
"Vino ingin melamar Aisyah besok!"
"APA?!" Mulut Adiba sampai ternganga karena tidak percayanya.
"Bagaimana bisa? jangan-jangan?!!" Pemikiran Adiba mulai menjelajah kemana mana, perjuangan dia untuk melindungin sahabatnya telah sirna.
Gibran dan Adiba saling tatap keheranan.
Keesokan harinya dirumah Aisyah.
Sarapan pagi berlangsung dengan hangat, setelah kejadian semalam ayah dan ibu Aisyah yang salah mengartikan ucapan Aisyah. Aisyah menjelaskan dengan sangat terperinci jika dia dan Vino yang dikira bos oleh ibunya itu tidak ada hubungan apapun dan tidak terjadi hal apapun.
Aisyah menjelaskan bahwa Bos gilanya itu hanya sedang bercanda dan saking kagetnya Aisyah berteriak.
"Begitu....." Ucap Aisyah yang mengakhiri kalimatnya.
"Oalah ndok ibu kira kamu beneran hamil to" Jawab Ibu Aisyah diiringi tawa menatap putri dan suaminya.
"Hm? ngga atuh bu." Jawab Aisyah cengengesan.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok
"Sebentar!" Teriak Ibu Aisyah.
"Biar Aisyah aja yang buka bu" Tawar Aisyah yang langsung berdiri dan berjalan menghampiri pintu.
"Yaudah"
Dengan masih menggunakan baju tidur, Aisyah berjalan gontai dan membuka pintu.
CEKLEK.
Melihat Aisyah yang membuka pintu, pria itu langsung membungkuk sambil memampangkan bunga yang dibawanya.
"Saya mohon maafkan saya, saya akan bertanggung jawab dan akan melamarmu!" Ucapnya tegas dan lantang. Namun matanya ia tutup, tangannyapun terlihat seperti bergetar hingga bunga besar yang di bawanya sedikit bergoyang.
Aisyah terkejut bukan main,
Waduh, bisa makin ribet ini urusannnya Batin Aisyah sambil menatap Vino yang masih sedia di posisinya.
Dia langsung menutup bibir pria tua itu dengan tangannya. menariknya, hingga menjauh dari posisi mereka. takut jika ibu dan bapa mendengar.
"Ish, bapak ini kenapa si?"
"Siapa juga yang minta tanggu jawab?! bapak ini sudah gila ya!" Sarkas Aisyah dengan posisi tetap mengukung bibir Vino dengan tangannya, satu tangan lain menempel kedada bidang milik vino yang bertujuan untuk mendorongnya. membuat jarak mereka dekat. Hal itu sukses membuat jantung Vino berdetak kencang.
Vino terdiam menatap wajah Aisyah yang panik.
Kemudian, senyum terulas dibibir Vino.
Vino dengan sengaja mencium gairah tangan Aisyah yang menempel di bibirnya.
"Ishhhh, kena lagi kan!" Teriak Aisyah dan langsung menyingkirkan tangannya sambil mengusap ngusap ke baju.
"Bukankah itu maumu?" Ujar Vino sambil mengedipkan mata nakal membuat Aisyah semakin jengkel.
"Ish pria tua mesum!!! udah ah aku mau pergi!" Dengan cepat tangan Vino menarik tangan Aisyah dan mendekap kedalam pelukannya.
Tubuh Aisyah kaku ketika berada sangat dekat dengan tubuh Vino, lagi dan lagi pria tua ini menyentuh tanpa tahu malunya. Membuat keduanya merasakan getaran jiwa yang kuat.
Vino merangkum wajah Aisyah dan menatapnya. Membuat Aisyah semakin terpaku dan terpana melihat ketampanan Vino yang bersinar dipagi hari.
Dagu Vino mengarah ke dada Aisyah.
"Apa jantungmu berdegup sangat kencang?" Tanya Vino dengan nada manja di telinga Aisyah kemudian menciumnya
Seperti anak itik, Aisyah mengungkapkan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Aisyah mengangguk.
Vino pun tersenyum.
Apa yang Vino rasakan sama dengan yang gadis ini rasakan.
Baik, aku akan menikahinya!
"Baik jika begitu" Suara Vino membuat Aisyah kembali tersadar.
"Eh, baik apanya!"
"Baik, aku akan melamarmu!"
"Eh apa? tidak, tidak!"
"Tidak apanya?" Vino mendekatkan wajahnya ke wajah Aisyah, membuat tubuh Aisyah lagi lagi kaku tak bisa digerakan. Apalagi dengan ketampanan Vino dipagi hari membuat matanya dapat menangkap seluruh ketampan yang ada di depan matanya itu. Ditambah lagi dengan hembusan nafas Vino yang sangat halus menerpa wajahnya, membuat Aisyah tidak bisa mengontrol diri.
Persekian detik mata mereka beradu.
Tak tahan lagi dengan kondisi seperti ini, dengan segera Aisyah memalingkan wajahnya.
"Tidak!"
"Tidak apanya?" Tanya Vino diiringi seulas senyum membuat ketampanannya semakin bertambah dan bertambah.
"Bukankah kau yang bilang sendiri jika anu ku sebentar lagi akan pensiun dan tidak akan berfungsi. Jadi, kumohon bantulah aku agar bisa mendapatkan baby boy sebelum aku pensiun." Lanjutnya.
Aaaa gilaaa!!! ucapan menggelikan apa itu!!! tuan kumohon. jangan ucapkan perihal itu lagi di depanku. Masa mudaku ternodai karna kemesumanmu.
Aisyah ingin berlari sejauh mungkin dari pria tua mesum itu, jika boleh ke antartika sekalian. sebelum semuanya terlambat!
