
Adiba dan Gibran berjalan memasuki mobil sport hitam miliknya diantar kedepan oleh Mama Alexa dan sekertis Vino.
ketika mobil melaju dan hilang dari pandangan barulah mama Alexa pergi meninggalkan posisinya, sedangkan sekertaris Vino pergi menuju perusahaan menghandle semua tugas Gibran.
Di perjalanan,,,, seperti biasanya hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
Gibran berperang dengan pemikirannya soal Shella yang tak kunjung selesai, berbeda dengan Adiba yang diam karna takut mendapati hukuman. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya mengepal seakan meminta kekuatan.
Karena melamun Gibran baru menyadari jika jarak beberapa meter lagi ia hampir menerobos lampu merah dan
Citttt
Dengan tiba-tiba Gibran menginjak rem dengan sangat keras, membuat Adiba yang tak menggukan safety belt tersungkur kedepan.
"Apa kau mau mati hah? pakai sabukmu!!!" Bentak Gibran dengan nada yang tinggi
Kemudian Gibran beranjak dari duduknya menghadap Adiba dan memakaikan safety belt yang mengunci tubuh Adiba
Adiba memenjamkan matanya takut mendengar bentakan Gibran yang menggelegar di gendang telinganya.
"Kenapa memejamkan mata?
kau berharap kucium lagi?." Lirih Gibran di dekat telinga Adiba hingga nafasnya pun terasa oleh Adiba membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ah,? Tidak-tidak." Jawab Adiba langsung dan memalingkan wajahnya kesamping.
Gibran mencengkram dagu kecil Adiba dan menghadapkan kewajahnya, perlahan gibran mendekatkan wajahnya ke wajah Adiba dengan tangan yang masih mencengkram dagu Adiba agar tidak memalingkan wajahnya lagi.
-Astagfirullah ya Allah kumohonnnn, tolong aku.
Batin Adiba yang makin memejamkan wajahnya, tangannya mencengkram kuat pakaiannya.
Gibran memiringkan wajahnya kenanan dan kini tinggal beberapa centi lagi bibir mereka bersentuhan.
Tittttt,, Tiiitttt, Tiiittttt
Suara klakson mobil yang berada di belakang
Gibran melihat lampu lalu lintas hijau yang menandakan waktu berjalan.
__ADS_1
"Shitttt" Kesal gibran yang langsung melepas cengkraman dan memposisikan dirinya di belakang kemudi.
-Huft, Alhamdulillah... Batin Adiba.
Hembusan nafasnya lega seperti baru mendapatkan kebebasan, berbeda dengan Gibran yang wajahnya sudah merah tetapi tetap fokus kedepan.
Adiba tidak berani walau hanya menolehkan wajahnya sedikit, ia merasa sangat malu karena sudah sedekat itu dengan Gibran. suasana kembali hening seperti semula bahkan sampai mereka sampai ke tempat tujuan.
Gibran memarkirkan mobil mewahnya ke tempat yang sudah di sediakan, banyak santri putra maupun putri yang berebut pandang dari kaca kelas ingin melihat siapa yang datang.
"Belajar dengan baik! jika kau tidak lulus. Tunggulah hukuman dariku.!" Ancam Gibran sebelum keluar dari mobil.
-Hah? siapa dia ini.
kenapa seenaknya menghukumku seperti itu. Dengus Adiba kesal.
Adiba ikut keluar dari mobil dan mengikuti langkah Gibran dibelakangnya menuju ruang Kepala sekolah.
Ratusan pasang mata mengarah ke Gibran dan Adiba yang sedang berjalan melewati kelas.
"Wahhh, tampan sekali."
"Siapa pria ganteng itu?"
"Ahhhh pangeranku sudah datang."
Kurang lebih seperti itulah lontaran ucapan santri putri ketika melihat mereka melewati kelasnya.
Seperti biasa, Gibran hanya memasang wajah datarnya. Wajahnya yang tampan dan putih, rambutnya yang hitam mengkilat dan pakaiannya yang sangat formal menggunakan jas hitam yang elegant menambah sempurna dirinya.
Ketika sampai diruang kepala sekolah, Pak Harman yang mengetahui akan kedatangan donatur terbesarnya datang membungkukan badan dan memasang wajah semanis mungkin.
-Kenapa pa Harman ikut membungkukan badan juga?" Tanya Adiba yang heran kemudian menepuk jidatnya pelan.
"Selamat datang tuan Gibran, suatu kehormatam besar anda sudi menginjakakan kaki disini." Sapa Pak Harman yang kemudian mengangkat tangannya untuk menjabat.
Gibran hanya membalasnya dengan senyuman kemudian ikut mengangkat tangannya membalas jabatan tersebut dan kemudian duduk di bangku tepat di hadapan meja pak Harman.
Gibran menarik tangan Adiba yang hanya berdiri dibelakang, agar duduk disampingnya.
__ADS_1
Pak Harman melongo melihat Adiba sedekat itu dengan orang penting seperti Gibran bahkan tangannyapun lebih dulu digenggam oleh Gibran.
"saya hanya mengantar calon istri saya untuk mengikuti ujian terakhir dan akan langsung menjemputnya jika ujian selesai." Ucap Gibran menjelaskan
Pak harman makin terbelalak matanya mendengar kata Calon istri, Pak Harman menatap Adiba meminta keterangan.
Adiba hanya menundukan kepalanya malu.
-Ya ampun,,, kenapa dia sangat tidak tahu malu mengatakan hal seperti itu. Batin Adiba
"Bisakah anda menjaganya?" Timpal Gibran lagi yang melihat Pak Harman hanya menatap Adiba.
"Ah, yaya pak.
saya akan menjaganya dengan baik, dia memang siswa tauladan disini." Jelas Pak Harman yang membuat Gibran menyunggingkan senyuman.
"Terimakasih, saya permisi undur diri." Ucap Gibran yang lansung beranjak pergi meninggalkan Adiba dan Pak Harman.
Adiba sudah kembali ke kamarnya ia disambut sorak sorai oleh teman-temannya yang bahagia dan kagum akan kedatangan Adiba.
"Adibaaaa." Teriakan Aisyah yang langsung berhamburan memeluk Adiba ketika melihat kedatangannya.
"Ih, kebiasaan deh.
gendang telingaku hampir pecah mendengar suara petasanmu itu." Ketus Adiba
"Hehe, ya maafff
abisnya aku seneng banget kamu kembali lagi dan diantar oleh pak ganteng itu tu." Goda Aisyah yang mecoel dagu Adiba
wajah Adiba merah seperti kepiting rebus karna mali mendengar ucapan Aisyah.
"Aku belelet Syah, bentar ya." Ucap Adiba yang langsung berlari keluar tak tahan menanggung malu.
Aisyah dan beberapa temannya yang berada disitu cekikikan melihat tingkah sahabatnya yang lugu itu.
Adiba berhenti disebuah lorong ketika nafasnya sudah tersengal-sengal, ia mengatur tarikan nafasnya dan
"Hei lepaskan!!! siapa kamu!!!,,,,"
__ADS_1
Belum sempat Adiba membereskan ucapannya orang ini sudah membekap mulut Adiba dengan tangannya dari belakang dan membawanya ke halaman belakang sekolah yang sepi.