
Kemudian melanjutkan larinya ketika seseorang yang dikenalnya semakin menjauh.
"Aisyah!!!" Teriak Adiba membuat seseorang yang dikejarnya membalikan badan.
"Eh Adiba!!!" Jawab Aisyah kegiarangan dan berlari memeluk Adiba.
"Eh ni pengantik baru, gimana udah gitu-gituan belom? lama gak? berapa jam? dapet berapa ronde?" Tanya Aisyah antusias.
"His, apaansi!. Orang mah ya baru ketemu tu ditanyain kabar bukannya nanya yang aneh-aneh begitu." Jawab Adiba sambil memonyongkan bibirnya
"Hehe, gimana kabarnya?
cerita dong, biar tau ni tutorial cara bikin anak." Ucap Aisyah cekikikan.
PUK
Adiba menepuk dahi Aisyah menggunakan telapak tangannya.
"Ish, sakit tau." Protes Aisyah sambil mengusap-ngusap dahinya.
"Lagian mesum! kayak si tu..." Adiba tidak melanjutkan ucapannya.
-Duh ni mulut.. Gerutu Adiba dalam hati.
"Kayak siapa hayo... tuan muda mu yang gagah tu ya haha."Jawab Aisyah sambil menunjuk-nunjuk Adiba dengan jari telunjuknya.
"Gimana diranjang? gagah juga gak? Haha" Lanjut Aisyah lagi.
Wajah Adiba memerah seketika, Adiba berjalan meninggalkan Aisyah yang masih cekikian melihat reaksi Adiba.
"Eh tungguin." Teriak Aisyah sambil berlari mengejar Adiba.
"Hehe maaf maaf. Jangan marah dong" Pinta Aisyah sambil meraih tangan Adiba.
"Iyaya, awas begitu lagi." Ucap Adiba.
"Hehe iyaya gak bakal lagi." Jawab Aisyah sambil mengacungkan dua jarinya
"Oh iya, kamu disini juga?" Tanya Adiba antusias yang baru menyadari tujuannya.
"Iya, kan kita pernah cerita pengen kuliah disini." Jawab Aisyah tersenyum mengingat kenangan dulu.
"Oh iya, yuk bareng." Ajak Adiba
Adiba dan Aisyah berjalan masuk menuju ruang pendaftaran. Setelah selesai, mereka berjalan beriringan keluar area.
"Oh ya adiba, minggu besok resepsi wisuda"Ucap Aisyah
"Benarkah? secepat itu?" Tanya Adiba antusias.
Aisyah hanya menganggukan kepalanya. Mereka berjalan menuju tukang bakso yang berada dipinggir jalan.
"Mang baksonya dua ya." Pinta Aisyah
__ADS_1
"Siap neng." Jawab tukang bakso.
Mereka menyantap bakso dengan sangat lahap sambil bercerita kesana kemari. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16:00 adiba segera bergegas pulang.
"Syah, aku pulang duluan ya." Pamit Adiba terburu-buru
"Cie yang udah punya suami gak bisa lama-lama." Goda Aisyah.
"Aiysah!!!" Ucap Adiba penuh penekanan
"Hehe iyaya hati-hati." Jawab Aisyah
"iya, rumah kamu masih yang dulu kan?" Tanya Adiba membalikan badan.
"Iya, orangtuaku kan bukan pembisnis yang punya rumah dimana-mana. Tidak seperti tuanmu itu lho" Jawab Aisyah cekikan.
"Mulai lagi dah" Jawab Aisyah
Adiba berjalan kepangkalan ojek, tapi sayang semua tulang ojek sedang laris hari ini. Adiba melangkah dan memutuskan untuk naik angkutan umum.
"Apa masih lama pak?" Tanya Adiba khawatir ketika Angkutan umum yang ditumpanginya terjebak macet sedari tadi.
"Kurang tau neng, sepertinya ada kecelakaan di depan." Jelas pak sopir.
Adiba semakin cemas ketika melihat jam yang melilit di tangannya sudah menunjukan pukul 17:15.
-Semoga saja dia belum pulang. Batin Adiba
Lelah menunggu kemacetan di ibu kota, pukul 17:30 akhirnya Adiba sudah sampai di apartemen Gibran. Adiba berlari agar cepat sampai sebelum suaminya pulang.
BRUGH!!!
Adiba menabrak seorang pria, nasib baik mereka tidak jatuh. Hanya kehilangan keseimbangan sehingga adiba jatuh dipelukan si pria itu.
"Maaf, maafkan saya tidak sengaja"Ujar Adiba meminta maaf sambil melepaskan pelukan.
"Tidak apa-apa, apa kau baik-baik saja?"Tanya seorang pria yang menyentuh kedua pundak Adiba, sambil wajahnya yang di tengkukan melihat wajah Adiba yang menunduk membuatnya penasaran.