Plis, gue mau lari antartika sekarang!!! Batin Aisyah berteriak ketika wajah Vino sedikit demi sedikit mendekatinya.
Tubuhnya yang selalu berhianat malah terdiam seperti menunggu dan menyambut apa yang akan dilakukan Vino.
Tubuh sialan!
Tapi dengan cepat Vino kembali menarik dan langsung menciumnya.
"Mpphhh" Tangan Aisyah memberontak memukul mukul dada bidangnya, kemudian Vino menggenggam tangan itu dan menuntun tangan itu agar memeluknya.
Persekian detik Aisyah tersihir oleh permainan pria mesum itu.
Meong,,,,,,,
Suara kucing Aisyah berhasil membuat Aisyah tersadar..
"Mphh,,, Ih lepasin! ini gak bener! aku bisa bertumpuk dosa karnamu pria tua mesum!!!" Hardik Aisyah yang berhasil melawan dan lepas dari kukungan Sekertaris Vino.
Bagi Vino, Ucapan Aisyah tidak terdengar seperti pengingat atau ancaman melainkan seperti ajakan keras bagi Vino untuk segera melamar dan menikahinya agar tidak lagi membuat dosa.
Vino nampak berfikir.
"Kau benar!" Ucap Vino.
"Nah kan bisa encer juga tu" Aisyah menggangguk menyetujui.
"Benar katamu, Kita harus segera menikah jika begitu. Takut tertumpuk dosa.
Hah? gila kenapa lagi ini pria tua!! Aisyah menggeleng tak percaya.
"jika sudah halal kan untung." Lanjutnya.
"Hah? untung apanya, lu yang untung gue yg buntung bapak mesum yang paling terhormat sejagat raya!!" Kesal Aisyah.
"Halal dan dapat pahala" Ucap Vino kembali sambil mengedipkan mata, kemudian menarik Aisyah masuk kedalam rumahnya.
"Hey, hey apa yang kau lakukan!"
__ADS_1
"Diam! atau mau kita dapet dosa lagi!" Ucap Vino sambil menarik Aisyah masuk kedalam rumah.
"Pria gila!!!"
Aisyah menyerah karna tenaga Vino lebih kuat darinya.
"Assalamualaikum!"
Ibu dan Bapak Aisyah tersenyum melihat kedatangan seorang pria bersama putrinya.
"Walaikum salam, nak Vino silahkan duduk"
"Terimakasih."
Vino menarik kursi dan duduk tepat di depan bapak dan Ibu Aisyah, sedangkan Aisyah duduk di samping kanan Vino.
"Ada gerangan apa nak Vino datang kemari?" Tanya Ibu Aisyah lembut.
Vino merasa sangat dihormati, dia melirik Aisyah putri dari ibu yang sangat ramah tersebut.
"Tujuan saya datang kesini...."
Aw!
Aisyah menginjak dengan keras sepatu mengkilat Vino, membuat Vino sedikit merasakan ngilu dibagian kakinya kemudian menatap tajam gadis gila disampingnya.
"Kenapa nduk?" Tanya Ibu Aisyah ramah.
"Hm tidak ada apa apa. Tujuan saya datang kesini..." Vino sengaja menggantung ucapanannya dan melirik ke arah Aisyah yang terlihat menggigit bibir bawah dan meremas ujung bajunya. Bukan merasa iba Vino justru menjadi gemas dan lebih bersemangat untuk mendapatkan Aisyah dan nenghabisinya.
aaa ramatlah riwayatku...
"Saya ingin melamar putri ibu" Ujar Vino dengan tegas tetapi masih dengan nada sopan.
Ibu dan bapak Aisyah terlihat terkejut bercampur senang karna putri mereka dilamar oleh seorang pria mapan dan dewasa.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu?" Tanya Bapak Aisyah dengan tegas.
Hal itu tidak membuat nyali Vino menciut, dia justru lebih bersemangat dan membuktikan kesungguhannya.
"Tentu, saya sudah memutuskannya" Jawaban to the point Vino membuat orang tua Aisyah yakin.
"Ibu dan bapak akan menyerahkan keputusan kepada Aisyah karna dia yang akan menjalaninya."
"Bagaimana nduk?"
Semua mata tertuju kepada Aisyah yang sedari tadi menunduk, dia bingung akan jawabannya.
Menikah? kata itu tidak pernah terfikirkan oleh aisyah sebelumnya. Pendidikan kuliah masih menjubel di otaknya
Aisyah menatap wajah kedua orang tuanya. Tapi jika menolak, dia pasti akan mengecewakan ortunya. Bapak dan ibu terlihat bahagia dengan hal ini.
"Beri aku waktu" Jawab Aisyah lirih dan langsung memutuskan semangat Vino.
"Jika kau keberatan, aku tidak akan memaksamu" Jawab Vino tegas.
Meski sakit, mungkin ini adil baginya. Aku tidak akan terlalu memaksakan kehendak. Batin vino
Aisyah sedikit merasa bersalah dengan ucapannya.
Vino pasti berfikir jika aku tidak mau dengannya karna dia terlalu tua bagiku. Itu emang benarsi tapi bukan itu alasanku. aku masih ingin kuliah dan belajar.
"Kenapa nduk?" Tanya Ibu ramah melihat kegelisahan putrinya.
"Aku masih ingin belajar dan kuliah" Lirih Aisyah, hal itu membuat Vino tersenyum bangga.
Ternyata bukan usia hambatannya.
"Aku akan mengizinkamu belajar setelah kita nikah nanti" Jawab Vino yang langsung mendapat persetujuan orang tua Aisyah.
__ADS_1
Aisyah menghembuskan nafasnya