
Adiba berlari kelorong sepi, membiarkan gaunnya yang mewah menyeret lantai tanpa henti.
Adiba menangis tersedu-sedi disana, kesedihan dan kerinduannya tidak dapat ia tahan lagi sekarang. Hanya disinilah tempat ia bisa mengadu kesedihannya seorang diri, karna di Apartemen? Adiba tidak akan Gibran mengetahui kelemahannya.
Tubuhnya lunglai, air matanya terus mengalir.
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, mendekapnya dan memberikan kehangatan kepada tubuhnya. Adiba mengenal wangi maskulin ini. Gibran? ya suaminya menyusulnya berlari hingga ke lorong.
"Menangislah! jika itu membuatmu tenang."
Entah dari mana datangnya, tubuh dan otaknya tidak berjalan sama. Adiba membalikan badannya dan langsung memeluk erat tubuh suaminya. Tidak, tubuh pembunuh ayahnya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana hancur hatinya jika mengetahui orang yang menangkannya saat ini adalah pelaku nasib buruk dirinya sendiri.
Adiba menangis, menyembunyikan wajah basahnya di dada bidang Gibran. Menumpahkan seluruh kesedihannya yang sudah lama ia tahan.
-Maafkan aku. Batin Gibran sambil mengelus-ngelus pundak kecil istrinya.
Gibran dihantui rasa bersalah sekarang. apalagi melihat korbannya bukan hanya satu orang, anak dari korban yang kini menjadi istrinya pun ikut terkena dampaknya.
Lama menangis hingga akhirnya Adiba tertidur di pelukan Gibran. Gibran membopong tubuh Adiba dan membawanya cepat kedalam mobil.
Gibran membiarkan tubuhnya menjadi alas Adiba tidur, sekertaris Vino mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ke Apartemen."
"Baik tuan."
Sesampainya di Apartemen..
__ADS_1
Bi Lastri yang membukakan pintu Apartemen terkejut melihat majikannya di bopong entah tidur atau pingsan fikirnya.
"Nyo..."
Bi Lastri langsung menutup mulutnya ketika Gibran memberikan kode untuk Bi Lastri menutup mulutnya agar tidak membangunkan istrinya yang sedang terlelap tidur dipelukannya.
Gibran meletakan tubuh Adiba dengan sangat hati-hati di atas kasur diikuti oleh Bi Lastri dan Sekertaris Vino.
"Maaf tuan muda, meetingnya akan dimulai 30 menit lagi." Ujar sekertaris Vino mengingatkan.
Gibran keluar kamar karna tidak ingin membangunkan adiba yang masih menutup matanya diikuti oleh bi Lastri dan sekertaris Vino.
"Apa meetingnya tidak bisa diundur vin?"
"Tidak bisa tuan muda, Klien kita yang berasal dari italia sudah berada di perjalanan. Akan sangat disayangkan jika kita membatalkan kontrak kerja dengan mereka." Jelasnya lagi.
Gibran sangat enggan ke kantor hari ini, dia hanya ingin menemani Adiba melewati masa-masa sulitnya sekarang.
"Bi lastri!!" Tatapan tajam Gibran menciutkan nyali bi Lastri, dirinya gemetar seakan tengah menjadi terdakwa di persidanga.
"I_iya tuan?" Jawabnya pelan sambil menundukan kepalanya.
"Jaga nyonya Adiba! jangan pulang sebelum aku pulang." Ucap Gibran mengejutkan dirinya sendiri.
sekertaris Vino tersenyum mendengarnya, pasalnya Gibran baru kali ini memanggil nonanya dengan namanya.
-Aku memanggil nama gadis bodoh itu? apa yang kufikirkan? tidak! aku hanya kasian padanya. Batinnya menentang tindakannya.
__ADS_1
"Jika terjadi apa-apa terhadapnya, nyawamu taruhannya."
Ucap Gibran membuat bi Lastri menelan ludahnya dengan kasar.
"I_iiya tuan." Lirih bi Lastri
Gibran langsung beranjak meninggalkan Apartemen diikuti sekertaris Vino disampingnya untuk menemuin kliennya.
***
Adiba mengerjapkan matanya.
"Nyonya baik-baik saja?" Tanya Bi Lastri khawatir
"Iya, dimana suamiku?" Tanya Adiba sambil mengumpulkan nyawanya.
Bi Lastri tersenyum simpul mendengar nyonyanya berkata seperti itu. Selama bekerja, baru pertama ini dia mendengar Adiba memanggil dengan sebutan spesial seperti itu.
-Ish!!! memalukan sekali aku memanggilnya seperti itu. Ini gara-gara kingkong tua itu!!!. Umpat Adiba dalam hati.
"Mak_maksudku, dimana tuan?" Jawab Adiba terbata-bata.
"Tuan ke kantor, bibi disuruh menjaga nyonya disini" Jawab Bi Lastri.
"Adiba......!" Ralat Adiba.
"Iya, neng adiba.......!" Ucap Bi lastri ikut memanjangkan akhir kalimatnya membuat adiba tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1