PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Menangis


__ADS_3

"Semuanya sudah siap tuan, Mr. Alonzo sudah memberitahukan bahwa dia dan istrinya sudah tiba di lokasi 15 menit yang lalu" Ucap Vino sambil mensejajari langkah Gibran yang lebar.


"Bagus"


Vino membukakan pintu mobil, Gibran membuka kancing jas hingga sebelum dia masuk dan duduk disana.


Selalu tampil elegant dan mempesona.


Karyawati yang sedang berlalu lalang menghentikan gerakan tubuh mereka, menatap makhluk paling indah dimuka bumi itu. mereka selalu saja terpesona melihat ketampanan presdir mereka.


Mobil mewah yang di tumpangi Gibran melaju ke lokasi, ditemani Vino yang selalu sigap berada disampingnya.


"Selamat pagi" (anggap aja pake bahasa inggris ya๐Ÿ˜)


Sapa Mr. Alonzo kepada Gibran


"Pagi."


"wah anda terlihat sangat bersemangat ternyata" ujar Gibran sambil tertawa kecil. Sedangkan Vino hanya diam berdiri sigap di samping tuannya.


"Haha tidak, istri saya yang bersemangat. Makannya saja sudah tiba dari tadi" Mr. Alonzo menjelaskan.


"Oh iya, bay the way dimana istri anda?"


"Dia sedang melihat lihat area lokasi di sekitar sana" M. Alonzo menunjuk arah timur.


Gibran mengangguk menanggapi.


Mereka kini berkeliling mengecek pembangunan hotel yang kini baru mencapai 25%. Hotel tersebut berlokasi di tengah tengah pusat kota, Gibran mempertaruhkan harga yang pantastis kepada investor. Dia sangat yakin jika projectnya ini akan laris di pasaran dengan cepat.


Ditambah dengan perpaduan design Bali dan Italia, membuat nuansa tradisional nan mewah yang dapat memikat mata bagi siapapun yang melihatnya.


Mr. Alonzo mengagumi kecerdasan Gibran. Gibran sendiri sebagai penanggung jawab langsung project tersebut. Gibran menjalankan project mereka dengan sangat teliti dan hati hati. Tak sia sia hasilnya pun sangat menakjubkan.


"amora mio" (panggilan sayang dalam bahasa italia).


Suara manja terdengar dari arah belakang, sontak membuat mereka semua menoleh ke belakang.


"Keyla"


"Keyla"


Suara Gibran dan Mr. Alonzo berbarengan.

__ADS_1


mereka saling melempar pandangan hingga akhirnya menatap seorang wanita cantik yang memakai dress mini dan ankle boots mewah yang melekat di kakinya.


Keyla menatap kedua pria di depannya dengan tersenyum manis.


"Anda kenal istri saya ?" Tanya Mr. Alonzo yang tidak menyangka.


Gibran tersenyum tipis, pandangan matanya fokus kepada gadis cantik yang kini sudah berada di samping suaminya.


"Bagaimana menurutmu designnya?" Tanya Mr. Alonzo antusias kepada istrinya.


Gibran dan Roy menatap keduanya.


"Bagus"


"Baiklah, bisa kita lanjut tuan Gibran?" Tanya Mr. Alonzo


Gibran tak bergeming, pandangannya tetap sama menatap wanita itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tuan Gibran?" Sekertaris Mr. Alonzo menyahut


Roy menepuk lengan tuannya.


"Tuan muda?"


Mereka berjalan beriringan untuk mengecek ulang lokasi yang akan dijadikan hotel itu. Tak lama kemudian ponsel Gibran berdering. Gibran meraih ponsel tersebut.


"Ya?"


"Ha_hallo tuan" Selalu saja bergetar jika berbicara dengan tuannya yang tegas itu.


"Maaf tuan, nyonya muda sedang menangis. Saya sudah berusaha membujuknya tapi tidak bisa. Saya rasa nyonya akan berhenti menangis jika bertemu dengan tuan"


Gibran seperti baru kembali dari alam bawah sadarnya. Pandangan mata yang sedari tadi menatap Mr. Alonzo dan istrinya yang berada di depan kini menatap ponsel, menatap siapa yang menelpon.


Gibran menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah, jaga dia. Aku akan segera datang." Jawab Gibran.


"Mr. alonzo, maafkan saya harus undur diri karna ada keperluan mendadak yang sangat penting. Saya harap anda memakluminya."


"Oh iya silahkan Tuan"


Gibran melenggang pergi setelah menatap wanita itu secara intens.

__ADS_1


Roy yang tidak mengerti perubahan yang terjadi pada tuannya berfikir keras. siapa wanita itu? wanita itu sukses menarik perhatian tuannya.


.


Adiba terus saja menangis, dia mengurung dirinya di dalam kamar. Kepergian Gibran membuatnya bersedih, padahal Adiba tau jika Gibran pergi bekerja bukan untuk hal lain.


Tok tok tok


Gibran mengetuk pintu kamar di temani dengan Bi Lastri di sampingnya. Namun tidak ada sahutan, untung saja Gibran mempunyai kunci duplikat yang membuatnya dengan mudah membuka kunci tersebut.


Gibran menatap istri kecilnya yang sedang duduk dilantai dengan kepala yang tersangga di pinggir ranjang. Gibran memberi kode kepada Bi Lastri untu meninggalkan mereka, Bi Lastri pun mengangguk dan langsung pergi darisana.


Gibran berjongkok mensejajari Adiba, menyingkirkan rambut yang menghalangi kecantikan istrinya.


Adiba yang sadar akan kehadiran Gibran dengan cepat langsung memeluknya.


Maafkan aku.


"Sayang, kenapa kamu menangis" Suara Gibran terdengar sangat lembut.


"Aku takut sendiri, aku takut kamu pergi." Jawabnya dan kembali menangis.


Seperti hantaman dan peringatan keras untuknya, Gibran termenung persekian detik kemudian menatap wajah Adiba.


"Hey dengarlah, aku disini aku tidak pergi kemanapun. jangan takut aku akan selalu berada di sampingmu"


"Janji"


"Iya mommy" Suara kanak kanak Gibran membuat Adiba langsung tersenyum dan berfikir, betapa Gibran menginginkan seorang anak darinya.


benarkah dia mengingkan anak dariku?


Gibran menggengdong tubuh Adiba, membaringkannya di atas kasur dan seperti biasa, jika sudah berada di atas kasur maka sudah pasti itulah yang terjadi.


Hal itu Membuat Adiba melupakan tujuan awal, untuk mengungkapkan memberitahu suaminya tentang kehamilannya.


"Kau boleh ikut jika aku ke kantor nanti" Putus Gibran ketika mereka sudah selesai dalam kegiatannya dan kini sedang Adiba menulis nulis di atas dada bidang Gibran.


"Ah benarkah?" Wajah Adiba mulai berbinar, kini dirinya bisa selalu dekat dengan suaminya.


"Hmm" Gibran memeluk erat Adiba, tapi fikirannya kembali kepada wanita yang baru ia temui beberapa saat tadi.


Karna lelah akibat aktifitas ranjang mereka, membuat keduanya langsung tidur.

__ADS_1


__ADS_2