PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Extra part (Bryan vs Gibran)


__ADS_3

"Mas menyukainya?" Tanya Adiba antusias, matanya sudah membentuk pupple eyes yang sangat menggemaskan dimata Gibran.


"Ais kau ini mau aku memakanmu?"


Eh, kenapa dia marah?


"Mas! jangan macam-macam" Sahut Adiba awas ketika Gibran mulai mendekati wajahnya, bahkan tubuh pria kekar itu sudah condong siap menerkam istrinya.


Gibran tak menjawab, pria itu malah tersenyum seringai.


wajah mereka terus mendekat, semakin dekat hingga beberapa centi lagi bersentuhan.


eakkk eakkk eakkk


Tangis baby B terdengar nyaring, Gibran mengumpat putranya.


"Hey kau ini! ganggu saja."


"Kau sudah mengambil jatahku tadi, jadi diamlah. Sekarang giliranku" Ucap Gibran membuat Adiba berhasil membulatkan matanya terkejut.


Bisa-bisanya seorang ayah cemburu dan marah kepada putranya sendiri.


Baby B malah tertawa setelah mendengar umpatan ayahnya, membuat Adiba menahan tawa.


Sepertinya putranya memang mau mengganggu kingkong tua ini. Adiba semakin dibuat gemas oleh baby Bryan yang tertawa geli, pipinya yang gempul membuatnya semakin membuay daya tarik kepada siapapun yang melihatnya.


Dengan segera Adiba mengambil baby B dan menggendongnya. Sedangkan Gibran hanya terdiam tak senang menatap putranya yang lagi-lagi mendapat perhatian istrinya.


"Oh putraku, kau ini menggemaskan sekali" Ujar Adiba kemudian menciumi seluruh wajah Baby bryan. Baby Bryan semakin tertawa.

__ADS_1


Sepertinya bayi itu ingin membuktikan bahwa dia sudah menang bertarung dari ayahnya sendiri.


"Mas! lihatlah dia semakin tertawa ketika aku menggendongnya." Ujar Adiba senang.


Selesai menidurkan baby B, akhirnya Gibran mempunyai waktu berdua dengan istrinya. Sudah beberapa hari ini dia belum merasakan hal luar biasa itu, sekarang dia sangat rindu. pria itu sangat ingin merasakan hal itu sekarang.


Tanpa ijin sang empu, Gibran langsung menyerang Adiba yang baru selesai merapihkan tempat tidur putranya.


"Mphhh" Adiba memukul dada bidang suaminya.


Namun Gibran tak menggubris, pria itu malah lebih menikmati kegiatan mereka. Tangannya bahkan sudah memijat benda yang sedari tadi di hisap oleh putra mereka.


Nafas keduanya semakin memburu, Gibran sudah terpancing.


"Mas maaf!" Ujar Adiba setelah pautan mereka terjeda.


Wajah Gibran nampak sendu, dia mengerti jika luka Adiba belum lah sembuh.Tapi dia sangat menginginkannya, dia bisa gila jika harus menahannya lagi.


"Mas..." Adiba mengelus lengan suaminya. "Mas boleh melakukan sepuasnya jika ini telah selesai" Ujar Adiba penuh kelembutan.


Gibran terdiam untuk menimbang.


apa tadi dia bilang? sepuasnya? Baiklah! Gumam Gibramg senang. Tak apa dia menahannya sekarang asal dia bisa melahap istrinya itu dengan sepuasnya kan. Tapi,


"Berapa lama?" Tanya Gibran dengan nada dingin, dia ingin memperlihatkan rasa kecewa, namun dibalik itu sebenarnya dia sangat senang dengan ucapan Adiba tadi. Karna itu bisa menjadi senjatanya.


"Tiga b,,"


"Tiga hari, Oke deal!" Putus Gibran tanpa menunggu ucapan Adiba selesai.

__ADS_1


Baiklah, dia akan berusaha semaksimal mungkin menahannya selama tiga hari. meski baginya tiga hari sekarang berasa 3 tahun. Oke! tahan! demi sepuasnya. ingat! sepuasnya Gumam Gibran.


Adiba kembali terkejut, bagaimana bisa pria tua ini bodoh sekali. Siapa juga yang bilang tiga hari?. Ingin sekali dia memukul kepala Gibran dengan popok Baby B yang besar ini.


Eh, kingkong tua ini!!! aku belum selesai bicara!.


"Baiklah aku bisa menahannya jika hanya 3 hari." Lanjutnya.


"Eh mas!" Sahut Adiba sedikit berteriak karna Gibran terus saja berasumsi sendiri, membuat Adiba jengkel. Bahkan ptia itu sudah berdiri.


"kau berani ya sekarang!" Ujar Gibran dengan tatapan tajamnya kembali mendekati wajah istrinya. Pria itu mendekat sambil menahan hasratnya yang masih mode on. Dia sangat takut hilap, tapi dia ingin menakuti istri kecilmya itu.


Dia sangat kesal karna Adiba selalu saja membuat jantungnya berdegup kencang. Padahal gadis itu masih terlihat sesikit berantakan setelah bersalin, tapi wajah cantiknya selalu saja membuat juniornya melambung.


"Eh maaf mas" Jawab Adiba gugup, dia masih saja selalu deg degan jika Gibran berada di dekatnya.


"Maaf, maksudku bukan tiga hari" Lanjut Adiba takut-takuy.


"Oh maksudmu tiga jam, baiklah itu lebih senang bagiku" Jawab Gibran semangat. Senyumnya semakin mengembang. Pria itu kembali berdiri setelah mencium istrinya yang terkejut.


"Mas tunggu" Sahut Adiba ketika Gibran mulai melangkah.


Gibran berbalik menatap istrinya.


"Mak...maksudku tiga bulan" Lirih Adiba... Terbesit rasa bersalah karna tidak dapat melayani suaminya selama itu. Adiba sendiri tidak yakin Gibran dapat melewatinya. Secara, pria itu mesum akut! jalankan tiga bulan, setelah tiga jam saja dia pasti akan melakukannya kembali jika tidak ada pekerjaan kantor yang menganggunya.


Gibran yang tadinya mengembangkan senyum langsung layu, tangannya yang selalu berorot kini terlihat sayu tak bertenaga.


tiga bulan?

__ADS_1


"Aku bisa mati Adiba" Lirih Gibran menjatuhkan tubuhnya di samping Adiba. Wanita itu memeluknya, mengelus ngelus pundak suaminya.


__ADS_2