PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Penyesalan Gibran


__ADS_3

Dengan langkah seribu, Gibran berlari demi mencapai ruangan VIP, bahkan dia rela memilih melewat tangga darurat karna padatnya lift rumah sakit.


"Maafkan aku" Lirihnya.


Bayangan Adiba yang menangis karna melihat dirinya bercumbu dengan Keyla terus berlarian dikepalanya. Hal itu membuat Gibran semakin merasa bersalah.


Gibran membuka handle pintu mengacuhkan para bodyguardnya yang memberikan sapaan.


Gibran mengambil nafas sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan. Jujur dirinya malu jika harus bertemu dengan Adiba. Dia sudah melakukan kesalahan, lebih lagi Gibran meninggalkannya semalam.


Tok tok tok


tak ada jawaban


"Sayang?"


Matanya menyapu seluruh ruangan. Bibirnya yang menyungging senyum sedikit demi sedikit pudar ketika tidak mendapati Adiba di tempatnya.


"Sayang, kamu dimana?" Gibran melanhkah masuk mencari cari di kamar mandi namun tetap tidak ada.


Gibran mulai murka ketika Adiba tak kunjung ditemukan. Gibran kembali keluar dan langsung menghantam 2 bodyguardnya.


Bugh


Bugh


Bugh!


Menarik kerah meja pria berbadan besar dan mendorongnya ketembok hingga terdengar bunyi benturan.


"Dimana Adibaku?" Bentaknya dengan nafas yang sudah memburu, matanya merah padam.


"Nyonya didalam tuan" Jawabnya ketakutan, dia tidak berani menegakkan kepala. Apalagi yang dihadapannya ini adalah Gibran Adelard Wijaya. Bodyguard lainmya semakin hanya menunduk takut tidak berani meski hanya membantu temannya yang di baku hantam apalagi membela diri.


"Bodoh!"


"Aku tidak akan mencarinya jika dia ada di dalam" Bentaknya lagi.


Bugh.


Buhh.


Puas menghakimi satu bodyguardnya, Gibran berlari menghantam teman satunya.


"Apa saja yang kalian lakukan hah?"


"Ma_maaf tuan" Hanya kata itu yang keluar dari mulut bodyguardnya, Gibran memejamkan matanya kecewa.


"Cepat cari, atau nyawa kalian taruhannya" Suara Gibran menggema. Membuat para Dokter berlarian menghampirinya.


Para bodyguard itu langsung lari kocar kacir dengan jantung yang bertedak cepat. Mencari keberadaan nyonya mereka, atau nyawa mereka taruhannya.


"Arghh!!!!" Teriaknya sambil tangannya menghantam tembok dengan keras hingga mengeluarkan cairan merah segar.


Gibran meyakini jika Adiba pasti sudah pergi. Kemana? entahlah. Apapun dan kemanapun dia harus menemukannya meski hatus ke ujung dunia sekalipun.


"Apa saja yang kalian kerjakan hah?" Gibran menatap tajam para Dokter yang tertunduk takut didepannya. Seperti dihakimi malaikat izroil mereka meremas jas putih mereka masing maaing.


Tidak ada yang berani menjawab.


"Cepat cari atau kuruntuhkan rumah sakit ini bersama kalian semua!!!" Teriaknya gentar. Amarahnya sudah memuncak.


Sekian banyak dokter dan anak buahnya disini, tapi tak ada satupun yang mengetahui tentang kaburnya Adiba.


Gibran yang kelimpungan setelah menghakimi dan memberi pelajaran kepada Dr. Aditya dan seluruh dokter lainnya karna tidak becus menjalankan tugas untuk menjaga keamanan pasien langsung menancap gas, membelah jalan kota dengan kilat.


"Sayang, kenapa kamu pergi" Geramnya mencengkram kemudi. Air matanya lolos tanpa permisi.

__ADS_1


"Tidak! aku tidak akan membiarkanmu membawa anakku" Ucapnya tegas, mata tajamnya menatap jalan di depannya.


"Hallo?" Suara Sekertaris Vino disebrang setelah Gibran mengangkat telpon. Tanpa menjawab, Gibran hanya mendengarkan apa yang diucapkan sekertarisnya. Lidahnya kelu, fikirannya hanya melayang kepada istri dan anaknya yang masih di dalam kamdungan.


