
Sekuat tenaga Adiba lepas dari cengkraman kingkong besar tua, kemudian berlari. Gibran mengejarnya, kemudian mereka main kejar-kejaran seperti anak kecil pagi ini.
HEP
Adiba kembali tertangkap oleh Gibran di pojokan ruang tv dan langsung mendekapnya, Gibran memeluk Adiba dengan sangat erat mendekap wajah Adiba kedadanya.
"Tuan kumohon lepaskan, saya susah bernafas. Tubuh anda terlalu besar seperti king..." Ucap Adiba berhenti ketika menyadari ucapannya yang salah.
Gibran melepas pelukannya dan menyentuh kedua pundak kecil Adiba sambil menaikan satu alisnya menatap wajah Adiba.
"Ah tidak,tidak. Maksudku....." Ucapan Adiba kembali berhenti memikirkan jawaban yang pas. Gak mungkin kan Adiba memanggil tuan di depannya ini dengan sebutan kingkong tuan. Bisa-bisa Adiba habis ditelan oleh kingkong tua dihadapannya ini.
"Kau"Ucap Gibran sambil menunjuk wajah Adiba
"Sudah berani ya sekarang!"Ucap Gibran serius.
Tanpa disangka secepat kilat Gibran kembali menggeliti perut Adiba membuat Adiba terkejut.
"Hahaha ampun! ampun tuan.
Aku tidak akan mengulanginya lagi." Pinta Adiba disela tawanya sambil melepas tangan Gibran yang sibuk menggeliti tubuhnya.
"Janji?"
"Ya, ya saya janji tuan." Jawab Adiba bernafas lega meski nafasnya masih ngos-ngosan.
Kemudian Gibran menarik tangan Adiba kembali menuju meja dapur.
"Kenapa anda belum bersiap tuan." Tanya Adiba sambil menyajikan bubur dihadapn Gibran.
"Kau tau aku sakit! aku akan cuti hari ini." Jawab Gibran santai.
Adiba menyerngitkan dahinya.
-Bukankah dia sudah sembuh? dia bahkan sudah bisa berlari mengejarku tadi. Batin Adiba
"Kenapa melamun? cepat suapi aku!" Tegas Gibran sammbil melipat tangan di dadanya.
"Hah?" Adiba terkejut.
"Cepat! kau mau jadi istri durhaka ya." Ancam Gibran.
"Tidak tuan." Jawab Adiba langsung memasukan bubur kedalam mulut Gibran yang sudah siap menerima makanan.
"Kau juga makan." Ucap Gibran disela makannya.
"Iya tuan, terimakasih.
Saya akan makan jika anda sudah selesai." Jawab Adiba
Dengan cepat Gibran menyentuh tengkuk Adiba dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajah Adiba dengan wajahnya kemudian langsung mentransfer makanan yang ada dimulutnya ke mulut Adiba.
Mata Adiba terbelalak melihat tingkah Gibran yang menurutnya aneh dan jorok. Sejenak mereka berdua terdiam, Adiba langsung menjauhkan wajahnya dan mengelap sisa makanan di bibirnya.
__ADS_1
"Cepat makan! atau mau kusuapi lagi dengan bibirku." Senyum jahil Gibran tersungging membuat Adiba bergidik ngeri
Adiba langsung melahap bubur dengan sendok yang sama.
-Lebih baik satu sendok yang sama daripada disuapi dengan cara aneh seperti itu. Batin Adiba
Gibran tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Adiba mengerucutkan bibirnya. Membuatnya semakin gemas dan imut di mata Gibran
"Aaa" Ucap Gibra sambil membuka mulutnya siap menerima suapan Adiba.
-Ish kau ini! dasar bayi tua. Batin Adiba kesal
Akhirnya Adiba dan Gibran selesai sarapan dengan sendok yang sama.
Adiba langsung beranjak membersihkan piring-piring bekasnya.
Gibran menatap lekat tubuh Adiba yang membelakanginya kemudian beralih ke foto besar yang terpampang jelas diruangan tv. Dengan sengaja Gibran tidak akan mencopotnya, dia ingin tahu sampai mana Adiba bertahan dengan kebohongan perasaannya.
Gibran kembali memeluk Adiba dari belakang yang sedang mencuci piring.
