PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
kekasih lama


__ADS_3

Keesokan harinya, Gibran menepati janji kepada Adiba. Gibran berangkat ke perusahaan terlebih dahulu sebelum ke lokasi bersama Adiba disampingnya. Gibran menggenggam tangan Adiba berjalan melewati para karyawan yang melihat mereka.


Banyak dari mereka yang terkejut ketika berpapasan dengan atasannya yang membawa seorang wanita. Tapi keterkejutan itu langsung sirna ketika melihat wajah datar yang menakutkan, membuat mereka langsung menunduk.


Para karyawati yang selama ini menyimpan rasa kepada atasan mereka langsung patah hati melihat kebersamaan Adiba dan Gibran. Ada pula yang merasa dirinya paling cantik, dia berfikir jika Adiba tidak pantas untuk Gibran yang sempurna.


Gibran nampak cuek dengan tatapan para karyawannya, . Sedangkan Adiba hanya menundukan pandangannya malu sambil mengikuti langkar kaki Gibran yang lebar.


"Selamat pagi tuan dan nyonya" Sapa sekertaris Vino yang sudah berdiri disamping pintu ruangan.


Gibran tersenyum kemudian meraih tangan Adiba membawanya masuk. Adiba mengikuti gerak Gibran dan duduk di sofa empuk yang terdapat diruangan tersebut. Adiba sempat tertegun melihat keindahan ruanganan tersebut.


Meja kerja yang di penuhi buku buku serta kursi informa yang hitam mengkilat. Gibran tidak duduk disana, melainkan menghampiri Adiba dan berjongkok di depannya.


Sekilas Gibran menatap Roy yang masih berdiri ditempatnya, Roy menunjukan jam tangannya seperti hendak menyampaikan sesuatu.


"Sayang, istihatlah disini terlebih dahulu. Aku ada meeting." Ucap Gibran lembut sambil membelai pipi istrinya.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu" Adiba meraih tangan kekar Gibran yang sedang membelai lembut pipinya.


"Tunggulah sebentar saja. Aku akan kembali dan mendengarkan semuanya." Jelasnya berusaha membujuk Adiba. Gibran terus saja melihat arloji mewah yang melilit di tangannya. Waktunya tidak banyak, investor semakin berdatangan mendengar project barunya yang menggiurkan.


"Tapii..."


"Setelah ini kita akan jalan jalan" Bujuk Gibran membuat Adiba langsung sumringah.


"Benarkah?" Wajahnya berbinar.


"Aku janji"


Gibran mencium lembut bibir Adiba membuat Adiba tersipu malu karena Gibran melakukannya di depan sekertaris Vino.


Sedangkan Vino hanya membuang muka dan mengingat ciumannya bersama Aisyah tempo hari.


Aku merindukan gadis gila itu. Gumamnya.


Adiba merelakan Gibran pergi berama dengan Vino, Adiba memilih berjalan jalan di sekitar ruangan dan membaca buku yang tersedia disana.


45 menit kemudian, Adiba sudah puas berkeliling diruangan suaminya yang terdapat di lantai paling atas itu. Hal itu membuatnya lelah menunggu Gibran yang tak kunjung datang hingga membuatnya tertidur.


Gibran yang baru tiba di ruangan tersenyum melihat istrinya tertidur dan tidak menangis lagi. Gibran mengelus lembut kepala Adiba.


"Suamiku" Adiba terbangun merasakan gerakan di kepalanya.

__ADS_1


Gibran tersenyum mendengar Adiba memanggil dengan sebutan kesukaannya. Suamiku


"Apa tidurnya sudah selesai tuan putri?" Ucapnya ramah, Adiba tersenyum bahagia melihat perubahan suaminya.


"Waktunya jalan-jalan"


Gibran membawa Adiba ke lokasi project baru agar Adiba dapat suasana baru disana meski dirinya harus eksra dalam menjaga istri kesayangannya.


"Pembangunan apa ini?" Adiba berjalan mengiringi langkah Gibran, matanya sibuk memotret semua infrastruktur yang belum jadi tersebut.


"Pembangunan hotel, ini adalah project baru di perusahaanku" Gibran menggenggam erat tangan strinya.


"Oh"


Gibran tersenyum melihat Adiba yang antusias melihat lihat, hingga tak sadar Adiba menarik tangan Giban menuju arah yang diinginkannya.


Sekelebat Gibran melihat wanita berpakaian dress berwarna peach, rambutnya pirang diikat seperti buntut kuda menampilkan lehernya yang putih dan jenjang. wanita tersebut melihat ke arah Gibran sejenak kemudian berjalan menuju pembangunan lantai 2.


