
Kecanggungan kembali melanda, ketika dua insan yang sedang berada dalam satu mobil itu bersama dalam satu atap roda empat.
Jika biasanya mereka ribut dan adu mulut, lain halnya seperti sekarang. karna hal lamaran tempo hari membuat Aisyah maupun Vino canggung dan lebih menjaga sikap.
Tidak ada kata cinta dalam lamaran kemarin, hanya ada permohonan dan ancaman. Ancaman yang penuh mesum tentunya. Hal itu pula yang membuat Aisyah sedikit ragu.
"Khem"
Vino berdehem untuk menghilangkan kecanggunnya. Mendapat kabar jika Anna dan aisyah bertemu sedikit membuat Vino gelisah.
Dia takut akan suatu hal.
"Apa ada yang anda butuhkan?."
Mungkin air, atau tisuue
Aisyah berusaha formal untuk lebih menghormati Vino yang memang notabene lebih dewasa darinya.
"Ada"
"Apa? akan aku ambilkan."
"Dirimu!"
Hmm? Diriku?
Kesetrum apa ketek paus ini! Hais kenapa canggung begini.
Mobil tiba-tiba berhenti. Eh, eh ada apa ini? apa mobilnya mogok?
Aisyah terkesiap ketika Vino membuka sabuk pengaman dan pergi keluar.
Mau kemana dia?
Laki-laki tersebut berjalan tanpa membuka atau mengajak Aisyah keluar. Lantas, Aisyah berjalan mengikuti Vino yang ternyata duduk di bangku disebuah taman kecil.
Aisyah takjub akan keindahan taman yang dipenuhi lampu lampu kota di tengah kegelapan tersebut.
"Duduklah!"
"Tapi aku ingin pulang"
Vino menatap gadis itu sekejap kemudian kembali kepada objek yang sedari ditatap olehnya. Hal itu membuat Aisyah terdiam dan langsung duduk diampingnya.
Canggung sekali Batin Aisyah. Lama mereka diam seribu bahasa hingga akhirnya Vino bicara.
"Bagaimana keputusanmu?."
Kan kan. Dia pasti menanyakan hal itu. bagaimana ini!
Aisyah menunduk, Wajah getir gadis itu terus saja berkeliaran di difikirannya.
__ADS_1
"Tapi."
Vino menatap Aisyah penuh harap, pancaran kekhawatiran terbit diwajahnya yang tampan. Wajah yang biasa memancarkan sorot tajam dan menakutkan itu sekarang seolah sirna. Entah apa yang membuatnya begitu,
"Tap, tapi bagaimana dengan dia?." Aisyah meremas jari usai mengatakan hal itu. Seolah mengatakan
Maafkan aku!
Vino memejamkan mata, ketika kata 'dia' muncul dari bibir gadisnya. Dia sudah menebak jika dia pasti akan mengetahuinya. Vino jelas mengerti maksud pembicaraan mereka.
Flasback on
Kala itu, seorang gadis cantik dengan gaun hitam mengungkapkan perasaan dengan percaya diri kepada pria yang sedang menunggu Gibran turun.
"Aku menyukaimu" Ujarnya tiba-tiba. Terlihat tangannya yang gemetar ia sembunyikan dibalik gaun.
Vino tak menghiraukan, dia menganggap jika Anna pasti hanya bergurau. Dia pergi ketaman belakang, karna ia sangat suka disana.
"saya permisi nona" Vino berjalan tanpa menunggun jawaban.
Anna yang mengikut, tiba-tiba memeluk sekertars Vino dari belakang.
"Vino, maafkan aku. Maafkan aku karna sudah mengabaikanmu demi Darren. pria brengsek itu! aku membencinya dan sekarang aku mau menerima cintamu" Anna menangis dipelukan Vino yang membelakanginya.
Anna memeluknya sangat erat.
Tak ada respon, pria berbadan kekar itu kemudian menggenggam tangan si wanita yang berada di dada kemudian melepas pelukannya.
