PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Liburan


__ADS_3

Lama menunggu, akhirnya mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti. Suasana alam yang indah dan asri membuat Adiba menggigil tapi enggan membuka matanya.


Gibran menggendong Adiba dan membawanya ke sebuah Vila paling tinggi di puncak tersebut.


"Selamat datang tuan" Sapa Bi Lastri membungkukan badan.


"Dimana kamarnya?" tanya Gibran pelan agar tidak membangunkan istrinya.


Bi Lastri sudah membersihkan kamar tuan dan nyonyanya sebelum mereka tiba. Dia memang ditugaskan menemani liburan Gibran dan Adiba disini. Bi Lastri dikirim oleh sekertaris Vino malam hari ketika sekertaris Vino mendapatkan tugasnya.


Gibran mengikuti langkah Bi Lastri masuk kekamar yang terdapat dilantai dua, dia membaringkan tubuh Adiba dengan sangat berhati-hati, menarik selimut hingga kelehernya dan tak lupa juga mengecup kening Adiba.


Kemudian Gibran keluar menemui sekertaris Vino yang sedang membereskan barang-barang diikuti Bi Lastri.


"Bagus juga seleramu, tak salah aku memilihmu" Ucap gibran menepuk pundak Sekertaris Vino.


"Terima kasih tuan" Jawab sekertaris Vino tersenyum.


"Apa kau sudah menjemputnya?" Tanya Gibran menyelidik.


Sekertaris Vino menyerngitkan dahinya heran.


"Anda benar-benar menyuruh saya menjemputnya tuan?" Tanya Sekertaris Vino.


"Kapan aku pernah bermain-main dalam berbicara." Gibran mulai meninggikan suaranya kesal.


"Jangan bilang kau belum menjemputnya...!" Tanya Gibran menyelidik.


"Belum tuan" Jawab Sekertaris Vino jujur.


"Bodoh! jemput sekarang. Dia bisa menemani Adiba jika kita pergi nanti" Tegas Gibran.


-Kau gila ya tuan! baru saja aku sampai, kau menyuruhku kembali menjemput orang aneh itu. Batin Sekertaris vino kesal.


"Baik tuan" Jawabnya manis berbeda dengan hatinya.


Mana berani sekertaris Vino membantah setiap perintah tuannya. dengan kaki yang sudah lunglai sekertaris Vino masuk kedalam mobil dan kembali kekota untuk menjemput Aisyah.


Ya, Gibran memang menyuruh Bi Lastri dan Aisyah ikut di acara liburannya. Semenjak kepergian Adiba, Gibran tetap memantaunya dari jauh. Menugaskan beberapa pegawal untuk berjaga disekitaran rumah Aisyah tanpa sepengetahuan pemiliknya.


Gibran juga telah menyelidiki teman-teman Adiba termasuk Aisyah, maka dari itu ia memerintahkan sekertaris Vino agar menjemputnya agar bisa menemani Adiba dikala dia pergi.


Karna Gibran tak hanya liburan disini, dia juga sedang menjalankan proyek barunya di kota asri ini untuk mengecek lahan yang akan dijadikan perusahaan cabangnya.


Melihat kepergian Sekertaris Vino, Gibran melangkahkan kakinya menaiki anak tangga Villa tersebut. Baru saja kakiknya menginjakan kaki di anak tangga ke tiga badannya berbalik menatap tajam kearah Bi Lastri membuat Bi Lastri menegang seketika.


-Apa ada yang salah denganku?. Batin Bi Lastri sambil meremas bajunya takut jika ia melakukan kesalahan.


"Jangan ada yang berani keatas, tanpa seinjinku" Titah Gibran kepada bi Lastri yang sedang membereskan barang-barang mengambil alih kerjaan sekertaris Vino tadi.


"Baik tuan" Jawab Bi Lastri menunduk.


Gibran mempercepat langkah kakinya, tak sabar dirinya bertemu dengan istrinya. Padahal baru berapa menit dia menunggalkannya.

__ADS_1


Gibran membuka pintu kamar, matanya mulai resah ketika tidak mendapati Adiba di ranjangnya. Gibran berjalan ke kekamar mandi


-Mungkin dia sedang membersihka dirinya. Batin Gibran.


Dia mengetuk pintu kamar mandi namun tak ada sahutan kemudian dia memutuskan untuk membukanya, tapi Adiba tetap tidak berada disana.


