
Setelah sarapan pagi selesai, Gibran memutuskan untuk mengajak Adiba berjalan-jalan sebelum mereka kembali ke kota. Dengan dijaganya langsung.
Kejadian kemarin menjadi tamparan keras untuknya, kehilangan Adiba berarti kehilangan separuh nyawanya. Gibran sangat mencintai Adiba dengan segala kepolosan dan keluguannya.
"Kita akan kemana mas?" Tanya Adiba yang heran karna Gibran tiba-tiba menarik tangannya.
Namun Gibran tak menjawabnya, Adiba menoleh kebelakang menatap Sekertaris Vino, Aisyah dan para bodyguard yang ikut serta berjalan dibelakangnya meminta penjelasan.
Namun lagi-lagi nihil, Mereka semua menggeleng dan mengangkat bahu. Adiba menghela nafasnya kasar.
"Apa kau lelah?" Tanya Gibran panik karna mendengar hembusan kasar istrinya
Tanpa berfikir panjang, Gibran menggendong Adiba menelurusi jalan yang dipenuhi kebun teh.
"Hey apa yang kau lakukan? turunkan aku, aku tidak lelah" Ujar Adiba sambil menepuk lengan Gibran karna tiba-tiba menggendongnya. Di depan orang-orang pula.
Gibran menatap tajam wajah Adiba yang kini sudah cemberut. membuatnya lebih cantik dan imut dimatanya. Jika saja bukan di tempat terbuka dan di depan para bawahannya, Gibran pasti sudah ******* habis bibir ranum itu.
Tanpa ada penolakan lagi Adiba hanya terdiam di pangkuan Gibran yang sedang berjalan entah kemana tujuannya.
Aisyah yang sedari tadi memikirkan ucapan Adiba jadi termenung, ia sampai tidak menyadari jika Vino sudah di depan menghadang jalannya sambil melipat tangan.
"Auuuww" Aisyah mengelus-ngelus jidatnya.
Aisyah tekejut ketika yang ditabraknya adalah ketek paus sialan itu lagi. Aisyah lebih terkejut ketika semua orang sudah sepuluh langkah di depannya.
Menyadari akan bahaya yang mungkin saja terjadi, Aisyah segera berlari mendekati Alex untuk melindungi diri. Sedangkan Vino hanya menatap kegergian Aisyah yang sudah berlari.
"Hay?" Sapa Aisyah yang dijawab senyuman oleh Alex
"Siapa namamu?" Tanya Aisyah berusaha mengakrabkan diri.
"Alex" Jawabnya tersenyum ramah.
Melihat senyuman Alex membuat hati Aisyah meleleh. Wajah tampan, berotot, tinggi dan ramah. sudah seratus persen masuk kedalam kamus golongan pria type Aisyah.
Vino yang melihat Aisyah menghampiri seseorang pun berlari mengejarnya, entah apa yang membuatnya sewot serta mood nya hancur ketika yag dihampiri Aisyah adalah Alex (kepala bodgguard)
Sekertaris Vino menatap tajam bawahannya tersebut, Alex yang hanya di perintahkan Vino tentu saja menurut. Alex menundukan pandangannya memutuskan kontak mata dengan Aisyah.
Meski sebenarnya ia juga terpesona dengan kecantikan Aisyah, namun Alex type pria yang dingin tidak mudah bergaul dengan orang lain tetapi tetap ramah.
Aisyah yang melihat Alex menundukan kepala tentu saja heran, kemudia ia menoleh kebelakang dan benar saja si ketek paus itu sedang menatap tajam kepada pria yang baru di kenalnya.
-Ish, wajah binarku jadi suram liat muka kek tembok datar si ketes paus ini. Batin Aisyah mendengus kesal.
__ADS_1
Aisyah menarik lengan Alex hendak mengajaknya mengobrol ditempat yang lebih tenang sambil berjalan pelan tanpa adanya si ketek paus.
Vino melotot penuh ketika Aisyah memegang tangan Alex.
Alex yang terkejut dengan tingkah Aisyah hanya mengikutinya.
Vino memegangi dadanya yang bergemuruh.
"Bodoh! kenapa dadaku panas dan sesak?! Aku harus berendam lagi setelah ini!" Batin Vino kemudian berjalan mengikuti tuannnya.
Setelah lama berjalan sambil menikmati indahnya alam yang masih asri tersebut, Gibran menurunkan Adiba tepat di sebuah gazebo untuk beristirahat.
Sedangkan para bodyguard menjaga tak jauh dari posisinya sekarang.