Flasback off
Sekertaris Vino hanya diam. Kejadian menyakitkan itu ia simpan dalam-dalam, cukup Anna dan dirinya yang tahu. Tapi Aisyah? bagaimana dia bisa tahu dan mengartikan semuanya?.
Argghhh! gadis ini hampir membuatku gila sekrang!!
tidak menjawab ucapan Aisyah. Membuat Aisyah kembali terpaku.
Aisyah berdiri, Dia sudah mendapatkan jawaban. Kebisuan Vino menjawab semuanya.
"Aku ingin pulang" Ujarnya sambil berbalik.
Lelaki itu tetap diam, membuat Aisyah semakin terluka dalam kekecewaan. Hingga Aisyah tiba di samping mobil.
Grep.
Tubuh kekar dan kuat memeluknya dari belakang, sangat dekat dan erat. Aisyah bahkan dapat mendengar deruan nafasnya.
Vino membalikan tubuh Aisyah, membelai pipi gadis yang selama ini ia rindukan. Mengangkat dagu itu agar melihatnya dan
Cup.
Vino mencium lembut bibir yang selama ini hampir membuatnya gila. Kediamaannya bukan karna Anna, tapi karna Aisyah. Dia bingung, bagaimana menjelaskannya. Membayangkan gadis ini keceea saja dia tak sanggup apalagi kehilangannya.
__ADS_1
Tidak akan!
"Maafkan aku"
Aisyah diam.
"Aku membutuhkanmu bukan dia" Bisiknya yang kini sudah kembali memeluk Aisyah dengan sangat erat. Suaranya sangat seksual, seperti sedang menahan sesuatu.
Cintanya kepada Anna sudah sirna semenjak gadis itu memilih laki-laki lain. Baginya, bukan sebuah cinta yang sempurna jika salah satu dari mereka ada yang tidak menyukainya.
Sekertaris Vino lebih membuang perasannya dan menyibukkan dirinya akan kerja, kerja dan kerja. Hingga tiba pada saat gadis ini datang, dirinya lebih bersemangat untuk menjalankan semua aktifitasnya.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, padahal gadis ini biasa saja.
Aisyah terdiam. Menatap lekat wajah pria itu, wajah tampan yang biasa memberikan sorot tajam kini sangat sendu.
"Apa kau yakin?" Aisyah kembali bertanya, dia tidak ingin Vino menyesal nantinya.
Selagi dia belum membuka lebar hatinya. Maka ia akan tutup kembali jika pria ini memilih wanita itu. Lagipula, apa salahnya? dia lebih cantik dan seksi.
"Ya." Jawabnya mantap, kemudian kembali menyerang Aisyah.
Tak sempat bibir Vino sampai, jari lentik Aisyah menahan bibir Vino.
"Eitss belum halal!."
"Sayang, kumohon!!"
Eh, apa itu? dia memanggilku sayang?.
Apa juga tadi? kenapa pria tua ini manja begini.
"No no no!." Aisyah memainkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri tanda tidak.
"hmmm Come on please!!." Pria tua itu memelas tanpa tau malu usia.
"Tuan Vino yang terhormat, kumohon mengertilah."
"Hm baiklah!." Jawabnya lesu dan langsung melepas pelukan mereka.
Aisyah yang tidak enak hati mencoba memberi pengertian kepada pria tua tak tau diri ini.
"Baiklah, baiklah. Aku berjanji jika kita sudah menikah akan melayanimu kapanpun dimanapun." Ucap Aisyah yang langsung menutup mulutnya dengan mata terbuka lebar.
Bodoh! ucapan menjijikan apa tadi.
Vino yang mendengar kata 'dimanapun dan kapanpun' langsung bersemangat dan berbalik menatap aisyah yang kini sedang merutuki bibirnya.
"Oke! deal" Jawabnya lantang
Matilah aku......
__ADS_1