
Hari demi hari, bulan demi bulan berjalan melewati kebahagiaan sepasang kekasih yang makin lama makin membaik, bahkan kebahagiaan mereka semakin sempurna kala menunggu kelahiran baby boy mereka.
Semenjak kehamilan Adiba, Gibran sangat memanjakan istrinya. Dia tidak membiarkan Adiba kelelahan sedikit pun. Tibalah kini pria tampan itu mondar mandir di depan pintu ruang bersalin menunggu sang istri melahirkan jagoan mereka.
Anna dan Zein juga ikut menunggu dengan cemas, tak lupa juga dengan Aisyah dan Sekertaris Vino. Aisyah sangat menghawatirkan sahabatnya. Tak segan Aisyah mencengkram lengan suaminya kala mendengar jeritan Adiba.
Mama Alexa mengusap lengan putranya untuk menenangkan, pria itu seperti kehabisan akal. Semua kekayaan dan kekuasaannya tidak lah berguna, dia tidak bisa membantu istrinya disaat seperti ini. Dia sama sekali tidak bisa meredakan sakit yang Adiba rasakan sekarang.
Gibran mencium tangan Mama Alexa, memeluknya dan menangis dipelukan ibunya. Seorang Gibran Adelard Wijaya yang tangguh kini menangis mendengar jeritan demi jeritan yang keluar dari mulut istrinya.
Dia membayangkan, mungkin mama merasakan hal yang sama ketika melahirkanku.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Gibran.
Kata maaf yang tidak pernah di dengar oleh semua orang dari seorang Gibran.
Pria itu biasanya sangat bertinggi hati dan anti dengan kata maaf, tapi lihatlah sekarang.
"Ibu mengerti" Mama Alexa mengelus pundak putranya.
"Sudah jangan bersedih, kita doakan semoga Adiba dan bayimu baik-baik saja"
Gibran mengangguk.
Sekertaris Vino dan Zein turut terpaku dengan perubahan Gibran. Mereka menatap istri mereka.
mungkin aku akan merasakan hal yang sama nanti.
Eaakkk, eakkk...
Suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring. Gibran menangis terharu mendengar suara putranya. Menangis bahagia dan kesal. Kesal karna bayi itu Adiba merasakan sakit yang luar biasa.
Suara pintu terbuka membuat semua orang terkesiap. Dengan langkah seribu Gibran menghampiri dokter Aditya.
"Bagaimana keadaan istri saya?"
"Istri anda baik-baik saja. Tuan, selamat bayi anda lahir dengan selamat" Dokter Aditya mengangkat tangan hendak mengucapkan selamat.
Senyum Gibran mengembang mendengar penutusan sang dokter, dia menerima jabat tangan Dokter Aditya dan menariknya hingga mereka berpelukan.
__ADS_1
"Terima kasih" Lirih Gibran.
Dokter Aditya terkejut akan reaksi Gibran, sudah 20 tahun dia bekerja di rumah sakit Gibran. Tak pernah sekalipun anak dari sahabatnya ini berterima kasih, apalagi memeluknya.
"Sudah tugas saya tuan" Jawab dokter Aditya ramah
Kemudian mereka masuk kedalam ruangan, Mata Gibran menatap Adiba yang terbaring lemah diatas brankar.
"sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. Gibran menciumi seluruh wajah Adiba sambil menggenggam tangannya.
Adiba mengangguk tersenyum, dia sangat bahagia karna telah melahirkan bayi yang selama ini mereka jaga.
Aisyah ingin menghampiri namun sekertaris Vino mencegahnya, dia sangat hafal jika kebersamaan tuan dan istrinya tidak mau diganggu.
Mata semua orang teralihkan ketika seorang suster datang membawa seorang bayi.
"Baby Bryan!" Ujar Anna kegirangan karna keponakannya telah lahir. Anna langsung mengambil alih gendongan sang bayi
Semua orang menautkan alis, sejak kapan bayi itu diberi nama. Bahkan Adiba dan Gibran pun belum menyentuhnya.
