
Semenjak kejadian di dalam mobil, Anna tidak berani lagi bicara bahkan mendekati Vino.
"Silahkan nona." Sekertaris Vino membungkuk setelah membukakan pintu mobil.
Tanpa menunggu jawaban Anna, sekertaris Vino langsung berbalik dan masuk kedalam mobil. Dia menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju kantor.
Semenjak Anna menyentuhnya, Bayangan wajah Aisyah yang menangis terus saja memenuhi fikirannya. Hal itu membuat Vino merasa bersalah dan gelisah. Padahal dia sendiri tahu jika Aisyah tidak mungkin melihatnya bukan?.
Semua orang tertunduk ketika sekertaris Vino mulai menginjakak kakinya diloby kantor, mengancingkan jas kemudian berjalan dengan gagah dan dingin memasuki ruangan.
Selain Gibran, Sekertaris Vino merupakan orang kedua yang palinh ditakuti diperusahaannya. sifat keras dan kejamnya bahkan melebihi tuannya.
"Selamat pagi tuan."
Sapaan serta salam tak ada satupun yang ia jawab, dia hanya fokus kedepan dan terus berjalan.
......---......
"Aku membencimu huuuu" Aisyah menangis pilu di depan danau. Dia tidak berani pulang kerumah dalam keadaan menangis.
Dia melempar siomay yang baru saja dibelinya dipinggir jalan. Bukannya dapat menikmati makanan kesukaanya, Aisyah malah disuguhkan hal yang menjijikan seperti itu.
"Aku benci! aku benci ketek paus sepertimu!!!!!!" Aisyah berteriak, mengeluarkan suaranya sekuat tenaga.
"Mppphhh, hahahahahaha" Seseorang tertawa terbahak-bahak sontak Aisyah menoleh dan mendapati pria tampan dengan jas putih melekat tubuhnya.
Aisyah menautkan kedua alis ketika pria itu tak kunjung berhenti dari tawanya. Lantas Aisyah mendekati pria itu.
"Apa kau gila?" Pria itu masih tertawa
"Dari penampilanmu kau sepertinya seorang dokter,,, Oh!!! atau kau seorang dokter gila dan sekarang kau malah jadi ikut-ikutan gila. Hahahaha" Ucapan Aisyah sukses membuat si pria diam.
Kurang ajar!
"Jaga ucapanmu! "Bentaknya.
Dasar pria!!! selalu saja membentak. Aisyah malas meladeni, lantas dia berbalik hendak pergi.
"Hey tunggu! "
"Ada apa? "
"Apa kau tadi benar-bebar mengucapkan kata ketek paus? "
Mati aku! dia mendengar teriakanku tadi.
"Iya memangnya kenapa? " aisyah berusaha bodo amat.
Pria itu kembali tertawa.
__ADS_1
"Dasar gila!! " Aisyah dibuat kesal dengan pria tak fikenalnya ini.
"Hahaha kau gadis yang gila! bisa-bisanya kau berpacaran dengan makhluk aneh seperti itu" ucapan pria itu sukses membuat Aisyah membulatkan matanya.
dasar bodoh! Pria itu salah faham akan kata-katanya.
"Dasar dokter gila!!! " Aisyah berteriak kemudian pergi meninggalkan pria yang masih tertawa itu.
gadis aneh!
Malam yang ditunggu akhirnya tiba, Sekertaris Vino telah datang ditemani Gibran dan Adiba. Sekertaris Vino yang hanya hidup sendiri meminta tuan dan nona untuk menemaninya.
Gibran dan Adiba pun dengan sangat senang hati menemani sekertaris Vino.
Kiriman buket bunga, paket makanan serta keperluan Aisyah sudah tiba dirumah mereka, orang tua Aisyah hampir tidak dapat menampung barang-barang kiriman calon menantunya yang begitu banyak.
Sekumpulan orang yang sedang duduk diruang tamu itu berbicara dengan hangat, ibu Aisyah antusias akan kehamilan Adiba. dia membayangkan jika putrinya pun akan hamil seperti Adiba.
"Sehat-sehat yo ndok" Wanita paruh baya itu mengelus perut Adiba dengan sangat hati-hati.
Adiba seketika ingin menangis, dia merasakan seperti sedang dikasihi oleh ibunya yang sudah lama meninggal. Gibran yang mengetahui hal itupun memeluk istrinya dan mencium pipinya.
"Kita akan kemakan ayah dan ibu besok" bisik Gibran berusaha membujuk istrinya yang hampir menangis.
Sekertaris Vino yang sudah memakai tuxedo hitam itu terlihat gelisah ketika sang pujaan hati tak kunjung keluar, semua orang yang hadir menyadarinya dan tersenyum.
"Tenanglah! ini bukan permasalahan saham yang aku serahkan padamu! " Gibran sedikit bercanda dan mengalihkan kegugupan sekertarisnya.
