PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
penjemputan part 2


__ADS_3

Adiba pergi


meninggalkan ruangan tersebut dengan sejuta pertanyaan di fikirannya.


Siapa dia?kenapa mengaku-ngaku sebagai calon suamiku? Jalankan calon suami aku bahkan tidak


mengenalnya.  ehh sebentar dia mau membawaku kemana?


Menatap pundak


lebar yang sedari tadi memunggunginya.


aaaaaa jangan-jangan dia orang gila, tapi


dari wajah dan cara berpakaiannya tidak mungkind ia orang gila. Tidak mungkin ada Orang gila setampan dia,


kan?


Banyak


pertanyaan di benak Adiba, Ia berlari mengejar pria itu mengimbangi langkahnya


yang lebar, meninggalkan Aisyah yang masih berdiri ditempatnya.


Disana tampak


dua orang pria berpakaian sangat formal kemudian menghampirinya.


"Permisi tuan, maaf anda siapa? mengapa mengaku-ngaku sebagai calon suamiku?”


Menatap pria tadi dan langsung menunduk karena melihat tatapan tajamnya.


"Perkenalkan nona, beliau Tuan Muda Gibran."


Pria disampingnya memperkenalkan.


Ya, dia adalah


Gibran Adelard Wijaya, putra dari Mahendra Adelard Wijaya dan Alexa Adelard


Wijaya, Lulusan S3 di universitas yang sangat bergengsi di Inggris. Keluarga


Adelard Wijaya memiliki banyak perusaan di bidang Pertambangan emas dan minyak


dan puluhan anak perusahaan di bidang properti, perhotelan dan mall yang


tersebar berbagai belahan dunia.


Ayahnya


Mahendra Wijaya sudah meninggal 2 tahun silam. ia mewarisi semua aset keluarga


secara utuh atas nama Gibran. Awalnya Gibran menolak menerima kekayaan ayahnya

__ADS_1


tersebut, dia ingin hidup mandiri dengan penghasilan atas kerja kerasnya


sendiri. Tetapi dengan sejuta rayuan dan drama sang mama akhirnya dengan berat


hati Gibran menerimanya.


"Tuan Muda Gibran?" Memberanikan


diri menelisik wajahnya.


"Kita langsung berangkat saja Vin."


Meraih tangan Adiba dan mengabaikan pertanyaannya, menariknya keluar menuju


tempat parkiran.


Mata Adiba


seakan mau keluar melihat tangannya disentuh. Refleks ia menepis tangan Gibran,


kulitnya yang telah bersentuhan dengan yang bukan mahram membuat Adiba merasa


bersalah.


"Kemana? tapi saya belum memberesken baju dan


buku-buku saya tuan."


tajam, sifat gadis itu membuat wajahnya merah.Beraninya gadis ini menentang


hingga menepis tangannya. Banyak perempuan diluaran sana yang menginginkan


disentuh olen seorang Gibran Adelard Wijaya. Mereka melakukan banyak cara untuk


mendapat perhatiannya dan Gibran hanya menganggapnya angin berlalu. tetapi ini?


Gadis kecil yang cupu ini beraninya ia menolakku.


"Tidak perlu nona, kita hanya pergi sebentar. Semua orang sudah menunggu"


 awab sekertaris Vino inisiatif ketika melihat


wajah tuan mudanya yang sudah merah menahan amarah karena sikap gadis itu.


Gibran kembali


meraih tangan Adiba dan mencengramnya dengan sangat kuat dan menariknya.


"Maaf tuan, tolong lepaskan tanganku. kita bukan mahram."


Lirih adiba


dengan mata yang sudah berkaca-kaca, cengkraman di tangannya terlalu kuat.

__ADS_1


Mendengar


perkataan Adiba, Gibran langsung melepaskan cengkraman itu. Menatap gadi situ


tajam kemudian berlalu meninggalkan Adiba dan sekertaris Vino. Adiba


menggenggam lengannya. Lengan kecil nan putih itu kini sudah berubah menjadi


kemerahan.


"Silahkan nona, kita hanya akan mengantar anda"


sekertaris Vino


merentangkan tangan kanannya memberi pentunjuk jalan.


Adiba melangkah


menuju arah yang di tunjuk, diikuti dengan sekertaris Vino di sampingnya. Setiba


di parkiran, Gibran menunggu di depan pintu mobil sport mewah berwarna hitam


yang sudah terbuka.


"Masuklah" Menatap wajah adiba


sekilas lalu memalingkan pandangannya ka arah lain dengan wajah datarnya.


"Tapi anda mau membawa saya kemana?"


Tangan Adiba


menyangga pada pintu mobil masih tidak ingin masuk.


"Tidak usah banyak bertanya!" Menjawab


dengan wajah datar.


"Saya tidak akan masuk sebelum anda menjawab


pertanyaan saya!" Suara Adiba sedikit meninggi karna kesal pertanyaanya


tak kunjung dijawab.


"Orang tuamu meninggal, kita ditunggu


dipemakaman sekarang!"


Menjawab dengan suara tak kalah meninggi, Gibran tidak suka mendengar seseorang


menentang setiap ucapannya apalagi membentaknya.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2