PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
ke Apartemen


__ADS_3

"Cih! dia bahkan memberikan obat tidur kepada tuan muda agar bisa menemui kekasihnya." Maki sekertaris Vino.


**


sang surya mulai mengeluarkan sinarnya, memasuki setiap bagunan yang terhampar di bumi.


Adiba menggeliat ketika tidurnya mulai terganggu oleh sinar mentari yang mencuri masuk lewat celah-celah jendela.


"Aaaaaaaaaaaaa!!!!" Teriak Adiba ketika mendapati tubuhnya sedang di peluk seorang pria. Tangan kekarnya melilit di pingganya.


Gibran yang disuguhi teriak pagi pun ikut terbangun.


"Hey, apa kau gila ya!! diamlah" Balas Gibran belum sadar.


Gibran kembali dalam posisinya tetap memeluk Adiba malah lebih mendekapnya.


satu detik


dua detik


tiga detik


"Hey bodoh!! kenapa kau dikamarku hah


kau mau menggodaku lagi?" Bentaknya lagi ketika serpihan-serpihan nyawanya mulai kembali dan mulai sadar siapa yang berteriak tadi.


Gibran mengingkirkan tangannya dari atas perut Adiba dan mendorongnya.


"Auw." Ringis Adiba ketika tubuhnya kembali terjatuh kelantai.


"Ma_maaf tuan, maafkan saya.


saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Saya tidak tahu kenapa saya bisa tidur disini, padahal semalam saya tidur di kursi." Adiba menjelaskan.


Menghiraukan ucapan Adiba, Gibran langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Gibran sudah tahu siapa pelaku dibalik semua kegaduhan dipagi hari ini.


"Sekertaris sialan!!" Gumamnya kecil sambil membuka kimono handuknya.


Melihat Gibran yang tak menghiraukannya membuat Adiba sangat kebingungan.


"Siapa yang membawaku kesini?


aku masih ingat, semalam aku menangis di kursi pojokan ruangan tu." Adiba bermonolog sendiri sambil tangannya di simpan di dagu berfikir.


"Huft apa yang harus aku lakukan.


Tetap disini? Tetapi dia sendiri yang bilang tidak ingin melihat wajahku, ihh padahal aku juga tidak sudi melihatnya lagi


tapi kalau pergi? dia pasti marah juga karna aku tidak ijin.


Hihhh Tuan Gibran yanh terhormat!!! kau memang menyebalkan!" Gerutu Adiba


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Adiba membukanya dan sekertaris Vino datang membawa beberapa cover bag.


"Selamat pagi nona" Sapa Gibran senyum dia mengerti akan kebingungan yang menimpa Adiba saat ini.


"Pagi" Jawab Adiba tersenyum kembali.


"saya bawakan pakaian untuk anda dan tuan muda, satu jam lagi adalah keberangkatan anda dan tuan muda ke apartemen." Sekertaris Vino menjelaskan.

__ADS_1


Adiba hanya mengangguk


Ceklek


pintu kamar mandi terbuka, munculah makhluk paling sempurna fisiknya dimata para hawa.


Dadanya yang dibiarkan terlihat dan rambutnya yang masih basah membuat semakin sempurna ciptaan tuhan itu.


hanya satu hal yang mengganjal mata jika dilihatnya kurang sempurna, sorot matanya yang seperti laser kepada Adiba dan sekertaris Vino membuat bergidik ngeri dibuatnya.


Tetapi anehnya, Adiba tetap dibuat tersihir dipagi hari oleh pesonanya.


-His licik!


kenapa kau memberikan ketampanan kepada orang sepertinya ya Allah. Batin Adiba


Sekertaris Vino yang mengerti maksud tatapan Gibran hanya tersenyum dan semakin membuat geram Gibran.


"Selamat pagi tuan muda." Tersenyum kemudian membungkukan badan.


Gibran mengacuhkan sapaannya dan mengambil paksa paper bag yang masih berada digenggaman sekertaris Vino kemudian pergi lagi keruangan ganti.


"Silahkan masuk tuan. Mau saya buatkan kopi?" Tawar Adiba menghindari kecanggungan.


"Boleh nona. Terimakasih" Jawab sekertaris Vino sambil melangkah masuk.


Adiba masuk ke dapur membuatkan 2 kopi untuk suaminya dan sekertaris Vino.


Meski entah diminum atau tidak oleh Gibran, Adiba tetap membuatnya sebagai tanda menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Adiba membawa nampan berisi 2 kopi buatannya dan menyimpannya di atas meja.


Semerbak bau maskulin yang berasal dari tubuh Gibran membuat Adiba semakin terpana ketika Gibra semakin mendekat.


-Inikah laki-laki yang sudah mengucapkan ijab kobul untukku kemarin?. Batin Adiba tidak percaya.