"Tuan? anda baik baik saja?"


Tidak ada jawaban.


"Saya sudah menemukan nona Adiba" Setelah Mendengar nama istrinya membuat Gibran langsung tersadar.


"Benarkah? dimana dia?" Secerca harapan mulai terbit di mata Gibran.


"Anda tenang dulu tuan menepi lah!, nona baik baik saja." Vino menasehati, karna dari suara yang di dengar banyak deruan mobil yang tak jauh pasti tuannya sedang mengedarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Cepat katakan dimana dia! atau kubunuh kau Vin!" Suara Gibran bergetar.


Vino menghela nafas, selalu saja begini. Tuannya tidak pernah bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin.


"Baiklah, saya sudah mengecek cctv rumah sakit bagian jalan keluar ruangan dimana nona Adiba di rawat. Disana terdapat jelas gambar Tuan Zein membawa nona Adib.."


"Breng***!!" Rahang kokoh Gibran tercekat. Tangannya mengepal kuat ponsel yang di genggamnya hingga menimbulkan bunyi.


"Dimana dia sekarang?"


"Di Bandara Xx. Dari data yang saya dapat, sepertinya tuan Zein akan membawa nona Adiba ke negara X"


"Baji***n!" Amarahnya sudah membuncah Gibran membanting ponsel dan menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju bandara yang diucapkan sekertaris Vino.


Tak ketinggalan dengan si cerdik Vino, dia ikut serta menuju Bandara membawa para bodyguardnya dalam jumlah banyak.


Jika masalahnya sudah menyangkut emosi tuannya, Vino harus memakai tenaga Ekstra untuk menanganinya.


...---...


"Adiba? Zein? Aaaaaa!!!" Teriak Aisyah yang terharu akan kedatangan sahabatnya bersama pria ganteng.


Mereka kini telah sampai dikediaman Aisyah, Adiba meminta Zein mengantarkannya kerumah Aisyah untuk pamit sebelum mereka pergi, Zein yang memang menyayangi Adiba tentu saja memenuhi semua keinginan gadis tersebut.


Seperti semalam Zein sudah membawa Adiba ke Villa pribadinya, namun setelah sampai dan Adiba terbangun. Adiba sangat ketakutan dan ingin pulang saja kerumah mendiang sang ayah. Padahal butuh waktu berjam jam untuk mereka tiba di Villa tersembunyi Zein sambil menunggu surat surat Adiba untuk keberangkatannya esok.


Dengan sangat berat hati Zein kembali dan mengantar Adiba ke kediaman sang ayah, menyerahkan gadis tercintanya kepada Bi Inah ibu angkatnya sesuai permintaan Adiba. Tidak lepas begitu saja, Zein menyuruh anak buahnya untuk berjaga dirumah Adiba sebelum mereka berangkat esok pagi.


"Kalian mau kemana?" Tanya Aisyah setelah melepas pelukan. Dia melihat Adiba membawa koper besar.


"Aku ingin pergi" Lirih Adiba yang ragu akan keputusannya.


"Pergi kemana? Honeymoon lagi ya." Goda Aisyah sambil mencolek dagu Adiba membuat Adiba sedikit merona dan tidak enak akan kehadiran Zein.


"Tunggu, tunggu. Tapi honeymoon ko bawa tuan ganteng ini. Terus Gibrannya mana? Si tengil tu juga mana? biasanya mereka selalu berdua kayak lubang idung, Hahaha....mphh"


Adiba menutup bibir Aisyah dengan tangannya.


"Bisa gak si nanya nya satu satu"


"Hehe," Cengirnya


"Maaf, yaya. Kalian mau pergi kemana"


"Aku mau pergi kemanapun, asalkan tidak bisa bertemu lagi dengan suamiku" Lirih Adiba, tangisnya kini pecah. Aisyah kembali memeluk sahabatnya.


Aisyah ikut terharu dan menangis juga Zein yang ikut tersentuh hatinya. Adiba sangat menyayangi sahabatnya, sepertinya lebih baik jika Zein memutuskan akan membawa Aisyah meski hanya sekedar untuk mengantarkannya di ke bandara.


"Sebenarnya apa masalahmu ba?" Suara Aisyah lesu melihat sahabatnya menangis.


