
Adiba kegirangan ketika mendapat izin dari Gibran. Pasalnya, mama Alexa keluar ketika mendapat kabar sahabatnya kecelakaan. Sedangkan Anna, dia sedang ada jadwal pemotretan hari ini.
Ingin sekali mama Alexa membawa serta Adiba sekaligus memamerkan menantu cantiknya. Tapi, kondisi kehamilan Adiba membuat mama Alexa mengurungkan niat demi kesehatan menantu dan cucu pertamanya.
"Maafkan mama ya sayang, mama harus pergi dulu sebentar"
"Iya ma, tidak apa-apa. Mama berhati-hatilah"
"Iya sayang, kamu juga kaga dirimu baik-baik ya"
"Iya, mama tidak perlu khawatir bukankah banyak pelayan disini. Akupun sudah mengundang sahabatku kemari. Boleh kan mah? "
"Tentu sayang, lakukan semua yang kau sukai. yang penting kau tidak lupa izin kepada Gibran"
"Baik mah, terima kasih"
Alexa tersenyum, mengelus perut Adiba dan mencium kening menantunya.
Kini, Adiba sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Aisyah. Dia sudah duduk diruang keluarga dengan cemilan yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampirinya.
"Permisi nona muda, seseorang mengaku sahabat Anda sudah ada di depan."
"Benarkah? suruh dia masuk"
Pelayan tersebut undur diri dan kembali lagi bersamaan dengan sahabatnya yang sepertinya terkejut dan masih tidak sadar.
"Aisyah!!! " Adiba berlari memeluk Aisyah.
Aisyah yang sedari tadi melamun karna takjub akan interior rumah utama kembali tersadar ketika Adiba memeluk dan memanggil namanya.
"Eh, apa kabarmu?."
"Baik, mari duduk"
"Wahhh enak ya tinggal dirumah gede kayak gini" Aisyah masih dibuat takjub.
"Hey, apa kau akan terus melihatnya dan mengabaikan bumil sepertiku" Adiba merajuk
"Hehe, bumil satu ini marah to? Baiklah maafkan aku. Bagaimana kabarmu adik bayi?."
"Aku baik tante" jawab Adiba mengikuti suara bayi, Aisyah terkekeh kemudian mereka bepelukan.
"Ba, dimana mertua dan adik iparmu?."
Adiba sudah bercerita banyak tentang keluarga Gibran.
"Mama sedang menjenguk temannya dan Anna, dia sedang pemotretan hari ini."
"Ohhh" Aisyah membulatkan mulutnya.
__ADS_1
"Dia pasti sangat cantik ya" adiba tersenyum. Anna memang cantik dan fashonable seperti Shella.
Tak ingin terus mengingat masa lalu, Adiba mengajak Aisyah untuk menonton sambil mengobrol hal hal menyenangkan selama meraka bersama dulu.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, seorang gadis cantik dan seksi terpaku di depan pintu utama kala mendengar suara tawa dua wanita di dalamnya.
"Ada siapa ya?."
Anna masuk ditemani dua pelayang yang membawa barang-barangnya.
"Hallo kak?."
"Anna kau sudah pulang" Adiba hendak berdiri.
"Kakak ipar, duduklah. aku yang akan kesana." Ucap Anna ramah, dia juga sangat menjaga kakak ipar dan calon keponakannya dengan sangat baik.
Anna menatap gadis yang berpenampilan tertutup seperti kakak ipar. Sepertinya mereka sahabat.
Aisyah terlihat canggung dengan kehadiran Adik ipar Adiba. Ditambah dengan kecantikan Anna yang membuat Aisyah insecure dan tahu diri.
Dia tersenyum kala Anna menatap hijab dan pakaiannya.
"Perkenalkan, dia sahabatku Aisyah. Aisyah, perkenalkan dia adik iparku yang cantik Anna" Adiba memperkenalkan dua gadis di depannya.