-Tidak, tidak! dia sudah menghinaku kamarin. Tegas Adiba kepada hatinya.


Secepat kilat Adiba membuang mukanya kesamping memandang sekertaris Vino.


"Heh bodoh! apa yang kau lihat?" Geram Gibran karena pesonanya kalah membuat Adiba lebih memandangi sekertarisnya.


Adiba menunduk,


"Tidak ada tuan." Jawabnya pelan, Adiba menyadari kesalahannya telah menatap pria lain selain suaminya.


-Salah sendiri!! kau menghinaku! dan bukannya kau sendiri yang bilang tidak sudi melihat wajahku. Batin Adiba.


sekertaris Vino yang menonton drama pagi pasangan pengantin baru ini hanya tersenyum.


"Ganti pakaianmu!" Titah Gibran melemparkan satu paper bag kewajah Adiba.


Adiba menangkapnya dan langsung melangkah menuju kamar mandi.


Selepas Adiba menghilang,,,


Gibran menarik kerah kemeja sekertaris Vino dan membenturkannya ke tembok.


"Beraninya kau!! melakukan tindakan tanpa seijinku!!" Ucap Gibran marah.

__ADS_1


sekertaris Vino tertunduk menyadari kesalahannya.


"Maafkan saya tuan, lagipula nona Shella sudah terbukti bersalah. Maka dari itu saya rasa tuan membutuhkan seorang teman." Jelas sekertaris Vino


"Cih, sok tahu." Desis Gibran melepaskan cengkramannya.


"Lagipula semalam nona Adiba tertidur dikursi luar tuan, saya bingung harus membawanya kemana.


Tidak mungkin kan ditidurkan dikamar saya dan menguncinya. Goda sekertaris Vino


"Sialan!!! sadari batasanmu!" Geram Gibran mencengkram kembali kerah sekertaris Vino.


"Maafkan saya tuan muda." Sekertaris Vino menyadari ucapannya telah melewati batas.


"Siapkan mobil." Jawab Gibran menyingkirkan sekertaris Vino dari hadapannya.


"Baik tuan." Sekertaris Vino melangkah dan sebelumnya menatap kopi hangatnya yang baru saja disuguhkan.


-Hmmm kopiku, sampai jumpa. Batin Sekertaris Vino.


Gibran duduk di sofa dekat meja, sambil memijit dahinya. Betapa rumih kisah hidupnya belakangan ini, serpihan kejadian semalam kembali menyerang otaknya.


Tentang penghianatan Shella, pembunuhan Darren dan Ahmad dan pernikahannya dengan gadis yang sama sekali tidak dicintainya


Gibran melihat 2 kopi yang sudah disuguhkan. Tanpa berfikir lama Gibran menyeruput kopinya tanpa peduli siapa yang membuatnya, mungkin sekertaris Vino (pikirnya).


Kopi khas nya yang pahit sedikit menenangkan pikirannya, Gibran meraih ponsel dan melihat-lihat jadwal dan laporan keuangan perusahaan.


20 menit berlalu, Adiba datang dengan pakaian yang dibawa sekertaris Vino tadi.


terukir senyuman di bibir Adiba melihat Gibran meminum kopi buatannya.


Gibran yang menyadari kedatangan Adiba langsung berlalu keluar kamar hotel tanpa berbicara sepatah katapun, Adiba mengekori langkahnya dari belakang.


sekertaris Vino yang sudah menunggu sedari tadi membukakan pintu untuk kedua majikannya, roda empat yang mereka tumpangi mulai melaju dengan kecepatan sedang.


***


Dirumah utama.


Mama Alexa menyambut hangat kedatangan Gibran dan menantunya.


"Mama sangat merindukanmu." Ucap Alexa sambil memeluk Adiba.


"Adiba juga." jawab Adiba tersenyum


Gibran dan Anna yang melihatnya hanya acuh sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


"Apa kamu yakin akan tinggal di apartemenmu?" Tanya Alexa kepada putra kesayangannya ketika sudah melepaskan pelukannya.


"Iya ma" Jawab Gibran singkat.


"Baiklah, tapi kalian harus sering mengunjungi mama disini." Pasrah, karena Alexa sangat paham bagaimana keras kepalanya Gibran.


"Iya, kami pasti akan sering mengunjungi mama kesini." Jawab Adiba


Meski tidak rela kembali kehilangan sosok seorang ibu, Adiba tidak bisa menentang keputusan Gibran yang sekarang sudah menjadi suaminnya.


Sudah menjadi kewajibannya sebagau seorang istri untuk mengikuti kemanapun suaminya pergi.

__ADS_1


Meski Adiba ingat 3 bulan lagi dirinya akan diceraikan. Setidaknya Adiba sudah menjalankan amanat ayahnya dengan baik dengan menajdi istri yang baik.


__ADS_2