Huft, padahal aku sudah sangat menetralisir kegugupanku. Sayang! kau harus membalas semuanya. Seringai licik terbit diwajahnya yang tampan.
Semua orang tertawa kecil melihat reaksi pria tersebut. Hingga tiba ketika Aisyah keluar dengan tertunduk, Sekertaris Vino langsung berdiri dan tersenyum.
"Nak duduklah" Aisyah mengikut, duduk di samping ayah dan ibunya.
Adiba mengacungkan jempol menilai fashion Aisyah hari ini. Aisyah tersenyum, dia menggunakan gaun yang sebelumnya dikirim oleh calon suaminya. Meski ragu, Aisyah tetap memakainya untuk menghormati ayah ibunya.
Pembicaraan inti dimulai, Sekertaris Vino sudah bisa menetralisir kegugupannya. ditandai dengan jawaban setiap jawab yang ia ucapkan ketika ditanya oleh pihak perempuan.
Hingga pada kesimpulan, Sekertaris Vino menginginkan tanggal 12 untuk pernikahan mereka. terhitung seminggu dari hari ini.
"Bagaimana sayang, apa kamu ada saran untuk tanggal pernikahan kalian?" Ayah Aisyah menatao putrinya yang sedari tadi hanya menunduk.
"Pa, bu... " lirih Aisyah. Membuat hati Vino semakin berlarian cepat. Dia sangat takut jika gadis ini berubah fikiran dan menolak lamarannya.
"Ya sayang,?"
Belum sempat Aisyah menjawab Sekertaris Vino meminta izin untuk berbicara empat mata.
"Saya mohon ijin untuk berbicara empat mata dengan putri anda"
__ADS_1
"Silahkan," Ayah Aisyah memberi waktu.
Sekertaris Vino berdiri, menghampiri Aisyah dan menggenggam tangannya tanpa segan.
Menarik gadis yang sedari tadi tertunduk itu menjauh dari ruang tamu dan langsung mendekapnya. Aisyah tak menolak maupun menerimanya, bayangan kejadian itu terus saja menghantuinya.
Beberapa kali sekertaris Vino mencium pucuk kepala Aisyah dan menghirup aroma wangi tubuhnya membuat Aisyah lebih tenang. Dia juga menikmati pelukan mereka.
Vino meregangkan pelukan mereka, menatap wajah cantik calon istrinya.
"Ada apa hmmm? " Bertanya sangat lembut dan dengan jarak sangat dekat.
Aisyah tak menjawab, airmatanya malah keluar lebih dulu, sesuatu yang ia tahan dari tadi akhirnya keluar juga.
"Hey kenapa menangis?" Vino kembali memeluk gadis kesayangannya.
"Aku benci! aku benci! aku benci kamu!! huuuu" Aisyah menangis dipelukan Vino, memukul dada bidang itu dengan sangat keras.
Hati Vino bagai tersayat pisau tajam mendengar tangisan dan kata benci gadis yang dicintainya. Dia mengepal tangan hingga membuat tangannya memerah akibat kepalannya sendiri. seolah sedang menghukum dirinya sendiri yang sudah membuat wanitanya menangis.
"Katakan ada apa?"
Bukannya menjawab, Aisyah malah lebih menangis.
Kenapa cemburu semenyakitkan ini ya Allah.
Sekertaris Vino yang cerdas sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi. Dia merogoh kantong jasnya dan memberikan rekaman Video kebersamaannya bersama Anna pagi tadi.
Aisyah menolak, dia sudah sakit melihatnya dan dia tidak ingin melihatnya lagi.
"Sayang! lihatlah!! " Vino sedikit membentak ketika video langsung memutar kejadian yang sebenarnya.
Kejadian dimana sekertaris Vino menolak dan menyingkirkan tubuh Anna dengan kasar. ditambah kata penolakan dan pengakuan Sekertaris Vino yang tak lagi mencintai Anna.
Aisyah menatap wajah tampan calon suaminya.
Benarkah ini kebenarannya?.
Vino mengangguk, dia yang sudah sangat berpengalaman tentu sudah menyiapkan kamera diatas mobil untuk berjaga-jaga agar tidak ada kesalah fahaman dan benar saja itu sangat berguna.
"Ya sayang, itu yang sebenarnya" Vino berbicara sambil melap airmata Aisyah dengan ibu jarinya.
"Lain kali, kumohon percayalah padaku apapun yang terjadi" Aisyah merasa malu karna sudah menjudge calon suaminya dengan hal yang tidak-tidak.
Padahal dia sendiri tahu, kemarin malam Vino sudah jujur jika dia tidak lagi mencintai Anna.
"Maafkan aku" Aisyah menunduk
"Tidak apa" Vino kembali memeluk Aisyah dengan hangat. Memberikan kenyamanan padanya.
__ADS_1
Setelah Aisyah tenang, Sekertaris Vino mengajak Aisyah untuk kembali masuk dan menyetujui tanggal pernikahan mereka.