
"Apa
jadwalku hari ini?" Bertanya sambil terus melangkah keluar dari
Rumah sakit diikuti oleh sekertaris Vino.
"Jam
08:00 ada pertemuan dengan direktur Anak perusahaan X tuan muda." Jawab
sekertaris Vino.
"Kenapa
dengan perusahaan kecil itu?”
"Terjadi
konflik antara bawahan dan atasan, banyak karyawan yang melakukan unjuk rasa di
depan perusahaan." Sambil terus berjalan Sekertaris vino
menjelaskan.
"Bodoh!
apa saja yang dikerjakan direktur itu!" Dengus Gibran.
Mereka memasuki mobil sport mewah berwarna
hitam, Sekertaris Vino duduk dibelakang kemudi setelah menutup pintu tuannnya.
Mobil melaju memecah jalanan kota. Tak butuh waktu lama, kedua pria paling
berpengaruh di dalam bisnis tersebut disambut hangat oleh banyak karyawan. Meski
tidak ada satupun sapaan dari mereka yang dijawab, namun mereka sudah terbiasa
dengan hal itu.
Sosok Gibran yang memliki banyak kekuasaan
membuatnya sedikit angkuh, tegas dan sangat dingin. Tapi semua hal menakutkan itu
sirna seketika jika melihat wajahnya yang sangat tampan tak termaafkan.
Banyak karyawan wanita yang selalu terhipnotis
dengan keindahan wajahnya, berbagai cara mereka lakukan agar mendapatkan
perhatiannya. Mulai dari yang pura-pura pingsan, tersandung, bahkan rela
menjadi OG membuatkan secangkir kopi hanya untuk bisa melihatnya.
Tetapi tidak ada satupun yang diliriknya,
karena hanya Shella di dalam hatinya. Tatapan datar dan sikap dinginnya membuat
mereka kesal dan ketakutan, tetapi tetap saja mereka tidak menyerah.
Mereka memasuki lift khusus petinggi perusahaan
menaiki ruangan paling atas. setelah lift terbuka mereka di sambut oleh dua orang
karyawan cantik berpakaian formal minim sedang membungkukan badan memberi
hormat.
"Selamat
pagi pak." Sapa keduanya.
Dengan wajah datar dan penuh wibawa, Gibran
mengabaikan dan terus melangkah, belum sampai meraih handle pintu suara salah
satu dari mereka menghentikan langkahnya.
"Maaf
pak, didalam ada nona Shelaa ingin bertemu. Kita sudah melarangnya masuk tetapi
beliau memaksa dan mengancam akan membuat keributan." Ucap Gita
yang langsung menundukan kepalanya, sudah pasrah dengan apa yang akan
diterimanya karena sudah berani melakukan kesalahan.
Setelah kejadian di villa kala itu, Gibran
membuat peraturan baru melarang Shella masuk ke perusahaan tanpa seijinnya. Terdiam
sejenak, kemudian tanpa berkomentar ia langsung masuk keruangannya. Sekertaris
Vino yang dikenal lebih kejam dari Gibran jika menyangkut urusan tuan mudanya,
ia menatap tajam kedua karyawan itu sebagai tanda peringatan.
Tanpa menunggu lama sekertaris Vino menyusul
Gibran keruangannya.
"Tamatlah riwayatku" Ucap Gita dengan
wajah panik. Bagi Gita, wajah Sekertaris kompleks itu lebih menyeramkan
dibandingkan tuan Gibran.
__ADS_1
"Sudah,
kita akan keluar sama-sama." Ucap Nita sambik merangkul bahu Gita
yang ada disampingnya.
***
Di dalam ruangan.
Gibran mendorong Handle pintu, pandangannya
langsung menyapu ruangan mencari keberaan sosok yang di carinya. Tapi tidak
menemukannya, meja kerja dan sofa tamunya kosong.
"Dimana
dia." ucap Gibran dengan suara beratnya.
Gibran melangkahkan kakinya menuju ruang
istirahat pribadinya, dan benar saja Shella tengah berbaring di kasung king
size berwarna putih itu. Tanpa tahu malunya, Shella tidur dengan nyenyaknya
tanpa selimut. Pakaiannya yang sangat minim dan gerakan tidurnya yang tak
beraturan membuat gaun bagian pahanya tersibak.
Terlihatlah kaki jenjang dan kulit putih
miliknya, membuat Gibran kecil menegang. Nafasnya sudah memburu tak beraturan,
sangat terdengar di telinga Shella dari hembusan tiap hembusan yang dikeluarkan
ketika Gibran mendekatinya.
Tersungging senyum sinis diujung bibirnya, rencana
untuk menggodanya ternyata berhasil. sangat mudah membuatnya bertekuk lutut
didepannya.