Adiba tidak melihatnya, dikarnakan posisinya yang membelakangi Gibran. Adiba senang melihat objek objek unik yang terdapat disana, hingga tidak menyadari hal lainnya.


"Sayang, kau tunggu disini sebentar ya" Ucap Gibran, Adiba mengangguk patuh.


"Vino jaga istriku" Adiba tersenyum mendengar Gibran memanggil dan mengakui dirinya sebagai istri. Tidak seperti waktu itu yang menyebutnya sebagai pembantu ketika di tanya oleh Zein.


"Berhenti" Teriaknya.


Wanita itu tersenyum dan menghentikan gerakan tangannya. Membiarkan Gibran untuk ikut masuk.


Keyla menekan tombol 2 dan pintu lift pun tertutup. Hanya mereka berdua yang terdapat di lift tersebut.


Dengan cepat Gibran meraih tangan wanita itu dan memeluknya dengan sangat erat. Mengikis jarak di antara mereka, menghalau udara yang berada di antara mereka. dengan nafas yang menggebu gebu, Gibran memeluk erat tubuhnya.


Wanita itu hanya diam, tak menerima maupun menolak. Membiarkan tubuhnya berada di pelukan pria bertubuh gagah itu.


"Keyla, aku merindukanmu" Lirih Gibran semakin mempererat pelukan.


"Kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku" Tangannya menarik pinggan keyla agar semakin menempel kepada tubuhnya.


"Aku sampai mau mati mencarimu dan keluargamu"Ucap gibran.


Keyla hanya diam, membiarkan kesedihan bercampur kerinduan yang menyerang pria itu menggrogoti tubuhnya.


1 menit kemudian,

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak bisa menjelaskan apapun soal itu. Maafkan aku karna itu, tapi yang jelas aku dan kamu sudah menikah, kamu sudah mempunyai istri dan aku juga sudah men...."


Gibran mencium bibir keyla yang sedari tadi menjelaskan tanpa jeda. Sungguh, dirinya marah kepada keyla.


bertahun tahun Gibran mencari keberadaan Kekasihnya keyla dan keluarganya yang tiba tiba hilang. Waktu itu dirinya masih kuliah s3 di italia.


Gibran merasakan kembali bibir yang selama ini dirindukannya. Keyla merupakan kekasih yang sangat dicintai dan disayanginya.


Keyla tak memberontak. Jujur, dirinya juga merindukan pria ini. Pria yang sangat di cintainya dulu.


Ting.


pintu lift terbuka, namun sepertinya kedua kekasih lama yang sedang berciuman dan saling berbagi kerinduan itu enggan untuk beranjak dari posisinya.


Tapi tak di sangka, Adiba dan Vino sudah berdiri tepat di depan pintu lift.


Tubuh Adiba kaku, kaki kakinya lunglai tak bertenaga, hati dan nafasnya seperti berhenti saat itu juga. Air matanya sudah menetes semenjak bunyi Ting itu terdengar.


"Suamiku...." Lirih Adiba sangat pelan, lidah dan tenggorokannya sangat sakit tercekat. Air salivanya pun tak bisa ia telan.


Sama halnya dengan Vino yang terkejut dengan pemandangan di depan mereka.


Suara Adiba membuat Gibran langsung sadar dan melepaskan pautan mereka.


Adiba berjalan mundur ketika pria itu berbalik menampakan wajahnya dengan sangat jelas.Ya, itu Gibran pria itu benar benar suaminya.


Suaminya berciuman dengan wanita lain. Tidak! dengan temannya. Teman yang belum lama ia kenal di mall tempo hari. Adiba dapat melihat jelas wajah wanita yang kini berada di samping suaminya.


"Adiba" Teriak Gibran sambil mengejar Adiba yang kini sudah berlari menuruni tangga.


Vino masih terdiam menatap keyla yang hanya berdiam diri.


"Sayang, kumohon berhenti dengarkan dulu penjelasanku"


Adiba tak mendengarkan apa yang diucapkan pria itu. Adiba berlari sekencang kencangnya sambil menyingkirkan air matanya yang tak henti hentinya menetes.


Aku benci air mata ini.


Ya allahh...


"Adiba....!!!" Teriak Gibran menggema ketika mendapati Adiba yang terjatuh dan tergelinding di banyaknya anak tangga darurat.


"Sayang, bangunlah"

__ADS_1


__ADS_2