PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Membuntuti Bi Lastri


__ADS_3

Dengan sangat hati-hati Gibran meletakan Adiba yang sedang tertidur pulas diatas kasur. Menarik selimut dan mencium keningnya.


"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan membiarkan hal ini terulang lagi" Ucapnya sambil menatap wajah cantik istrinya.


Kemudian Gibran beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Air hangat, adalah tujuannya saat ini. Berendam dan menenangkan hatinya dari kejadian yang baru saja terjadi.


30 menit berlalu, Gibran baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya.


Gibran tersenyum, ketika mendapati Adiba masih tertidur pulas. Juniornya langsung mode on ketika melihat pakaian Adiba yang tersibak hingga memamerkan paha mulusnya.


Dengan cepat Gibran naik dan menghimpit tubuh Adiba yang masih tertidur.


Adiba langsung terbangun ketika percikan air dari rambut Gibran menerpa wajahnya.


"Kau sengaja menggodaku ya" Ucap Gibran berat dengan tangan yang sudah menelurusi paha Adiba.


Adiba yang mendapat serangan tiba-tiba dari Gibran langsung terlonjak.


"Apa maksudmu, aku ti--" Belum selesai Adiba menjawab, mulutnya sudah dilumat habis oleh Gibran yang sudah berada dalam mode on.


"Sayang,, kumohon lepaskan! bukankah kau baru saja mandi" Rengek Adiba sambil mendorong tubuh kekar suaminya, ketika tangan Gibran tak berhenti bermain-main didalam bajunya.


"Kau bilang apa tadi?" Gibran langsung sadar ketika Adiba memanggilnya dengan sebutan yang tak biasa.


Adiba tersenyum kikuk, dia sendiri tidak bisa mengontrol ucapannya. Bagaimana bisa mengeluarkan kata-kata aneh seperti itu.


"Sebut lagi atau ku hu--!"


"Sayang!" Jawab Adiba cepat. Daripada dihukum fikirnya.


Gibran tersenyum puas mendengar jawaban Adiba, kemudian menelusupkan wajahnya ke leher Adiba dan mencium aroma tubuh istrinya.


"Haha geli, kumohon lepaskan! aku belum mandi" Adiba mendorong tubuh suaminya sambil menahan geli.


"Baiklah, akan ku mandikan!" Jawab Gibran semangat dan langsung menggendong tubuh Adiba.


"Apa yang kau lakukan? aku bisa mandi sendiri" Protes Adiba.


"Kumandikan atau kuhukum?" Tanya Gibran dengan seringai tipis.

__ADS_1


"Ish kau ini licik sekali" Adiba mengerucutkan bibirnya dan dengan cepat dilahap oleh Gibran.


Adiba hanya pasrah dan membiarkan Gibran menggendong tubuhya untuk dimandikan.


Gibran meletakan Adiba di dekat wastafel dan mulai melucuti pakainnya satu persatu. Kini, Adiba sudah polos tanpa sehelai benangpun. Tapi Gibran tak kunjung memandikannya, Gibran menatap lekat tubuh Adiba seperti srigala yang siap menyantap mangsanya.


Adiba yang diperhatikan menjadi kikuk dan langsung menutup area terlarang dengan kedua tangannya.


Gibran yang melihat reaksi Adiba hanya tersenyum dan kemudian membuka handuk yang melilit di tubuhnya. Gibran kembali menggendong Adiba dan meletakannya di dalam bath up.


Awalnya mereka hanya mandi, serius mandi. Tapi, ketika Gibran menggosok badan Adiba tepat mengenai kaki membuat juniornya menegang, apalagi ketika tangannya semakin naik keatas membuat keringatnya semakin banyak.


Tanpa ijin dari sang empu, Gibran langsung mencium Adiba dengan lembut. Semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman yang berhasrat, Gibran memulai aksinya. Dia mulai memasukan junior miliknya yang dari tadi sudah dalam mode on dengan perlahan, membuat Adiba berdesah.


Gibran sengaja melakukannya dengan sangat perlahan, agar Adiba dengan jelas merasakannya.


