang mudah. Sebagai atasan dan teman yang baik, Gibran juga tidak ingin sekertarisnya ini mengambil tindakan yang akan ia sesali dimasa yang akan datang.


"Ya, saya sudah memutuskannya tuan." Jawab Vino mantap.


Hati dan fikirannya sudah diliput habis oleh Aisyah, gadis berusia 19 yang baru saja tamat SMA itu berhasil mencairkan hati Vino yang beku.


Meski kadang gila, tapi dia baik. Dia polos, apa adanya dan tidak menganggap dirinya tinggi. Sama persis seperti Nona muda.


Apa yang sudah menjadi milikku, takan kubiarkan seorangpun menyentuhnya.

__ADS_1


"Baiklah, kapan kau akan melakukan prosesi pernikahan."


"Saya akan melakukannya tuan. Tapi, jiga dia sudah benar-benar menerima saya."


Gibran mengerutkan dahi.


Menerimanya?


"Hahahahaha" Tawa Gibran menggema. Hubungan antar atasan dan sekertarisnya itu sepertinya semakin erat dan menghangat.


Vino tersenyum mendengar tuannya kembali tertawa lepas.


"Memangnya ancaman apa yang kau berikan kepada gadis itu!."


"Tidak ada!."


Haha, tidakmungkin kan dia akan terus mencium Aisyah jiga gadia itu berani menolak dirinya. Bisa hanvur reputasi seorang Vino yang terkenal dingin dan irit bicara itu.


"Hahahahaha" Lagi-lagi Gibran tertawa.


Vino hanya diam, membiarkan tuannya tertawa lepas. Ucapan tuannya memberikan ia sedikit tamparan.


Benar, seharusnya aku tidak memaksanya. Biarkan dia memilih keputusan nya sendiri.


"Baiklah, lakukan yang terbaik"


"Iya tuan, terima kasih"


Hening tidak ada percakapan.


Tak lama notif pesan masuk kedalam handphone Gibran.


"My love". Gibran sudah mengganti nama handphone Adiba yang tadinya ia namai gadis bodoh.


Adiba : Suamiku, apa boleh jika Aisyah mengunjungiku dirumah utama?.


Gibran tersenyum membaca kata suamiku.


kemudian meneliti kata demi kata yang Adiba di pesannya.


Gibran : Untuk apa dia mengunjungimu?


Adiba yang sedang membaca pesan Gibran pun merasa sangat jengkel dibuatnya. Padahal dia sudah sangat baik memilih-milih kata yang pas yang akan disampaikannya.


Tapi kenapa kingkong tua itu tidak mengerti juga.


Jika orang mau berkunjung, ya berkunjung lah main. Lalu apalagi?


Tak lama Gibran kembali mengirim pesan.


Gibran : Baiklah, kabari aku jika kau butuh sesuatu.


Adiba : Baik, terimakasih suamiku.


Gibran tak membalas, dia hanya teraenyum menatap foto Adiba bersamanya yang menjadi foto profil Adiba.


Tak lama kemudian mobil sudah tiba di loby perusahaan. Gibran keluar diikuti oleh Vino dibelakangnya.


Semua karyawan memberi sapa kemudian menunduk dharapan kedua pria tersebut.


"Vin, kau ikut denganku kerumah utama selepas kerja"

__ADS_1


"Baik tuan"


__ADS_2