
"Apa kau tidak ingat namamu sendiri?" Tanya Keyla ramah. Ada rasa bersalah tersarang di benak Keyla. Karnanya Adiba mengalami kecelakaan. Tapi, bukankah itu bukan salahnya? Gibran sendiri yang memulainya.
Adiba menggeleng.
"Aku tidak tahu namaku aku juga tidak tau siapa kalian"
Keyla menghela nafas.
"Perkenalkan, namaku Keyla" Ucap Keyla sambil mengangkat tangan.
Adiba tersenyum menerima jabat tangan Keyla.
"Keyla.... kau istri tuan tadi?" Tanya Adiba.
Keyla nampak kesulitan menjawab. Wanita itu tampak meremas tas ransel brandednya, akhirnya Adiba pun memutuskan.
"Tidak apa apa, tidak usah dijawab jika kau tidak mau menjawab" Tutur Adiba lembut dibarengi dengan senyuman. Mencairkan suasana yang amat canggung.
Keyla nampak kikuk memandang Adiba. Nada dering ponsel Keyla menghalau kecanggungan di antara mereka. Tak lama kemudian Keyla pergi undur diri setelah menerima telpon dari seseorang.
Ditengah malam yang sepi, Gibran tak kunjung kembali. Hal itu memberikan kekuatan kepada Adiba jika Gibran tak menginginkannya lagi.
Adiba melepas semua alat yang menempel ditubuhnya, dia memanfaatkan kondisi sepi dan penjaga yang sedang tertidur. Adiba beranjak dan berjalan perlahan keluar.
Hati Adiba bergetar ketika melewati para bodyguard berbadan besar itu seperti melewati jalan sirotol mustakim.
"Aku harus pergi" Tekadnya kuat.
Ketidak hadiran Gibran membuktikan jika cinta Gibran kepadanya tidak lebih dari cintanya kepada Keyla, temannya.
Dengan langkah tertatih tatih Adiba berjalan sejauh mungkin dari sana, dari kenyataan pahit dan dari suaminya yang mencintai orang lain.
Bugh.
"Aw" Adiba mengusap ngusap jidatnya.
"Little girl?" Ucap pria itu spontan. Terpatri senyuman indah di wajah tampannya.
"Zein?" Lirih Adiba.
Kenapa pria baik ini selalu bertabrakan denganku
"Wah, apa ku bilang. Kita ini jodoh, buktinya aku selalu bertemu denganmu tanpa sengaja" Ucap Zein dengan pe de nya.
Adiba tidak memperdulikan ucapan Zein, matanya mengarah ke ruangan tadi. Takut jika bodyguard itu bangun dan mengejarnya.
"Hey kau kenapa?" Tanya Zein yang melihat Adiba nampak ketakutan
Adiba menatap Zein lekat. Haruskah ia meminta bantuan kepada pria ini? Jika Adiba meminta bantuan kepada Aisyah, Sekertaris Vino pasti akan mudah mengetahuinya.
"Kumohon bantu aku, bawa aku pergi jauh dari sini"
"Pergi? dari sini?"
Adiba mengangguk, hatinya gundah antara iya atau tidak atas keputusannya.
Entah masalah apa yang sedang dialami gadis cantik ini, bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Akhirnya Zein menyetujui dan membawa Adiba pergi dari sana.
__ADS_1
"Baiklah"
Zein membawa Adiba melewati pintu rahasia yang biasa di pakai petinggi Rumah sakit jika dalam keadaan darurat, membawanya kedalam mobil dan pergi dari sana.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi atas permintaan Adiba. Sesekali Zein mencuri pandang kepada wanita yang duduk di sampingnya. Matanya sayu, seperti banyak tanggungan di atas pundaknya.
Aksi Zein membuat Adiba sedikit tidak nyaman.
"Terima kasih"
"Untuk apa?" Jawab Zein tanpa menoleh, matanya kini fokus kedepan. Hal itu ia lakukan agar Adiba merasa nyaman dan mau berbicara
"Terima kasih karna mau membantuku"
"Dengan senang hati" Jawabnya lembut.
Hati Zein selalu berpacu kencang ketika melihat senyum manis Adiba. Tubuhnya panas dingin ketika bersentuhan dengan gadis yang amat dicintainga
"Apa aku boleh meminta sesuatu kepadamu?"
"Apa?" Sambar Zein bersemangat. Apapun pasti akan ku berikan.
"Tolong jangan beritahu tuan Gibran tentang keberadaanku"
"Memangnya kenapa? kau kabur dari tuanmu yang menjengkelkan itu ya" Jawab Zein sambil terkekeh, dia ingat ketika ingin membawa Adiba tapi tidak diizinkan oleh Gibran. Tapi sekarang, kita malah bertemu tanpa sengaja.
Jodoh memang tidak akan kemana. Gumamnya dengan seulas senyum.
Berbeda dengan Adiba, ucapan Zein mengingatkan Adiba kepada ucapan Gibran yang mengatakannya sebagai pembantu.
Zein yang melihat perubahan wajah Adiba ikut terdiam.
"Tidak apa apa" Ucap Adiba lirih.
Apa sebaiknya Zein tahu semuanya.
"Zein"
"Hmm?"