Adiba menggeleng.


"Lebih baik kita cerita di mobil saja, pesawatnya akan take off sebentar lagi. Aisyah maukah kau mengantar kami ke bandara?"

__ADS_1


Take off? iki opo to? Gumam Aisyah cengo.


Meski tidak mengerti akan ucapan Zein Aisyah mengangguk patuh membawa Adiba masuk kedalam mobil sebelum berpamitan kepada orang tua.


Selama di perjalanan, Aisyah antusias mendengarkan Adiba bercerita. Aisyah ikut geram dibuatnya, tangannya mengepal keras.


"Kusumpahi tu cowok jadi banci!!" Geramnya


Aisyah tidak menyangka jika pria berwajah tampan itu ternyata penghianat. Benar apa yang di ucapkan bapa dan ibunya jika kita memilih pria, jangan hanya dilihat dari parasnya saja. Tapi lihat juga agama dan akhlaknya. Soal paras itu nomor sekian.


"Beraninya maenin dua cewek!! kayak yang kuat aja tu tongkat ngelawan dua cewek!!" Sumpahnya membuat Adiba sedikit tertawa.


"Kenapa kamu ketawa? lagi mewek juga masih aja ketawa" Kepalang aisyah yang sudah geram zein yanh sedari tadj mendengarkan juga ikut tertawa.


Adiba yang tertimpa masalah, kenapa Aisyah yang ribut geram.


"Sudah lah mungkin ini sudah menjadi takdirku" Ucap Adiba lembut.


"Hm ulululu" Aisyah kembali memeluk adiba


Zein tersenyum melihat persahabatan mereka.


"Tapi kau mau kemana?" Aisyah melepas pelukan dan baru teringat tujuan pertanyaannya.


"Ke negara X" Potong Zein.


Zein sengaja menjawab karna Adiba memang tidak tahu akan dibawa kemana. Sedangkan Adiba hanya diam memikirkan nasibnya negara tersebut tanpa orang yang dikenalnya kecuali Zein.


Pria itu sangat baik, tapi Adiba belum bisa menerimanya. Hati Adiba masih menyimpan nama Gibran suaminya, meski Gibran tega mengkhianatinya tapi Adiba tetao mencintai ayah dari bayinya.


Semalam setelah Zein menyerahkan Adiba kepada Bi Inah, Zein sempat mengutarakan perasaannya dan berniat menyunting Adiba. Menerima segala kekurangan Adiba.


Kehamilan menjadi alasan bagi Adiba, orang yang sedang hamil tidak bisa melaksanakan ijab qobul. Zein pun dengan tegas menjawab akan siap menunggu bayi itu lahir dan mau menjadi ayah dari bayi tersebut.


"Negara X?" Tanya Aisyah dengan mulut menganga, zein mangangguk.


"Pengen ikutttttt!!" Rengek Aisyah.


"Ntar Ibu sreng bapa sopo yang jaga" Cegah Adiba.


Sebenarnya Adiba ingin sekali mengajak Aisyah, tetapi itu tidak mungkin. Aisyah mempunyai keluarga lengkap yang nanti akan mencari, tidak seperti dirinya hang hidup sebatang kara tanpa sanak saudara.


lagi lagi Adiba menahan isak tangis di depan Aisyah dan Zein, kesedihan pahit yang tidak akan bisa dirasakan orang lain.


Aisyah mebgerucutkan bibirnya.


"Jika ada waktu saya akan menjemputmu untuk berkunjung kesana" Bujuk Zein dengan mata yang fokus kedepan.


"Benarkah?"


"Hmm"


"Oalah om cakep ini bae sekali"


Di bandara X.


Adiba tak henti hentinya menangis, bagaimanapun negara ini negara tempat dirinya dilahirkan. Negara dimana keluarganya dilahirkan.


"Jaga dirimu baik-baik" Ucap Aisyah lembut.


"Hemm, jangan lupa kabar kabar ya, vc juga. akupun ingin tahu gimana negara disana"


"Hemm"


Adiba memeluk Aisyah lama, melepas kerinduan yang sekaan tak akan jumpa lagi.


"Om, jaga sahabat ku ya" Lirih Aisyah dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


Zein tersenyum merangkul pundak kecil Adiba. Adiba sedikit tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Zein.


__ADS_2