PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Pingsan


__ADS_3

Tak lama


kemudian....


"Selamat siang kawan, kanapa lagi kau?"


Tanpa permisi


dokter Rino nyelonong masuk dan mengejutkan Gibran.


"Apa kau tidak mempunyai sopan santun hah?”


Tegas Gibran ketika sudah membalikan badan, menatap tajam Rino. Dokter pribadi


sekaligus sahabatnya tersebut


"Hey, hey. Kenapa marah? aku tidak mencuri dirumah platinummu ini"


Menjawab dengan


santai diiringi dengan cekikikan sedikit suara.


"Periksa dia"


Gibran


menggerakan tangannya menunjuk kearah Adiba.


"Hah?"


Dokter Rino


beralih menatap mengikuti arah pandang yang dutunjuk Gibran, matanya terbelalak


melihat gadis tengah berbaring dikamar sahabatnya.


"Cepat periksa!!" Suara Gibran


kembali dengan nada tinggi memerintah.


"Iya, iya aku periksa sekarang. Ternyata kau punya hoby baru ya sekarang,


membawa anak gadis kekamar." Ejek Dokter Rino sambil tertawa, tapi


Gibran tak menjawabnya dia hanya memasang wajah datar.


Aktifitas


Dokter Rino terhenti ketika hendak memegang lengan Adiba.


"Hey, apa yang kau lakukan?!!"


Gibran menepis


tangan Dokter Rin kasar.


"Hey ada


apa denganmu?”


“Hahaha, tenanglah. aku kan hanya mematuhi perintahmu untuk


memeriksanya tuan muda...!" Jawab Dokter Rino dengan menekan kata ‘tuan muda’ kemudian tertawa


terbahak-bahak melihat reaksi sahabat gilanya.


Mendengar hal


itu wajah Gibran langsunberubah merah, bisa-bisanya ia melakukan hal sebodoh

__ADS_1


itu.


bodoh, bodoh, bodoh! Apa


yang kulakukan tadi.batinnya


Gibran


melangkahkan kakinya keluar dari kondisi yang sangat memalukan dan merendahkan


harkat dan martabat seorang Gibran adelard Wijaya itu.


Memalukan!!!!.Umpatnya lagi dalam hati.


Dokter Rino


yang melihat reaksi sahabatnya itu semakin tertawa, tetapi ia tetap memeriksa


Adiba.


***


Dokter Rino


keluar kamar menemui Gibran dan sekertaris Vino yang sedang duduk di sofa yang


tak jauh dari kamar Gibran.


Melihat


kedatangan Rino, Gibran hanya memasang wajah yang sangat datar. Gibran sangat


malu dengan kejadian tadi, tetapi dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kondisinya baik-baik saja, ia hanya kelelahan


dan syok. kejadian apa yang


Vino meminta penjelasan.


"Bukan urusanmu!"


Jawab Gibran


secepat kilat sambil menatap Dokter Rino dengan mata elangnya


"Ahh yayaya" Memutar bola matanya


malas, karena sudah dapat dipastikan jika dia akan kalah tanduk jika berdebat


dengan seorang Gibran.


"Apa ada obat khusus untuknya"


Sekertaris Vino


menengahi bergelutan dingin itu.


"Tidak ada, ia hanya pingsan biasa. Jika sudah sadar beri saja ia vitamin, sudah


aku sediakan di atas nakas.” Jelas Dokter Rino


"Baiklah, terima kasih Dokter" Jawab


sekertaris Vino lembut dengan senyuman.


 


Namun dokter

__ADS_1


Rino tidak menjawabnya, pria itu menatap kepergian Gibran yang sedang berjalan


memasuki kamarnya.


Sadar dirinya


terus di perhatikan, Gibran berbalik.


"Kenapa masih disini? pergi sana!”


“Kau-“


“akan aku transfer uangnya." Jawab


Gibran ketus kemudian berbalik lagi tanpa menghiraukan wajah Dokter Rino yang


sudah merah.


Bukannya berterima kasih, malah nyelonong maen pergi aja.gue


sumpahin lu jadi bucin Gibran angkuh!!"


Dokter Rino


meninggalkan sekertaris Vino yang masih mematung di tempatnya. Ia melangkah


dengan senyum penuh kemenangan karena telah mengutuk sahabatnya itu, meski


hanya di dalam hati tentunya. Lagipula siapa yang tidak sayang nyawa, bukan?


***


Di dalam kamar


Adiba masih


dalam keadaan pingsan. Gibran menatap Adiba guna memeriksa keadaannya, ketika


dirasa ia baik-baik saja ia melangkah keluar lagi menghampiri sekertaris Vino


"Bawa semua dokumen tentangnya!" Titahnya


sembari melangkah ke arah lift.


"Baik tuan muda" Menunduk ketika


Gibran melewatinya dan langsung mengekor dibelakangnya.


Tingg


Pintu Lift


terbuka, tampak wanita paruh baya sedang duduk bersimpuh di dekat sofa sembari


memeluk bingkai foto.


"Hiks, hiks, hiks. Dia sudah menepati janjinya Mahendra. Tetapi aku tidak dapat membalas jasanya dan


putra kita malah membunuhnya"


Tangisnya pecah


mengingat masa lalunya.


"Mama!! bangunlah, kenapa duduk dilantai seperti ini?"


Berlari menghampiri Alexa dan memapahnya agar kembali duduk di sofa.


"janji apa maksudnya tadi ma?" menggenggam tangan sang mama

__ADS_1


dan menatapnya sendu.


__ADS_2