"Aku lelah! temani aku tidur!" Ucap Gibran
"Ya tuan, sebentar lagi selesai."
Tanpa menunggu selesai Gibran membopong tubuh Adiba dan meletakannya di atas kasur.
Tanpa banyak komentar, Adiba menatap lekat wajah tampan Gibran yang berada tepat di atas tubuhnya.
"Shit" Umpatnya sambil sekuat tenaga menahan hasratnya.
Gibran kemudian beranjak dan duduk di senderan ranjang.
"Apa yang kalian bicaran tadi?" Tanya Gibran datar
"Bicara? soal apa tuan?" Tanya Adiba tidak mengerti.
"Perihat foto besarku dan kekasihku." Jawab Gibran dengan menekankan kata kekasih ingin melihat ekspresi Adiba
Adiba termenung dan secepat kilat tersenyum lebar.
"Anda mendengarnya tuan?"
"Hemm"
"Tidak ada tuan, bi Lastri hanya bertanya siapa perempuan itu?"
"Terus" Tanya Gibran Antusias pura-pura tidak tahu, Gibran berharap Adiba cemberut bahkan menangis di pelukannya dan melakukan aksi protes untuk mencopot bingkai foto besar itu.
"Terus apanya?" Ucap Adiba bingung dengan Gibran sudah mendengarnya tapi tetap saja bertanya.
-Terus apanya? anda bilang anda mendengarnya. Batin Adiba kesal.
"lalu kau jawab apa?." Tanya Gibran menatap wajah Adiba.
__ADS_1
"Hem aku jawab tidak tau, mungkin sahabatnya." Jawab adiba jujur dengan wajah santainya
"Kenapa kau berbohong?" Menatap intens Adiba
"Maafkan saya tuan, saya hanya tidak ingin tuan di pandang jelek oleh orang lain karna menjalin hubungan dengan wanita lain setelah menikah." Jelas Adiba
-Cih! wajahnya biasa saja. Membuat Gibran kesal.
"Aku tidak menganggap sudah menikah! dan satu hal lagi aku tidak pernah menganggap kau istriku!" Tegas Gibran yang langsung beranjak ke kamar mandi
Hati Adiba kembali tersayat mendengar ucapan suaminya, yang terang-terangan tidak menganggapnya sebagai istri setelah dia berhasil merenggut kesuciannya.
Adiba duduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dadanya sangat sesak sekarang.
Adiba beranjak ke keruang tv sekedar menenangkan hati dan fikirannya, menonton tv kemudian tertidur.
***
Gibran yang sudah berendam di dalam bath up menghela nafasnya berat.
-Memangnya apa yang kuharapkan?. Batin Gibran frustasi kemudian memejamkan matanya menikmati aroma wangi yang semerbak dari sabun yang tertuang di dalam air hingga akhirnya tertidur.
Gibran sengaja berlama-lama di kamar mandi daripada terus menerus kesal dan melampiaskannya kepada Adiba, maka dari itu Gibran lebih baik menjauhinya.
*
Adiba terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu kemudian membukanya, seketika tubuh Adiba langsung terdorong karena tubuh Shella yang tiba-tiba menerobos masuk tanpa berkata.
Shella tersenyum bahagia ketika foto kebanggaannya masih terpampang jelas di Apartemen Gibran. Membuat Shella lebih percaya diri jika Gibran masih mencintainya.
"Sudah ku tebak" Senyum Shella tersungging menatap bingkai.
Adiba yang menyadari kedatangan Shella langsung pergi menjauh dari Apartement. Adiba yakin, jika Gibran sengaja memanggil kekasihnya karena Gibran sedang sakit dan ingin ditemani sekarang.
Adiba berlari menjauh dari Apartemen dengan mata yang sudah basah.
-Harusnya aku tahu diri. Dia tidak mencintaimu. Batin Adiba sambil berlari.
****
Hay, hay para readersku yang setia😍🤗
Terimakasih sudah mengikuti kisah novel ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen kalian mengenai novel ku ya, agar lebih semangat up nya.
Author menyapa ni, pengen tau yang baca novelnya darimana saja.
Sebutkan kota kebanggaanmu ya😘
Salah hangat Author
DARI BOGOR🤗
__ADS_1