
-Mereka melihat ketampananmu! kenapa kau marah karna itu?. Batin Adiba aneh dengan tingkah Gibran
Di dalam mobil..
Gibran dan Adiba sudah duduk dikursi belakang, sekertaris Vino mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Apa kau sengaja menggoda mereka hah?" Ucap Gibran yang masih geram dengan kejadian tadi.
Adiba dan sekertaris Vino menyerngitkan dahinya karena bingung.
"Maksud tuan?" Tanya Adiba menatap wajah Gibran
"Kenapa kau keluar berpakaian rapi seperti ini? kau sengaja menggoda mereka?" Tanya Gibran beruntun.
"Maksud tuan? bukankah tuan sendiri yang menyuruh saya bersiap, tidakkah mungkin saya keluar dengan kondisi berantakan. Itu akan mempermalukan anda.?"Jelas Adiba membuat Gibran tambah geram.
Gibran memberikan sorot mata tajam kepada Adiba.
-Ish kenapa dia menakutkan sekali. Batin Adiba
-Sial! benar katanya.
kenapa juga aku marah!. Batin Gibran
Aku tidak akan membiarkan dia mempermalukanku dengan berpakaian katronya lagi, tapi kenapa aku malah marah ketika dia berpenampilan cantik dan dilihat pria lain. Arghhhh!! Frustasi Gibran yang aneh kepada dirinya sendiri.
Sekertaris Vino yang mengerti akan kemarahan Gibran hanya tersenyum-senyum.
**
Gibran dan Adiba sudah duduk disebuah cafe yang sangat terkenal di kotanya.
-Kenapa tempat ini sepi sekali, apa masakannya tidak enak? sampai-sampai tidak ada pengunjung sama sekali. Batin Adiba sambil celingak celinguk mengabsen seluruh ruangan.
"Aku sudah membooking tempat ini." Ucap Gibran yang mengerti ekspresi Adiba.
-Dasar tukang ramal! Batin Adiba
Para pelayan membawakan banyak makanan di meja makan, kini giliran pelayan pria yang membawakan nampan. Ia tertegun melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Adiba sampai-sampai memberhentikan aktifitasnya.
"Ekhem!" Gibran yang menyadarinya, menatap tajam pelayan tersebut.
"Siapa namamu?"Tanya Gibran kepada pria tersebut.
"Bayu tuan." Jawabnya terbata-bata, badannya gemeteran melihat sorotan tajam dari Gibran.
"Pergilah!" Titah Gibran tanpa menoleh ke arah pelayan tadi.
Gibran dan Adiba memulai menyantap makanan siangnya tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.
"Suapi aku!" Ucap Gibran santai membuat Adiba yang sedang minum tersedak.
Uhuk, uhuk, uhuk
-Apa tadi katanya? suapi? haha tuan! anda pasti becanda ya. Batin Adiba refleks menatap Gibran tak percaya
"Cepat! kenapa malah memelototiku?"
__ADS_1
-Gila ya? dia benar-benar ingin disuapi? Lelucon macam apa ini. Kau sungguh menyebalkan, dasar bayi kingkong tua!!! Batin Adiba berteriak!.
"Ah iya tuan, maaf." Jawab Adiba berbanding terbalik, mana berani dia menolak permintaannya.
Adiba mulai menyuapi Gibran dengan sabarnya, Gibran yang mengetahui kekesalan Adiba dari wajahnya tersenyum senang. Rasanya Gibran ingin terus memandang wajah Adiba yang sedang kesal ini terus menerus membuatnya terlihat imut.
-Haha lihatlah, wajahnya merah menahan kesal. Sial! kenapa dia terlihat imut begini si.
Muncul seringai jahil lagi dibenaknya.
"Heh? apa kau buta ya! aku tidak akan kenyang jika makan oleh sendok kecil seperti itu!" Bentak Gibran.
-Sabar!!! tuhan tolong beri aku sendok besar! sendok semen bila perlu. Agar bayi kingkong ini cepat kenyang dan mati memakan sendok-sendoknya juga. Batin Adiba semakin geram terhadap Gibran
"Lalu pake apa tuan?" Tanya Adiba tersenyum paksa.
"Pakai tanganmu!" Jawab Gibran melipat tangan di dadanya.
"Hah? apa tidak apa-apa tuan?" Tanya Adiba tidak percaya.
"Cepat! atau kuhukum" Ancam Gibran sambil meneguk minumannya
-Kusumpahin kau tersedak! Batin Adiba.
Tuhan mengabulkannya, seketika Gibran tersedak oleh minuman yang diminumnya. Adiba gelagapan memberikan air putih untuk Gibran.
"Eh, tuan kenapa? tuan minumlah!" Cemas Adiba.
Gibran yang menyadari kecemasan Adiba, malah membuat batuknya menjadi-jadi seperti tersedak biji duren. membuat Adiba kalang kabut.
"*T**uan, maafkan saya. Apa anda baik-baik saja? tuan minumlah dulu air putih ini*!" Ucap Adiba beruntun sambil mengusap-ngusap tengkuk Gibran.
