
"Maaf tuan, klien kita dari italia meminta untuk bertemu sekarang" Ujar Vino yang kini sudah membungkuk di depan tuannya.
"Sekarang?apa tidak bisa di undur vin" Gibran sedikit menahan emosi, pasalnya dia ingin menghabiskan waktu istirahatnya bersama Adiba.
"tidak bisa, beliau mengatakan akan memutuskan kontrak jika kita sampai tidak menemuinya." Jelas Vino membuat Gibran menghembuskan nafasnya kasar.
Gibran mengingat ngingat hal apa sehingga klien itu ingin bertemu dengannya sekarang juga, sepertinya tidak ada kesalahan sedikitpun. Karna Gibran sendiri yang turun tangan mempersiapkan segala kepentingan yang berkaitan dengan klien satu ini.
"Baiklah, aku akan bersiap" Putusnya.
Sekertaris Vino menundukan badannya kemudian beranjak pergi menunggu di ruang tamu.
"I am sorry, keep you guys waiting"
(Saya minta maaf, membuat kalian menunggu) Gibran memberikan senyum terbaiknya sambil menjabat tangan Mr. Alonzo dan sekretarisnya.
Mr. Alonzo menerima jabatan tersebut sambil tersenyum ramah.
^^^Gibran mengerutkan dahi, seperti ada hal yang tidak beres.^^^
"Its oke. I am meet you because something"
(Tidak apa-apa. Saya ingin bertemu denganmu karna ada suatu hal) Mr. Alonzo mulai membuka suara ketika mereka sudah duduk diruang meeting perusahaan Gibran.
"something?"
(suatu hal?) Gibran semakin dibuat keheranan. Pemikirannya banyak menduga duga kesana kemari.
"earlier, I apologize for bothering you."
(sebelumnya, saya minta maaf karena mengganggu Anda.)
Gibran mendengarkan dengan seksama.
"my wife is pregnant and she is craving right now, she craves to get involved directly in our hotel construction project"
(istri saya sedang hamil dan dia sedang ngidam sekarang, dia sangat ingin terlibat langsung dalam proyek pembangunan hotel kami)
Ucap pria berambut putih itu menjelaskan. Terlihat raut wajah tidak enak di wajahnga.
Gibran maupun Vino tersenyum ramah.
"Certain your wife can follow our project"
(Tentu, istri anda bisa ikut project kita) Jawab Gibran sambil tersenyum.
__ADS_1
Seketika pemikiran Adiba hamil melintas dikepalanya, Gibran mengkhayal ketika adiba ngidam ini itu kepadanya. Mendengar kata hamil, membuat Gibran ingin segera mempunyai anak dan menjadi seorang ayah.
Ayah? akankah dia mampu menjadi seorang ayah?
aku akan mempunyai projeck baru.
Gumamnya mengulum senyum.
"Are you sure?" Tanya pria itu kegirangan.
Yes, Sir."
"Thank you sir, thank you"
Raut wajahnya yang sudah bergaris menampakan kebahagiaan yang sempurna.
Sebahagia itukah akan menjadi seorang ayah?
Gibran ikut bahagia dapat membantu kliennya.
"Ngomong ngomobg berapa usia kandungan istri anda tuan?" Gibran mencoba mengakrabkan diri bersama kliennya. Tidak ada salah baginya belajar menjadi seorang ayah dari Mr. Alonzo
"Lima bulan, perutnya masih rata dan belum ada tanda kehidupan disana. Tapi saya sangat bahagia akan kedatangannya." Ujarnya.
Gibran dan Vino tersenyum menanggapi.
"Terima kasih tuan, terima kasih anda sudah mau mengabulkan keinginan istri saya. Dia pasti sangat bahagia."
"Sama sama" Jawab Gibran ramah.
"Baiklah jika begitu, saya permisi undur diri. senang bisa bertemu dengan anda tuan Gibran." Ucapnya langsung pergi ketika sudah berjabat tangan.
Gibran menghembuskan nafasnya lega.
ku kira ada masalah.
Vino mengamati wajah tuannya yang kelelahan akibat perjalan pulang tadi ditambah dengan perjalanan ke kantor hanya karna istri kliennya yang ngidam.
"Apa seribet itukan ngidam ibu hamil tuan?" Tanya Vino dengan tatapan fokus kedepan, tangannya sibuk dengan stir.
"Entahlah"
......---......
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di kediaman Gibran, Vino mengantarkan tuannya hingga kedepan pintu baru akhrinya dia pun kembali kerumahnya.
__ADS_1
Gibran menerobos masuk dengan sedikit terburu-buru, tujuannya hanya satu. Siapa lagi jika bukan Adiba, istrinya.
"Sayang?" Panggilnya karna tidak mendapati Adiba dikamar mereka.
"Sayang, kau dimana?" Sahut Gibran lagi, kakinya melangkah ke balkon.
Benar saja, istrinya sedang berdiri disana. Menatap sinar matahari yang sebentar lagi akan pergi.
"Kau itu membuatku khawatir." Ucap Gibran yang kini sudah menciumi area leher Adiba dengan tangan yang mendekap tubuh mungil Adiba.
"Kenapa kau tidak menyahut tadi" protes Gibran namun Adiba masih saja diam.
Adiba menghentikan gerakan tangan Gibran yang sudah tidak bisa dikondisikan.
"Jika aku tidak menyahut dan malah pergi memangnya kenapa?"
"Hey kau itu ngomong apa, aku tidak akan mengijinkanmu pergi dariku meski hanya sejengkal" Tegasnya semakin mempererat pelukan. seakan Adiba benar ingin pergi.
"Haha aku hanya becanda, kenapa kau semarah itu" Tawa Adiba terdengar merdu ditelinga Gibran.
"Kenapa kau meninggalkanku tadi" Suara Adiba tertahan seperti ingin menangis. Gibran merangkum wajah Adiba kemudian menciumnya.
Ketika Adiba terbangun dan tidak mendapati Gibran disampingnya membuat Adiba menangis tersedu-sedu. Entahlah kenapa, padahal biasanya tidak pernah manja seperti itu. Keinginan Adiba hanya satu saat ini, hanya ingin terus bersama suaminya.
"Maafkan aku, aku bertemu dengan klien penting tadi." Ucap gibran yang merasa tidak enak.
"Klien penting?" selidik Adiba. Adiba berubah menjadi lebih oper protektif sekarang.
"Iya sayang, aku bekerja kan hanya untukmu dan..." Suara Gibran terhenti.
"Dan apa?"
Adiba merasakan gerakan tangan Gibran diperutnya.
"Kenapa?"
"Aku ingin sesuatu dari sini" Tunjuk Gibran kepada perut Adiba.
"Kenapa?"
"Tentu saja aku ingin anak dari mu" Jawabnya dan langsung melahap habis bibir Adiba.
"Tap,,, tapi aku tidak ingin" Jawab Adiba disela ciumannya. Membuat Gibran menghentikan aktifitasnya dan menatap wajah tajam wajah istrinya.
"Aku tidak ingin menolaknya" Jawab Adiba menahan tawa membuat Gibran gemas melihat wajah Adiba yang menurutnya lucu.
__ADS_1
"Awas kau" Jawab Gibran tersenyum mesum dan langsung menangkap Adiba, membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memulai membuat projek barunya.