
"hahahaha" Tawa Shella menggelegar mengisi seluruh ruangan.
Biarlah dia harus melayani tua Bangka itu selama sepuas dia. yang terpenting dia sudah mendapatkan nomor Adiba atas bantuan pria bandot tua tersebut.
Tak lama seorang pria masuk kedalam ruangan dan duduk tepat di sampingnya. Shella beranjak dan dengan berani duduk diatas pahanya.
"Terima kasih" Ujar Shella sambil menyentuh kepemilikan si pria tua.
Pria itu hanya tersenyum, dia merasakan pelayanan yang diberikan Shella memang sangat memuaskan. Jadi dia memutuskan sedikit membantu gadis ini dan memberikan bayaran yang lumayan dari tubuhnya.
"Boleh juga" Ujarnya diiringi senyuman di bibirnya.
"Kau boleh meminta hal kecil lagi setelah ini" Lanjutnya diiringi seringai dibibirnya.
"Benarkah?"
"Ya, asal kau mau menjadi istri ke 5 ku hahahaha"
Shella menatap jijik pria tersebut.
Bisa bisanya pria itu menjadikannya jadi yang ke 5, jadi yang pertama pun Shella tidak akan sudi.
Tapi boleh juga, aku bisa kabur setelah itu.
"Baiklah" Jawab Shella santai, pria bandot tersebut langsung beranjak.
"Benarkah kau mau menjadi istri ke 5 ku?"
"Ya!" Jawaban Shella membuat pria tersebut semakin bersemangat
"dengan satu syarat" Ujar Shella dengan suara yang sangat seksual.
Shela semakin menekan kepemilikan si pria membuat pria tersebut mengerang tak karuan.
"Katakan! katakan saja yang kau inginkan!" Jawabnya terbata.
"Benarkah?" Shella membuka baju bagian atasnya hingga menyembulkan setengah bagian dari kedua aset nya.
Pria tersebut semakin panas dingin, dia semakin tidak sabar merasakan sensasi itu.
"Ya! cepat katakan aku sudah tidak sabar"
Shella tersenyum penuh kemenangan, semua pria ternyata sama saja. Akan luluh jika di suguhkan hal seperti ini.
"Bebaskan aku selama satu hari untuk bertemu dengan gadis itu"
"apa? tidak!" Jawabnya tegas. Bahkan dia sudah beranjak membuat Shella terjatuh. Pria tersebut menatap tajam kucing kecil yang sudah sebulan ini di peliharanya.
Shella menggigit bibir bawahnya takut. Pria bandot tua itu menyeramkan juga jika sedang mengamuk.
Shella memberanikan diri menarik tangan si pria agar duduk kembali, melihat si pria diam membuat Shella semakin jadi kembali duduk tepat di depan si pria.
"Kumohon, setelah itu akan aku berikan yang lebih dari ini"
__ADS_1
Shella bahkan menabrakan gundukan nya kepada wajah si pria, membuatnya langsung menurut dan berkata YA.
---
Di rumah sakit, Adiba masih terus menangis sambil menatap putranya.
Putranya telah lahir dari pernikahan ini, wajahnya pun sangat mirip dengan Gibran membuatnya enggan menyentuh Baby Brian.
Adiba menangis karena keputusannya. Dia merasa sangat kecewa terhadap Gibran, pria itu tega membunuh ayahnya dan juga menyembunyikan kebenarannya.
Ditengah kejadian, Adiba meraih ponsel yang tergeletak di lantai.
si pengirim memberikan alamat dan mengajak mereka bertemu. Entah siapa yang mengirimnya, Adiba tidak perduli. Yang terpenting baginya kebenaran akan hal itu.
Apa mama tau hal ini? Jika memang iya, kenapa mereka berbohong dan malah menikahkan kami? kenapa mereka tidak mengatakan kebenarannya.
Disaat suster sedang lengah, Adiba keluar mengendap endap dengan rasa nyeri di bagian intimnya yang masih luka. Dia ingin mencari tahu kebenaran nya.
Melewati suasana menegangkan, akhirnya Adiba telah tiba di taman dekat Rumah sakit tempatnya dirawat.
Adiba duduk disebuah kursi, sambil menimbang benarkah apa yang dilakukannya ini.