"Sebenarnya...."Suara Adiba tercekat. Adiba melihat Zein yang manatapnya lekat lekat menunggu ucapan.
"Sebenarnya apa?" Zein semakin penasaran
"Sebenarnya aku bukanlah pembantu tuan Gibran. Tapi aku istrinya." Ucap Adiba langsung menunduk malu.
"APA?!!!" Zein menginjak rem kuat kuat.
Zein mendekat meraih wajah Adiba.
"Little girl! itu tidak lucu"
Adiba tidak tau harus menjawab apa, dirinya hanya tertunduk. Tidak berani menatap wajah temannya yang kini terkejut sekaligus bingung.
"Katakan yang sebenarnya, apa masalah mu" Ucap Zein lembut, Adiba tidak kuat menahan bebannya lagi. Adiba tidak menjawab ucapan Zein. Air matanya menetes memberikan jawaban kepada Zein, betapa pahit kehidupan yang dijalaninya.
Zein langsung memeluk gadis tersebut, memberikan kenyamanan untuknya. Dia tidak habis fikir dengan Adiba dan Gibran. Jika Adiba memang istrinya? mengapa waktu itu Gibran mengakuinya sebagai pembantu? Zein mengepalkan tangannya, tangis Adiba menambah emosi Zein meningkat.
__ADS_1
"Tidak usah diceritakan, kau tenang lah dulu. Aku akan membawamu pergi jauh dari pria brengsek itu" Ucap Zein sambil mengusap lembut kepalanya.
Adiba mengangguk sambil menangis, dirinya sangat lelah dengan semua ini. Baru saja Adiba mendapatkan cinta suaminya dan sekarang cinta itu langsung lenyap seketika hanya karna wanita lain.
hampir 5 menit Adiba menangis dipelukannya, Zein melepaskan ketika isaknya sudah tidak terdengar.
"Selelah itukan kamu honey?" Lirih Zein mendapati Adiba yang tertidur dipelukannya.
Zein menposisikan Adiba agar bisa tidur nyenyak di dalam mobilnya. Mencuri curi pandanga dan mencium singkat keningnya. Betapa bersalahnya Zein, dia sampai tidak tahu beban yang selama ini ditanggung wanita tercintanya.
...---...
Gibran yang frustasi akan semuanya lebih memilih pulang ke apartment. Menenangkan hati disana ditemani oleh Sekertaris Vino.
"Tuan, anda sudah banyak minum"
Sekertaris Vino mengambil sebotol minuman yang berada di tangan tuannya.
"Jangan ikut campur kamu!!" Bentak Gibran sambil menepis tangan Vino yang tidak kena karna penglihatannya yang sudah kabur.
Sekertaris Vino menghela nafas. Membiarkan Gibran minum sampai kelelahan hingga akhirnya tertidur. Vino membawa Gibran ke kamar, membuka sepatu dan menyelimutinya.
"Aku rasa ada yang tidak beres" Gumam Vino sambil menutup pintu.
***
Keesokan harinya, menjelang siang Gibran baru terbangun karna pusing dikepalanya yang menyerang. Dia beranjak dengan langkah tertatih kedalam kamar mandi.
1 jam berendam membuat dirinya lebih fresh dan memutuskan mengakhiri kegiatannya.
Gibran berjalan ke ruang ganti, ada banyangan Adiba dan dirinya di sana. Adiba yang tidak sengaja melepas handuk karna kedatangannya yang tiba tiba membuat Gibran tertawa mengingatnya.
"Adiba!" Gibran baru ingat dengan istri yang ditinggalkannya dirumah sakit.
Dengan langkah cepat Gibran berganti pakaian, sekelebat kertas putih menarik perhatiannya. Kertas apa itu? Seingatnya dia tidak pernah menyimpan kertas apapun dikamarnya.Gibran meraih kertas tersebut dan membacanya.
Air matanya langsung menetes menatap selembar kertas ditangannya. Nama jelas tertera disana Ny. Siti Humaira Adiba Ahmad, usia kandungan dan gambar bayi yang baru sebesar biji polong.
Gibran mengusap setetes tinta tersebut dengan haru.
Bibirnya merekah mengucap syukur.
"Anakku" Lirihnya.
Gibran langsung menyingkirkan air matanya dan berlari menuju loby apartement. Dia ingin mengutarakan kebagiaanya sekarang. Jadi ini yang mau di ucapkan Adiba waktu iti?
Sungguh, bodohnya aku!! Jika saja aku memberikannya waktu meski hanya dua menit waktu itu. Aku pasti akan menjadi pria paling bahagia sekarang. Tanpa masalah Adiba kecelakaan dan hilang ingatan.
Aku harus berjuang, demi anakku dan demi istriku.
Aku harus berjuang membuat Adiba ingat kepadaku.
Aku juga harus berjuang membuat Adiba ingat jika dia sedang mengandung anakku. Gumamnya dengan semangat empat lima.
Tapi, anak yang di kandung Keyla? Lanjutnya
Akan kuurus nanti. Monolognya sendiri selama perjalanan sambil menggenggam kertas tersebut.
__ADS_1
Gibran tak henti hentinya tersenyum tawa membayangkan wajah putranya yang tampan dan cantik serta lucu. Dia tidak sabar ingin sampai rumah sakit dan mencium istrinya.