"Hey itu bayiku!" Hardik Gibran dengan nada tegas, Anna memanyunkan bibirnya. Gibran masih saja membentaknya seperti anak kecil, padahal Anna sudah besar dan menikah. Dia juga bisa jika hanya memproduksi seorang anak.
"Lebih tampan juga aku" Jawab Zein keceplosan.
Hanya karna seorang bayi, Zein dibuat jengkel. Pasalnya, tadi Zein ingin sekali melahap Anna. Namun kabar kelahiran Adiba membuat mereka membatalkan kegiatan mereka.
Dengan perasaan hasrat yang tidak tersalurkan Zein dan Anna berangkat menuju rumah sakit.
Semua perempuan yang hadir tersenyum menatap Zein, laki laki itu cemburu sama bayi ceritanya?
Mama Alexa dan Aisyah yang mendengar ikut menghampiri.
Menyuel-nyuel pipi sang bayi dengan gemas.
"Hallo cucu nenek yang tampan? selamat datang" Mama Alexa memberikan ciuman pertama kepada sang cucu. Cucu yang akan menjadi pewaris Adelard Wijaya selanjutnya.
"Hey bayi tampan! maukah kau menjadi suamiku?" Ujar Asiyah yang mendapat serangan langsung dari Sekertaris Vino.
Adiba tertawa, bayinya yang baru lahir langsung membuat ketiga pria tampan itu terkalahkan. haha
__ADS_1
"Kenapa kau tersenyum?" Gibran menatap istrinya.
"Tidak ada" Sangkal Adiba.
Puas menciumi keponakan barunya, barulah Anna menyerahkan bayi kepada Adiba.
Adiba menangis terharu menerimanya, tak terasa waktu. Kini dia sudah berubah status menjadi ibu.
ayah, ibu cucu kalian telah lahir. Lirih Adiba dalam hati
Semua orang terpaku melihat tangis Adiba, mereka memaklumi kesedihan dan kebahagiaan gadis tersebut. Bersalin tanpa di dampingin ayah ibunya pasti sangatlah sedih.
Gibran mencium putranya, merangkul mereka kedalam dekapannya. Kini, tanggung jawabnya bukan hanya sebagai seorang suami. Tapi juga sebagai ayah.
Seseorang datang mengetuk pintu dan membawakan peratalan bayi yang begitu banyak dan besar. membuat semua orang terkejut. Padahal belum 1 jam baby Bryan lahir dan dia sudah mendapatkan fasilitas yang luar biasa.
"Permisi tuan, mau disimpan dimana barang-barang ini?" Ujar si pengirim.
"Disana saja" Jawab Sekertaris Vino menunjuk tempat di sampirng brankar Adiba.
Si pengirim kemudian meletakan seluruh kebutuhan putra mereka dengan cetakan mulai dari kasur bayi dan sebagainya.
"Apa ini tidak berlebihan?" Adiba menatap suaminya. Padahal fasilitas bayi sudah tersedia di rumah sakit ini, ruangan Adiba juga tak kalah mewah dari yang lain.
Gibran tersenyum dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putra dan istrinya.
Semua orang telah kembali keluar dan memberika keluarga kecil tersebut untuk istirahat. Gibran terdiam menatap putranya yang sedang minum ASI, dia merasa iri.
"Hey! kau meminumnya lebih dulu!" Hardik Gibran membuat Adiba geleng kepala.
"Padahal aku juga belum menyentuh bahkan meminumnya"Lirih Gibran yang masih terdengar oleh Adiba.
Adiba semakin dibuat aneh, bisa-bisanya dia cemburu kepada putranya sendiri. Tanpa ba bi bu Gibran mendekat kemudian ikut minum seperti putra mereka membuat Adiba mendesah.
Kini dia mempunyai dua laki-laki manja yang harus ia berikan ASI setiap hari.
"Mas? nama putra kita..." Ucapan Adiba menggantung.
Dia hafal Gibran tidak menginginkan nama Bryan pada putranya karna Anna yang memberi. Tapi, jika di fikir-fikir bagus juga nama itu disematkan pada sang putra. Mengingat putranya juga tampan seperti dirinya.
__ADS_1
"Tidak apa, Bryan bagus juga. Bryan putra Adelard Wijaya" Ujar Gibran.