
"Anda mau kemana nona?." Tanya para pengawal.
Adiba mengabaikan pertanyaan para pengawal itu dan berlari sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu
Adiba berlari ketempat tadi ia termenung diikuti oleh para pengawal dibelakangnya.
Adiba menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua amarah dan kekesalannya.
"Hikss,,,,hiks aku benci!
aku benci tubuh ini!!" Teriak Adiba sambil memukul seluruh bagian yang dicium Gibran tadi.
Adiba menangis karena kesal malu bercampur sedih. Adiba menyesali perbuatannya karena telah memasuki kamar itu, tetapi Adiba sama sekali tidak berniat untuk menggodanya. Hatinya sangat sakit bagai tertombak besi tajam mengingat ucapan Gibran yang mengata-ngatainya sebagai perempuan murahan, penggoda, dan *******.
"Menyedihkan!!
Hiks, akupun tidak sudi disentuh oleh pria sepertimu!!!" Lirih Adiba dengan tatapan sendu.
Lama menangis membuatnya lelah hingga akhirnya Adiba tertidur di bangku yang berada tepat tak jauh dari kamar Gibran.
Pengawal yang melihat kejadian tersebut, langsung mengabari sekertaris Vino.
"Tetap di posisi, jaga dia seperti kau menjaga nyawamu!"Jawab sekertaris Vino tegas.
***
"Arghhhhh!!!!" Teriak Gibran membanting semua barang yang ada di hadapannya.
Apartemen yang tadinya rapi dan indah mendadak berubah seperti kapal pecah karna ulah Gibran.
"Beraninya dia menggodaku!! perempuan sialan!!!" Gibran terus mengumpati Adiba
tak lama ingatan Gibran kembali pulih.
"Shella? dimana dia?" Gibran bermonolog sendiri dan langsung menyambar ponselnya.
"Bodoh!!! dimana kekasihku hah?
kenapa gadis bodoh itu ada dikamarku?" Teriak gibran langsung ketika sambungan terhubung.
__ADS_1
Sekertaris Vino menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Anda lihat saja sendiri di parkiran tuan." Jawab sekertaris Vino santai.
"Heh apa maksudmu? beraninya kau!" Teriak Gibran lagi.
"Lihatlah tuan, sebelum meraka pergi" Nasehat sekertaris Vino.
Tanpa menunggu lama Gibran langsung berlari menuju parkiran hotel.
Gibran mendapati Adiba yang tertidur di kursi ditemani para pengawal, tanpa memperdulikannya Gibran langsung melanjutkan larinya.
Dari jarak beberapa meter lagi, mata Gibran sudah mendapati kegiatan Shella bersama pria tersebut. Gibran berlari sekuat tenaga mencapai tempat mereka, darahnya semakin mendidih mengetahui siapa si pria tersebut dan meletakannya bibir si pria jatuh tepat di dada Shella.
BUK!!!
Gibran langsung menghantam si pria.
Shella sangat terkejut akan kedatangan Gibran yang tiba-tiba, padahal dia sudah memberi obat tidur diminuman Gibran sebelum pergi tadi.
Shella syok setengah mati, karena kembali tertangkap basah dengan pria lain.
Gibran dan si pria tadi masih adu jotos satu lawan satu, Shella dan sekertaris Vino hanya bisa menonton tidak bisa menghela ataupun membantu pertengkaran tersebut.
BUK
"Beraninya kau menyentuhnya!!" Amarah Gibran yang sudah meluap.
si pria hanya menyeringai tipis, membuat amarah Gibran semakin naik hingga ke ubun-ubun.
"akan kupatahkan seluruh tulangmu" Jawab Gibran yang menatap tajam pria yang sedang tersungkur.
"Hahaha silahkan saja kalau kau berani!." Tertawa si pria yang membuat heran Shella dan sekertaris Vino.
-Bisa-bisanya dia tertawa ketika nyawanya sudah diujung tombak. Gumam Sekertaris Vino geleng-geleng kepala.
"Bukannya kau sendiri yang melarangku untuk tidak menyentuh Adiba, biarkan aku menyentuh wanitamu yang satunya lagi." Seringai sinis sambil mengelap cairan segar dari ujung bibirnya.
"Kurang ajar!!!" Gigi Gibran semakin mengerat tangannya mengepal.
__ADS_1
Sekertaris Vino terkejut bukan main, ketika mulai mengerti arah ucapan tersebut. Daffa, dialah si pria itu.
di awal, sekertaris Vino memang mencurigai Daffa adalah adik tiri Darren yang merupakan kekasih Adiba. Tetapi semua pemikirannya ia buang jauh-jauh karena belum mendapatkan cukup bukti, cukup lama sekertaris Vino menyelidiki tentang kekasih Adiba ini. Karena Daffa memalsukan semua identitas aslinya.
Gibran kembali menyuguhi banyak pukulan kepada Daffa tanpa ampun, untung saja suasana sangat sepi karna memang sudah hampir pagi.
"Bawa dia!" Teriak Gibran
Para pengawal yang disiapkan sekertaris Vino sebelumnya menyeret dan membawa Daffa kedalam mobil,
sedangkan Shella kembali dalam serangan gemetarnya ketika Gibran memberikan sorot mata membunuh.
Gibran melangkah pelan mendekati Shella.
"Beraninya! Dasar wanita murahan!
kau mainkan 3 pria sekaligus, menjijikan!!" Ucap Gibran berat sambil mencengkram keras dagu Shella.
Shella yang mendapatkan perlakuan kasar Gibran hanya meringis kesakitan tanpa berani menatap apalagi melakukan pembelaan meski hanya mengucapkan kata maaf.
"Menghilanglah atau kubunuh kau!" Ancam Gibran yang langsung menyingkirkan Shella dari hadapannya.
Mendapatkan kesempatan kabur, Shella langsung lari dari posisinya. Tidak peduli lagi dengan atm berjalannya, bisa keluar masih dengan nyawanyapun bisa dibilang sangat beruntung.
Melihat Shella yang lari tanpa menjelaskan apapun membuat Gibran semakin prustasi, karena secara tidak langsung Shella memang membenarkan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Arghhhhhh" Teriak Gibran sambil mengusah wajahnya kasar.
Melihat Gibran yang seperti itu membuat sekertaris Vino sangat prihatin bercampur lega, setidaknya Gibran telah mengetahui kebenarannya dengan mata kepalanya sendiri.
"Mari tuan muda." Sekertaris Vino mempersilahkan.
Dengan langkah gontai Gibran mengikuti langkah sekertaris Vino seperti itik. Jalan menunduk tanpa memperdulikan sekitar.
"Istirahatlah tuan muda, besok adalah keberangkatan anda menuju apartemen." Sekertaris Vino mengingatkan
Gibran hanya mengangguk. Pikirannya masih terpaut dengan penghianatan Shella, bisa-bisanya dia mempercayai lagi perempuan penghianat sepertinya.
karena pengaruh obat tidur yang diberikan Shella, tak butuh waktu lama Gibranpun terlelap.
__ADS_1
sekertaris Vino menyadari ada hal yang mengganjal terhadap tuannya, dia mengecek minuman diatas nakas dan benar saja terdapat endapan obat disana.
"Cih! dia bahkan memberika obat tidur kepada tuan muda agar bisa menemui kekasihnya." Maki sekertaris Vino.