Adiba yang sudah ikut berhasrat karna ulah Gibran mencengkram tangan Gibran agar mempercepat gerakannya. Gibranpun tersenyum penuh kemenangan, karena istrinya sangat menikmati sentuhan tiap sentuhannya.


Dengan senang hati, Gibran mempercepat goyangan pinggulnya membuat Adiba semakin menjerit sakit dan nikmat yang dirasakannya.


Tema awal yang ingin memandikan berubah menjadi hukuman malam ala Gibran. Deturan nafas memburu keduanya berpacu kencang bersama desahan-desahan Adiba, yang terdengar sangat merdu ditelinga Gibran


Di dapur.


Aisyah membantu Bi lastri menyiapkan makan malam untuk mereka. Lebih tepatnya Aisyah membuntuti Bi Lastri kemanapun dia pergi.


Aisyah sengaja berdekat-dekat dengan Bi Lastri agar pria mesum itu tidak berani mendekati dan menciumnya.


"Non, cari siapa?" Bi Lastri heran ketika melihat Aisyah yang celingak celinguk daritadi.


"Hm tidak! bukannya sudah waktunya makan malam. Kenapa tuan dan Adiba belum juga turun?" Jawab Aisyah mencari alasan, padahal dirinya bersiap siaga takut jiga Vino datang.


"Ah iya, sebentar bibi panggil dulu"


"Ikuttt..." Jawab Aisyah cepat karna tidak ingin ditinggal dan diterkam srigala.


"Ikut?" Tanya Bi Lastri semakin heran, ada apa dengan gadis ini.


Aisyah menganggukan kepala pelan.

__ADS_1


"Bai-" Belum selesai Bi Lastri menjawab Sekertaris Vino datang memotong ucapan Bi Lastri.


"Tidak usah! biar saya saja yang memanggilnya" Ucapnya tegas sambil menatap tajam kepada Aisyah.


"Baiklah tuan" Jawab Bi Lastri sopan.


-Cih dasar penakut! dia sengaja membuntuti wanita itu agar aku tidak mendekatinya. Batin Sekertaris Vino kesal.


Sekertaris Vino mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, baru saja dirinya hendak mengetuk pintu kamar tuannya. Terdengar suara-suara aneh dari dalam membuat Sekertaris Vino mengurungkan niatnya.


Sekertaris Vino langsung berbalik tanpa memanggil mereka yang entah sedang apa di dalam kamar.


"Tuan dan nona tidak akan ikut makan malam, antarkan saja nanti" Ucap Sekertaris Vino yang kemudian langsung duduk di meja makan.


"Ah, baiklah tuan" Jawab Bi Lastri dan langsung menyajikan makanan untuk Sekertaris Vino.


Aisyah tetap mengikuti Bi Lastri dari belakang seperti anak itik. Vino menatap tajam kepada Aisyah dengan tatapan sinis.


Tidak ada percakapan selama makan malam, Aisyah dan Sekertaris Vino hanya diam karna ada Bi Lastri yang berdiri disamping Aisyah karna permintannya.


"Bi?"


"Ya tuan?"


"Sampai jam berapa batas kerjamu?" Tanya Sekertaris Vino datar.


"Jam 8 malam tuan" Jawabnya hormat dan langsung mendapat serangan tajam dari Sekertaris Vino membuat nyali Bi Lastri menciut.


Bi Lastri menatap wajah Aisyah yang memelas dan Sekertaris Vino yang tajam.


-Ada apa dengan mereka. Batin Bi Lastri dan langsung memilih undur diri daripada nyawanya hilang.


"Baiklah, tuan nona saya permisi. Jika ada yang dibutuhkan bisa panggil saya" Ucap Bi Lastri dan langsung membalikan badan.


Aisyah yang merasa nyawanya terancam, langsung beranjak hendak pergi.


"Ah, makanku pun sudah selesai. Selamat malam tuan" Ujar Aisyah sopan dan langsung membalikan badan.


Sekertaris Vino semakin kesal ketika melihat piring Aisyah yang masih ada sisa makanan dan sengaja menghindar darinya.

__ADS_1


Dengan cepat Sekertaris Vino menarik lengan Aisyah dan membawanya masuk kedalam kamar mandi kecil yang terdapat di dapur.


__ADS_2