"Tidak apa-apa tuan terima kasih."Jawab Adiba menepis tangan si pria itu kemudian kembali berlari.
Si pria tersenyum melihat reaksi Adiba. Dengan Adiba menunduk dan tidak mau disentuh semakin penasaran dibuatnya.
Tok,,,tok,,,tok
Adiba mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan.
Adiba kembali mengetuk pintu dengan lebih keras agar terdengar oleh penghuni yang ada di dalam
"Bi," Sahut Adiba
CEKLEK
Pintu terbuka dengan sendirinya, Adiba melangkah masuk dengan sangat pelan dan tubuhnya gemetaran ketika melihat Gibran yang sudah berdiri membelakang sambil melipat tangan di dadanya.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan, tadi jalanan macet." Jelas Adiba menunduk menyadari kesalahannya.
Gibran berbalik, langsung mencengkram wajah Adiba dan mendorongnya hingga ke pintu
"Beraninya!! kau membuatku menunggu!!" suara Gibran menggelegar memenuhi ruangan tersebut.
"Maaf" Lirih Adiba sambil memejamkan matanya.
"Maaf? Tidak semudah itu.!"Suara Gibran tepat di telinga Adiba, membuat bulu kuduk Adiba berdiri.
Gibran mendekatkan wajahnya kewajah Adiba membuat Adiba mencengkram bajunya.
"Apa kau takut hah?" Tanya Gibran disela-sela permainannya ketika menyentuh pipi putih Adiba semakin membuat Adiba ketakutan.
Adiba tidak menjawab ucapan Gibran, Adiba hanya memejamkan matanya tidak berani melihat wajah suaminya.
Kesal karena tidak ada respom dari Adiba, Gibran melepaskan cengkramannya dan mendorong Adiba
"Siapkan air untukku." Ucap Gibran sambil berbalik.
"Iya tuan." Jawab Adiba
Adiba masuk ke kamar mandi menyiapkan air hangat dan menuangkan sabun khas mawar didalamnya.
Kemudian berjalan keluar menuju dapur dan memasak makanan kesukaan Gibran. Mereka makan berdua tanpa ada yang bersuara. Setelah selesai makan, Gibran berjalan menuju ruang tv memerima telpon ketika ponselnya berbunyi.
Adiba membereskan semua piring dan mencucinya, melihat Gibran yang sedang mengobrol dengan seseorang di telpon. Adiba tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Adiba masuk ke kamar membersihkan badan.
Terlalu fokus mencari piyama yang pas untuknya, Adiba sampai tidak menyadari keberadaan Gibran yang sedari tadi di belakang memperhatikan gerak geriknya.
Gibran tidak membuka suaranya, matanya terlalu fokus melihat pemandangan yang segar bagi matanya. Adiba hanya menggunakan handuk yang memperlihatkan betis dan leher adiba yang putih dan jenjang, Gibran sampai tidak fokus dibuatnya.
Tidak ingin si juniornya beraksi, Gibran pun mendekati Adiba.
"Apa yang kau cari"Suara Gibran tiba-tiba membuat Adiba terkejut dan melepas handuk yang di pegangnya jatuh.
Gibran menelan salivanya, matanya semakin terbelalak melihat tubuh kecil Adiba yang sempurna tidak dibalut dengan sehelai benang pun. Memperlihatkan gundukan besar yang pernah disentuhnya dan bagian-bagian tertentu yang sangat terisi dan terlihat masih kencang.
Tak kalah terkejut dengan Adiba, secepat kilat Adiba mengambil handuk itu dan memakaikannya kembali. Adiba malu setengah mati, ingin rasanya ia merendam wajahnya di bak mandi sekarang juga.
Kelakuan Adiba membuat junior Gibran berdiri, Gibran pun memalingkan wajahnya dan memberikan piyama doraemon favoritnya.
"Untukmu, pakailah"Ucapnya sambil berjalan keluar kamar.
Adiba menerima piyama yang diberikan kemudian berjalan di belakang Gibran dan mengunci pintunya. Adiba tidak ingin hal seperti tadi terulamg lagi, mau ditaruh dimana wajahnya.
"Aaaaa apa itu tadi? memalukan!!!" Teriak Adiba membuat Gibran yang mendengarnya geleng-geleng kepala.
"Gadis bodoh!" Jawab Gibran dari balik pintu yang mendengar teriakan Adiba.
"Baik, tenanglah Adiba!! dia suamimu!"Gumamnya sambil membuang nafasnya kasar
Adiba memakai piyama yang diberikan Gibran. Tidak berani bertemu dengan Gibran karena kejadian tadi, Adiba melambatkan pergerakannya membuat Gibran yang menunggunya di ruang tv menggedor-godor pintu kamar.
__ADS_1
"Hey bodoh!!! lama sekali si. Apa kau mati didalam?" Teriak Gibran dari luar.