Ternyata kau masih
sama saja seperti dulu.Batin Shella tersenyum penuh kemenangan.
Gibran semakin mendekati Shella dan duduk di
bibir ranjang, Gibran menyeka rambut hitam Shella yang menyibak di wajahnya
ketelinganya. sekejap dia menatap wajah itu lekat-lekat. Shella semakin percaya
diri ketika Gibran memperlakukannya demgan sangat lembut.
kecil Shella dengan sangat kuat.
"Kau
fikir caramu ini bisa membuatku memaafkanmu hah?." Ucap Gibran dengan
wajah yang sangat memerah.
Sikap Shella membuat Gibran sangat berhasrat,
tapi seketika ingatannya kembali sadar perihal penghianatan itu, nafasnya kian memburu
akibat amarah yang ia tahan. Adegan tiap adegan Darren dan Shella waktu itu
terus mengganggu fikirannya.
"Auw,
hany sakit. Hiks, hiks." Shella meringis kesakitan.
Gibran langsung melepaskan cengkramannya dan
beranjak berdiri dengan tatapan tajam dan wajah datarnya.
"Pergilah
jika tidak ingin mati ditanganku." Peringatan Gibran dengan nada
penuh penekanan.
Tanpa menunggu jawaban, Gibran langsung pergi
meninggalkan Shella yang masih meringis kesakitan sambil memegangi dagunya yang
merah karna cengkraman Gibran. Sekertaris Vino menunggu didepan pintu, melihat
Gibran keluar dengan wajah penuh amarah langsung membuntutinya.
Gibran duduk di bangku kebesarannya, menyenderkan
kepalanya dengan kedua tangan yang menjadi bantal.
"Tiga
menit lagi pertemuan dengan direktur X tuan muda." Ucap sekertaris
Vino mengingatkan.
"Sial!!!
dia hanya membuang waktuku, siapkan semua dokumennya. Aku akan segera keruangan rapat."
__ADS_1
Ucap Gibran dengan mata yang masih tertutup.
"Baik tuan." Sekertaris vino
langsung melangkah keluar mengambil berkas yang dibutuhkan.
Ketika melewati bangku karyawan tadi,
Sekertatis vino berhenti dengan tatapan tajamnya membuat nyali karyawan itu
menciut.
"Sekali
lagi kalian membuat kesalahan, akan ku kirim kalian ke pulau terpencil."
Ancam sekertaris Vino
"I-iya
pa" Jawab mereka menunduk dan badan yang sangat bergetar.
"Serahkan
file itu!" Titah sekertaris Vino
"I-iiini
tuan." Gelagapan dengan tangan gemetar Gita menyerahkan file itu.
Dengan sigap sekertaris Vino keluar menuju
ruangan rapat di susul oleh Gibran dengan wajah yang sudah terlihat sangat rapi
dan fresh.
***
Ketika rapat selesai Gibran kembali
keruangannya. Sebelum Gibran tiba, sekertaris Vino sudah memastikan wanita itu
telah pergi dan tidak membuat kekacauan lagi.
"Apa
lagi setelah ini." Tanya Gibran setelah selesai membaca dan
menandatangani setumpuk kertas diatas mejanya.
"Tidak
ada tuan." Jawab sekertaris Vino.
Seketika otaknya teringat kepada gadis kecil
licik yang memakai baju tidur.
"Jemput
gadis itu!" Titah Gibran
Hah? mau apa?. Batin sekertaris Vino dengan penuh
pertanyaan.
sekertaris Vino
tidak menjawabnya ia hanya menatap Gibran apa telinganya yang salah mendengar.
"Kenapa
melihatku? Sudah bosan hidup? Cepat
jemput dia!! aku tunggu di mall X." Ancam Gibran.
"Baik tuan muda" Jawab sekertaris
Vino
****
Sekertaris Vino membukakan pintu mobil untuk
Adiba. Adiba yang masih bingung mengapa dibawa kesini hanya mengikuti langkah
sekertaris Vino. Mereka memasuki toko pakaian muslim terbesar di kota X. Adiba
menatap penuh kagum dan berbinar-binar melihat puluhan bahkan ratusan gamis
elegant yang berjajar rapi disana.
Mata binar Adiba secepat kilat berubah ketika
melihat wajah datar sang pencuri bibir sucinya itu ada disana. Adiba
berpura-pura tidak melihatnya dan kembali melihat pakaian muslim yang terpajang
rapi itu.
"Bungkus
semua baju itu." Ucap gibran menunjuk arah jejeran baju muslim yang
di tatap Adiba.
Eh tuan! Kau fikir ini ikan asin. Maen beli
__ADS_1
semua.