"*Bua**hahahahaha*" Tawa Gibran tak tertahan lagi, tawa Gibran menggema di ruangan tersebut mengingat kekonyolan dirinya dan kebodohan Adiba.
Adiba yang baru menyadari dirinya dikerjai geram dibuatnya dan menatap tajam ke arah Gibran.
-Sialan! dia hanya mengerjaiku! kenapa tidak tersedak beneran ajasi sampai mati. Batin Adiba
Dari kejauhan sekertaris Vino tersenyum bahagia melihat kearah mereka.
"Terimakasih nona, kau telah mengembalikan kebahagiaan tuan muda kembali." Gumam Sekertaris Vino
Lama setelah makan siang itu, Adiba kembali ke apartemen diantar oleh sopir kepercayaan Gibran.
"Panggil manajer cafe ini!" Titah Gibran sambil mengangkat kakinya ke atas meja. Di dampingi sekertaris Vino disampingnya.
"Saya tuan." Tutur pria paruh baya membungkukan badan.
"Pecat karyawan yang bernama bayu!" Ucap Gibran santai.
"Maaf tuan muda, tapi apa kesalahannya?." Tanya pria itu meminta penjelasan
"Dia telah berani menatap istriku! Untung aku sedang senang hari ini. Jika tidak, pria itu pasti akan kehilangan kedua matanya!!" Ucap gibran membuat bergidik ngeri bagi yang mendengarnya.
"Baik tuan." Jawab pria paruh baya
Gibran beranjak meninggalkan cafe tersebut disusul sekertaris Vino dibelakangnya. Selama perjalan kembali ke kantor, Gibran senyam senyum membuat para karyawan aneh melihatnya.
__ADS_1
"Keajaiban dunia apa sampai membuat pak presdir yang tampan tak tertolong itu tersenyum."
"Oh tuhan!!! mataku terhipnotis oleh senyuman manisnya."
"Apa yang membuat presdir sebahagia itu?"
Kurang lebih seperti itulah desas desus para karyawati yang berpapasan dengan Gibran. Gibran memasuki ruangannya dan mulai kembali bekerja.
***
"Terimakasih." Ucap Adiba kepada sopir yang mengantarnya hingga kedepan pintu.
"Sama-sama nyonya." Jawabnya sopan.
Di dalam kamar, mulut Adiba masih komat kamit menyumpahi Gibran yang menjengkelkan.
"Dasar bayi kingkong tua! tak berbulu! gak punya malu!, untung saja sepi, jika tidak mau ditaruh dimana wajahku menyuapi bayi kingkong tua itu." Teriak Adiba geram
"Lain kali kusumpahi kau terpeleset hingga jatuh!" Ucapnya lagi
Lama kekesalannya kepada Gibran membuat otaknya panas, Kemudian Adiba beranjak ke dapur dan meminum air putih. Adiba kembali teringat tingkah Gibran ketika pertama kali mereka kesini. Kemudian Adiba duduk di sofa meniru gaya Gibran mengangkat satu kaki di atas kaki kirinya.
"Isi soal-soal itu!" Ucap Adiba meniru gaya bicara Gibran dengan angkuhnya sambil melempar kertas seolah-olah ada perempuan didepannya.
"Salah satu soal, satu hukuman!" Ucap Adiba lagi sambil cekikikan mengingat kejadian menjengkal itu lagi.
"Bodoh!! apa saja yang kau lakukan di sekolah!!"Teriak Adiba mengikuti gaya bicara Gibran lagi, sambil beranjak dan berkacak pinggang.
"Hahahaha aku sudah gila! untuk apa ini." Jengkel Adiba kepada Gibran.
Adiba kemudian beranjak ke kamar untuk membesihkan badan dan menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim kemudian tidur.
Di ruangan Presdir...
Sambil membaca dan membolak-balikan tumpukan kertas diatas mejanya. Bibir Gibran tetap menyunggingkan senyuman. Matanya menatap kertas di depannya, tapi otaknya jauh melayang memikirkan kejadian yang belum lama terjadi tadi. Membuat Gibran tidak fokus.
-Sedang apa gadis bodoh itu sekarang. Batin Gibran
Gibran menutup kertasnya kemudian meraih handphonenya.
Gibran menaikkan satu alisnya ketika Adiba mengumpatnya agar terpelesat di rekaman cctv apartmen yang tersambung ke ponselnya.
"Baiklah, akan ku kabulkan permintaamu." Ucapnya sambil terseringai tipis.
Gibran tiba-tiba tertawa terbahak-bahak melihat Adiba yang meniru gaya bicaranya sambil berkacak pinggang.
"Buahahahaha" Tawa Gibran menggelegar membuat sekertaris Vino yang baru memegang handle pintu ruangan bergidik ngeri.
-Nona, nona.
Racun apa yang telah kau campurkan kedalam makanannya hingga membuat dia seram seperti itu. Batin Sekertaris Vino menaikkan pundaknya.
"Hahaha gadis bodoh!" Ucap Gibran di sela tawanya.
Sekertaris Vino masuk memberikan file penting untuk meeting besok, secepat kilat Gibran kembali ke wajah khasnya yang datar dan cool.
"Apa ada masalah tuan?" Tanyanya perhatian
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Gibran tegas.