"Aisyah"
"Anna"
Anna kemudian ijin kekamarnya, meninggalkan Adiba dan Aisyah. Adiba memohon kepada Aisyah agar tidak pulang sampai sore, dan makan siang disini.
"Oke" Jawabnya semangat.
Setelah melaksanakan kewajiban dan makan siang. Mereka kembali bersenang-senang, mulai dari beecerita menonton dan memilih-milih nama yang pas untuk anak Adiba dan Gibran.
Aisyah lebih banyak diam ketika Anna ikut bersama mereka. sikapnya ia tunjukan agar tidak memalukan Adiba dan kelepasan bicara.
"Syah, bagaimana pernikahanmu dengan Sekertaris Vino" Tanya Adiba yang mengingat jika kepulangan Gibran sebentar lagi kemudian teringat juga kepada sekertaris suaminya.
Anna yang sedang minum pun tersedak. Aisyah khwatir dan menghampirinya.
"Apa kau baik-baik saja?. "
"Ya, terima kasih" menerima tissue yang Aisyah berikan, menatap wajah gadis itu berulang.
"Adik ipar, kau baik-baik saja?." Anna mengangguk menjawab pertanyaan Adiba.
"Sekertaris Vino akan menikah?." Anna bertanya tak pecaya.
Adiba dan Aisyah menatap Anna bingung.
Memangnya kenapa?
__ADS_1
"Iya, dia akan menikah dengan sahabatku Aisyah" Adiba tersenyum kenapa Aisyah yang kini sudah merah merona, entah benar atau tida keputusannya.
"Hahahahaha pria es batu itu mau menikah juga rupanya" Anna tertawa getir. Aisyah mengerti arti wajah Anna.
Kecanggungan diantara mereka sirna, ketika dua pria tampan berjalan menghampiri mereka. Gibran langsung duduk di samping Adiba sedangkan Vini berdiri tepat di samping tuannya.
"Kau sudah pulang?."
"Hmm" Gibran mengelus perut Adiba dan menciumnya.
Anna terus menangkap mata Vino yang terus saja menatap gadis tersebut.
Suasana ini sangat asing bagiku
"Aku permisi" Anna menatap wajah Vino lekat-lekat sebelum akhirnya pergi.
Kumohon tahan aku!
Anna pasrah dan masuk kedalam kamar, mengunci pintu dan menangis disana.
"Adiba aku permisi pulang. Ini sudah sore dan sebaiknya aku akan pulang sekarang" Ucapan Aisyah lebih formal setiap kali gibran ada ditengah-tangah mereka.
"Sayang, apa aku boleh meminta sekertaris Vino untuk mengantar sahabatku?. " Bukannya menjawab ucapan Aisya, Adiba malah bertanya kepada suaminya
Adiba, apa yang kau lakukan. Aku tidak ingin pulang dengan si ketek paus ini.
"Tentu saja"
"Sekertaris Vino, bisakah kau antar sabat dan calon pengantinmu pulang? " Adiba berusaha mendekatkan mereka, meyakinkan Aishah jika Vino adalah pria yang baik.
"Tentu saja"
Matilah aku.
Vino menatap Aisyah, seolah berkata
Ikutlah denganku.
Aisyah tidak ingin Vino terus menatapnya, kemudian mengikut Vino masuk kedalam mobil.
"Sayang, kau harus membayarnya"
Eh, bayar apa?
Gibran menggendong dan mencium bibir Adiba yang kenyal, menghiraukam kebingungan Adiba.
"Membayar, karena aku telah mengizinkanmu mengajak sahabatmu kesini"
"Hah?"
Gila ya! aku harus membayar sesuatu hal itu juga.
__ADS_1
Gibran seperti tidak lelah akibat kerjanya seharian ini, dengan sangat berhati-hati dan menggebu. Dia membuka satu persatu kain yang menempel ditubuh istirinya, menyalurkan hasrat yang ia tahan sejak pagi tadi.
"I love you" Ujarnya sambil terus menggerakan pinggulnya.