Gibran menjatuhkan badannya dengan di topang satu kakinya. Gibran mendongkakan kepalanya menatap wajah istrinya
Vino yang melihat tuannya seperti itu tentu saja terkejut, seorang Gibran Adelard Wijaya putra tunggal dari keluarga pengusaha terkaya kini bertekuk lutut dihadapan seorang gadis kecil yang sekarang sudah menjadi istrinya.
-Anda kalah tuan. Batin Vino tersenyum sinis.
"Apa kau lelah?" menarik dan menggenggam tangan Adiba.
Adiba tersenyum,
Pria Arrogant yang sekarang sudah menjadi pria manja dan penyayang. Adiba menatap wajah suaminya yang penuh dengan keringat untuk menanti jawaban.
"Tentu saja aku lelah!" Jawab Gibran tegas.
Jawaban Gibran sukses membuat Adiba dan Vino membulat. Berbanding terbalik dengan jawaban yang ada difikiran mereka yang akan menjawab TIDAK.
"Kau harus membayar mahal nanti malam" Jawab gibran sambil tersenyum mesum
Vino menggeleng mendengar jawaban tuannya.
"Ish kau ini..." Protes Adiba yang lagi-lagi kesal dengan kelakuan suaminya.
Gibran hanya terkekeh melihat istrinya cemberut akibat godaannya.
"Ayo kita kesana" Ajak Gibran dan langsung menarik pelan lengan Adiba.
Gibran mengajak Adiba menaiki kuda yang mampu menampung mereka berdua. Kuda tersebut berwarna putih dan besar serta ekornya yang panjang dan lehernya yang dipenuhi bulu-bulu tebal.
Entah kuda jantan atau betina, kuda itu terlihat sangat cantik dan menarik.
"Wahh kudanya cantik sekali" Ujar Adiba yang terpesona dengan kuda putih di depannya.
__ADS_1
"Dia jantan! jadi tampan bukan cantik" Jawab Gibran tegas.
Adiba mendengus,
-Iya aja napasi apa susahnya. Batin Adiba mendengus
-Tidak akan kuberi jatah nanti malam! lihat saja nanti. Ancam Adiba dalam hati
"Ya ya, bagaimana cara membedakan kuda jantan dan betina?" Tanya Adiba antusias.
Dia tidak pernah memikirkan sebelumnya kuda jantan atau betina, yang dia tahu semua kuda cantik dan menarik dimatanya.
"Lihat saja bawahnya, panjang atau berlobang" Jawab Gibran dengan entengnya.
Adiba melolot mendengar penuturan suaminya yang vulgar tanpa saringan.
"Benarkah?" Tanya Adiba tidak percaya dan langsung berlari kebelakang kuda untuk mengecek panjang atau berlubang.
"Jika bentuknya kotak?!" Tanya Adiba berniat mengerjai suaminya yang mesum.
"Hah mana ada kotak!" Bentak Gibran yang tidak percaya dengan jawaban gadis polos istrinya ini
"Ada!"
"Mana?"
"Itu!" Tunjuk Adiba pada kuda di depannya.
Gibran langsung menghampiri Adiba dan mengecek langsung belakang kudanya membuat Adiba tertawa terbahak-bahak.
Suami jenius yang seorang presdir itu ternyata mudah juga dijahili.
"Kau mengerjaiku ya!" Teriak Gibran dari belakang dengan wajah kesal.
"Haha maafkan aku, siapa suruh mempercai ucapanku. Jika kotak bentuknya mana bisa yang panjang masuk. Yang ada nanti malah seperti Adu du haha." Jawab Adiba yang langsung berlari karna Gibran mengejarnya.
Lelah main kejar-kajaran seperti upin-ipin, mereka memutuskam segera naik kuda untuk menikmati indahnya alam sekitar.
Gibran menggendong Adiba untuk duduk diatas kuda kemudian dia sendiri yang naik dan duduk di belakang istrinya.
Gibran yang sudah mahir dalam berkuda tentu saja hal kecil baginya dalam menunggang kuda seperti ini.
Gibran mulai melajukan kudanya tanpa pemandu mengelilingi perkebunan. Adiba tampak bahagia bisa kembali menaiki kuda bersama seorang pangeran pujaannya. Sama persis seperti novel-novel yang pernah dibacanya.
Gibran yang fokus melajukan kudanya, tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk melihat senyuman yang terukir indah di bibir istrinya, kemudian Gibran menarik tali kekang yang otomatis membuat kudanya berhenti.
__ADS_1