PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Berbelanja part 1


__ADS_3

"Apa


jadwalku hari ini?" Bertanya sambil terus melangkah keluar dari


Rumah sakit diikuti oleh sekertaris Vino.


 "Jam


08:00 ada pertemuan dengan direktur Anak perusahaan X tuan muda." Jawab


sekertaris Vino.


 "Kenapa


dengan perusahaan kecil itu?”


 "Terjadi


konflik antara bawahan dan atasan, banyak karyawan yang melakukan unjuk rasa di


depan perusahaan." Sambil terus berjalan Sekertaris vino


menjelaskan.


 "Bodoh!


apa saja yang dikerjakan direktur itu!" Dengus Gibran.


 Mereka memasuki mobil sport mewah berwarna


hitam, Sekertaris Vino duduk dibelakang kemudi setelah menutup pintu tuannnya.


Mobil melaju memecah jalanan kota. Tak butuh waktu lama, kedua pria paling


berpengaruh di dalam bisnis tersebut disambut hangat oleh banyak karyawan. Meski


tidak ada satupun sapaan dari mereka yang dijawab, namun mereka sudah terbiasa


dengan hal itu.


 Sosok Gibran yang memliki banyak kekuasaan


membuatnya sedikit angkuh, tegas dan sangat dingin. Tapi semua hal menakutkan itu


sirna seketika jika melihat wajahnya yang sangat tampan tak termaafkan.


 Banyak karyawan wanita yang selalu terhipnotis


dengan keindahan wajahnya, berbagai cara mereka lakukan agar mendapatkan


perhatiannya. Mulai dari yang pura-pura pingsan, tersandung, bahkan rela


menjadi OG membuatkan secangkir kopi hanya untuk bisa melihatnya.


 Tetapi tidak ada satupun yang diliriknya,


karena hanya Shella di dalam hatinya. Tatapan datar dan sikap dinginnya membuat


mereka kesal dan ketakutan, tetapi tetap saja mereka tidak menyerah.


 Mereka memasuki lift khusus petinggi perusahaan


menaiki ruangan paling atas. setelah lift terbuka mereka di sambut oleh dua orang


karyawan cantik berpakaian formal minim sedang membungkukan badan memberi


hormat.


 "Selamat


pagi pak." Sapa keduanya.


 Dengan wajah datar dan penuh wibawa, Gibran


mengabaikan dan terus melangkah, belum sampai meraih handle pintu suara salah


satu dari mereka menghentikan langkahnya.


 "Maaf


pak, didalam ada nona Shelaa ingin bertemu. Kita sudah melarangnya masuk tetapi


beliau memaksa dan mengancam akan membuat keributan." Ucap Gita


yang langsung menundukan kepalanya, sudah pasrah dengan apa yang akan


diterimanya karena sudah berani melakukan kesalahan.


 Setelah kejadian di villa kala itu, Gibran


membuat peraturan baru melarang Shella masuk ke perusahaan tanpa seijinnya. Terdiam


sejenak, kemudian tanpa berkomentar ia langsung masuk keruangannya. Sekertaris


Vino yang dikenal lebih kejam dari Gibran jika menyangkut urusan tuan mudanya,


ia menatap tajam kedua karyawan itu sebagai tanda peringatan.


 Tanpa menunggu lama sekertaris Vino menyusul


Gibran keruangannya.


 "Tamatlah riwayatku" Ucap Gita dengan


wajah panik. Bagi Gita, wajah Sekertaris kompleks itu lebih menyeramkan


dibandingkan tuan Gibran.

__ADS_1


 "Sudah,


kita akan keluar sama-sama." Ucap Nita sambik merangkul bahu Gita


yang ada disampingnya.


***


 Di dalam ruangan.


 Gibran mendorong Handle pintu, pandangannya


langsung menyapu ruangan mencari keberaan sosok yang di carinya. Tapi tidak


menemukannya, meja kerja dan sofa tamunya kosong.


 "Dimana


dia." ucap Gibran dengan suara beratnya.


 Gibran melangkahkan kakinya menuju ruang


istirahat pribadinya, dan benar saja Shella tengah berbaring di kasung king


size berwarna putih itu. Tanpa tahu malunya, Shella tidur dengan nyenyaknya


tanpa selimut. Pakaiannya yang sangat minim dan gerakan tidurnya yang tak


beraturan membuat gaun bagian pahanya tersibak.


 Terlihatlah kaki jenjang dan kulit putih


miliknya, membuat Gibran kecil menegang. Nafasnya sudah memburu tak beraturan,


sangat terdengar di telinga Shella dari hembusan tiap hembusan yang dikeluarkan


ketika Gibran mendekatinya.


 Tersungging senyum sinis diujung bibirnya, rencana


untuk menggodanya ternyata berhasil. sangat mudah membuatnya bertekuk lutut


didepannya.