"Cepat juga kau sampai, wanita kampung!" Suara seseorang muncul dari arah belakang.
Tunggu, Adiba mengenal suara itu.
"Shella" Pekik Adiba, ketika yang datang adalah mantan kekasih dari suaminya. Adiba terkejut karena harus bertemu lagi dengan Shella.
Gadis itu berjalan menghampirinya bersama dengan beberapa bodyguard.
Tak ada pembicaraan, mereka terdiam menatap matahari yang sebentar lagi pergi.
"Haha kasian sekali ya, kau menikahi pria yang telah membunuh ayahmu sendiri" Cibir Shella to the point.
Deg
Adiba terdiam, ucapan Shella membuat sakitnya kembali terasa.
serpihan video kembali menyerang otaknya. Suara tembakan senjata api membuat Adiba tertekan.
"Apa ini?" Tanya Adiba ketika Shella melempar sebuah kotak.
"Bukalah!"
Kesedihan Adiba membuat Shella sangat puas, apalagi jika Adiba melakukan apa yang diinginkannya.
Adiba membuka kotak tersebut.
"Pistol" Pekik Adiba terkejut ketika membuka kotak yang diberikan Shella adalah sebuah senjata api.
"Untuk apa ini?" Tanya Adiba gugup, dia belum pernah menyentuh barang seperti ini sebelumnya.
bagaimana bisa dia mendapatkannya?
__ADS_1
"Haha, ayolah Adiba. Bunuh Gibran, balas kan dendam orang tuamu" Ujar Shella berapi-api.
Adiba membulatkan matanya.
"Tidak! aku tidak mungkin melakukannya." Jawabnya tegas.
Sekecewa apapun dia tidak mungkin melakukannya.
"Haha, kenapa? apa kau takut? kau takut membunuh pria yang telah membunuh ayahmu sendiri?" Shella mencoba memunculkan gemercik api ditengah tengah rumah tangga Gibran dan Adiba.
Adiba langsung terdiam, apa yang diucapkan Shella memang benar. Tapi,
"Apa kau juga tau penyebab kematian ibumu?" Ucapan Shella berhasil membuat Adiba tersadar.
"Ibu" Pekik Adiba semakin diingatkan kepada masa lalunya
"Kenapa dengan ibuku?"
Shella tertawa, wanita itu sudah mengetahui segala rahasia keluarga Adelard Wijaya atas bantuan pria bandot tua yang selama ini menjamahi tubuhnya.
Haha, tidak sia sia juga akau menghempaskan tubuhku diatas kasurnya.
Rasa penasaran Adiba memuncak ketika Shella malah menertawainya.
ada apa sebenarnya?
Kenapa dengan keluargaku?
"Karin ibumu yang bodoh itu, mati karena mendonorkan jantungnya untuk suamimu"
"Apa!" Adiba kembali dibuat terkejut mendengar hal yang diucapkan Shella.
Tapi benarkah?
Ibu?mendonorkan jantungnya.
Tapi, dia yang telah memberitahu kebenarannya padaku.
"Hahaha, lengkap bukan? Seorang suami membunuh kedua mertuanya sekaligus." Shella semakin puas, gadis itu mengatakan dengan gamblang tanpa memikirkan perasaan Adiba yang kini sudah menangis.
Ibu... Lirih Adiba.
Meski ibu tak pernah berlaku baik padanya, namun Adiba tetap sayang dan merindukan nya. Adiba bahkan pingsan ketika mendengar ibunya meninggal dunia.
Kekecewaan Adiba semakin memuncak, kebenciannya mulai timbul terhadap Gibran. Semua hal besar mengenai orang tuanya ditutup rapat oleh suaminya sendiri.
Dia membenci Gibran dan juga dirinya yang telah menerima pernikahan tersebut.
Adiba sangat membencinya.
Shella tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Adiba menangis dan membenci Gibran.
Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak boleh memilikinya.
__ADS_1
Tekad Shella kuat.
Tak jauh dari taman, seorang pria mengepal kuat dengan tatapan tajam membunuh. Rahangnya yang kokoh terlihat sangat jelas hingga suara gigit tercekat nya terdengar sangat menyeramkan.