 Ternyata kau masih


sama saja seperti dulu.Batin Shella tersenyum penuh kemenangan.


 Gibran semakin mendekati Shella dan duduk di


bibir ranjang, Gibran menyeka rambut hitam Shella yang menyibak di wajahnya


ketelinganya. sekejap dia menatap wajah itu lekat-lekat. Shella semakin percaya


diri ketika Gibran memperlakukannya demgan sangat lembut.


kecil Shella dengan sangat kuat.


 "Kau


fikir caramu ini bisa membuatku memaafkanmu hah?." Ucap Gibran dengan


wajah yang sangat memerah.


 Sikap Shella membuat Gibran sangat berhasrat,


tapi seketika ingatannya kembali sadar perihal penghianatan itu, nafasnya kian memburu


akibat amarah yang ia tahan. Adegan tiap adegan Darren dan Shella waktu itu


terus mengganggu fikirannya.


 "Auw,


hany sakit. Hiks, hiks." Shella meringis kesakitan.


 Gibran langsung melepaskan cengkramannya dan


beranjak berdiri dengan tatapan tajam dan wajah datarnya.


 "Pergilah


jika tidak ingin mati ditanganku." Peringatan Gibran dengan nada


penuh penekanan.


 Tanpa menunggu jawaban, Gibran langsung pergi


meninggalkan Shella yang masih meringis kesakitan sambil memegangi dagunya yang


merah karna cengkraman Gibran. Sekertaris Vino menunggu didepan pintu, melihat


Gibran keluar dengan wajah penuh amarah langsung membuntutinya.


 Gibran duduk di bangku kebesarannya, menyenderkan


kepalanya dengan kedua tangan yang menjadi bantal.


 "Tiga


menit lagi pertemuan dengan direktur X tuan muda." Ucap sekertaris


Vino mengingatkan.


 "Sial!!!


dia hanya membuang waktuku, siapkan semua dokumennya. Aku akan segera keruangan rapat."

__ADS_1


Ucap Gibran dengan mata yang masih tertutup.


 "Baik tuan." Sekertaris vino


langsung melangkah keluar mengambil berkas yang dibutuhkan.


 Ketika melewati bangku karyawan tadi,


Sekertatis vino berhenti dengan tatapan tajamnya membuat nyali karyawan itu


menciut.


 "Sekali


lagi kalian membuat kesalahan, akan ku kirim kalian ke pulau terpencil."


Ancam sekertaris Vino


 "I-iya


pa" Jawab mereka menunduk dan badan yang sangat bergetar.


 "Serahkan


file itu!" Titah sekertaris Vino


 "I-iiini


tuan." Gelagapan dengan tangan gemetar Gita menyerahkan file itu.


 Dengan sigap sekertaris Vino keluar menuju


ruangan rapat di susul oleh Gibran dengan wajah yang sudah terlihat sangat rapi


dan fresh.


***


Ketika rapat selesai Gibran kembali


keruangannya. Sebelum Gibran tiba, sekertaris Vino sudah memastikan wanita itu


telah pergi dan tidak membuat kekacauan lagi.


 "Apa


lagi setelah ini." Tanya Gibran setelah selesai membaca dan


menandatangani setumpuk kertas diatas mejanya.


 "Tidak


ada tuan." Jawab sekertaris Vino.


 Seketika otaknya teringat kepada gadis kecil


licik yang memakai baju tidur.


 "Jemput


gadis itu!" Titah Gibran


 Hah? mau apa?. Batin sekertaris Vino dengan penuh


pertanyaan.


sekertaris Vino


tidak menjawabnya ia hanya menatap Gibran apa telinganya yang salah mendengar.


 "Kenapa


melihatku? Sudah bosan hidup? Cepat


jemput dia!! aku tunggu di mall X." Ancam Gibran.


 "Baik tuan muda" Jawab sekertaris


Vino


****


Sekertaris Vino membukakan pintu mobil untuk


Adiba. Adiba yang masih bingung mengapa dibawa kesini hanya mengikuti langkah


sekertaris Vino. Mereka memasuki toko pakaian muslim terbesar di kota X. Adiba


menatap penuh kagum dan berbinar-binar melihat puluhan bahkan ratusan gamis


elegant yang berjajar rapi disana.


 Mata binar Adiba secepat kilat berubah ketika


melihat wajah datar sang pencuri bibir sucinya itu ada disana. Adiba


berpura-pura tidak melihatnya dan kembali melihat pakaian muslim yang terpajang


rapi itu.


 "Bungkus


semua baju itu." Ucap gibran menunjuk arah jejeran baju muslim yang


di tatap Adiba.


 Eh tuan! Kau fikir ini ikan asin. Maen beli

__ADS_1


semua.


__ADS_2