Gibran semakin panik, dia mengitari kamar yang baru mereka tempati. Matanya kembali berbinar, terdapat seulas senyum dibibirnya mendapati Adiba sedang berdiri di balkon Villa yang menghadap hamparan alam yang luas dan indah.


Posisi Villa yang berdiri kokoh dipuncak gunung membuatnya semakin menarik, pemandangan alam semakin terlihat dari balkon Villa tersebut.


Tanpa memanggilnya, Gibran langsung memeluk Adiba dari belakang.


"Aku sudah panik mencarimu, ku kira kau kemana" Ucap Gibran pelan di dekat telinga Adiba


"Memangnya kau fikir aku akan kabur kemana di tempat sepi dan indah ini" Jawab Adiba tanpa berbalik, dia sudah mengetahui siapa yang memeluknya ini. Wangi maskulin yang selalu menyihir indra penciumannya.


Gibran mencium tengkuk lembut Adiba, Adiba yang sudah terbiasa dengan tingkah suaminya hanya diam menerima semuanya.


Angin sepoi alam menerjang tubuh dua insan tersebut. Adiba merentangkan tangannya menikmati setiap desiran angin yang menerjang tubuhnya.


Gibran tersenyum bahagia, melihat Adiba menikmati indahnya alam disini. Dia bertekad dalam hati akan memberikan reward kepada sekertaris sialannya karna berhasil membuat suasana romantis tanpa memperlihatkan sesuatu hal yang mewah dan glamor.


"Apa kau menyukainya?" Tanya Gibran sambil membalikan tubuh Adiba agar menghadapnya.


Adiba tersenyum, dia benar-benar menikmati pemandangan alam indah yang jarang ditemuinya ini.


"Terimakasih" Ucap Adiba refleks memeluk tubuh Gibran.


Gibran yang mendapat serangan tersebut, tentu saja berbunga-bunga. Hatinya mulai berlonjakan tak beraturan ketika tubuh mereka sedekat ini.


"Will you be mine?" Ucapnya sambil membuka kotak merah tersebut.


Adiba menutup mulutnya tak menyangka Gibran akan melakukan ini, terlihan satu cincin emas dengan berlian merah yang sangat mengkilat.


"Maukah kamu mau menjadi milikku?" Tanya Gibran kembali.


Tubuhnya sudah berkeringat menunggu jawaban istrinya, dia seperti sedang disidang para dosen ketika akan lulus S3. Tidak! lebih menegangkan dari itu baginya sekarang.


-Please. Batin Gibran memohon


Adiba menatap lekat wajah suaminya yang sedang membungkuk dihadapannya. Ingin sekali Adiba berteriak dan mengatakannya. Aku mau suamiku. Tapi, bibirnya terasa kelu.


Kenangan Gibran yang selalu memperlakukannya dengan tidak baik dan hubungan Shella yang belum selesai membuatnya ragu.


Adiba tidak sanggup lagi di posisi ini, dia berbalik dan berlari agar bisa menghindarinya. Tapi tangannya telah dicekal oleh Gibran.


"Kenapa? apa kau tidak ingin menjadi milikku?" Tanya Gibran yang mulai kecewa.


Adiba tidak menjawabnya dia hanya menundukan kepalanya tanpa berani menatap wajah suaminya.


"Apa kamu tidak mencintai suamimu?" Tanya Gibran lagi sambil menekankan ucapannya.


Adiba semakin bingung dengan posisinya sekarang, dia memberanikan diri mendongkakak wajah menatap wajah Gibran. Mencari kebohongan dan keraguan akan penuturannya.

__ADS_1


Tapi nihil, hanya ada keteguhan hati dan kecemasan menanti jawaban diwajah Gibran.


"Aku kamu tidak mencintaiku sebagai suamimu?" Tanya Gibran mulai menaikan suaranya membuat Adiba terlonjak.


"A_aku mencintaimu, tapi bagaimana dengan kekasihmu?" Jawab Adiba terbata-bata.


Gibran menaikkan satu alisnya.


-Kekasih? kekasih yang mana fikirnya.


-Ah ya, Shella! dia belum mengetahui tentang kebusukan wanita itu.


Gibran tersenyum lebar menatap wajah Adiba. Dia langsung mendekap Adiba kedalam pelukannya.


"Aku sudah memutuskan hubungan dengannya jauh sebelum aku mencintaimu" Jawab Gibran kemudian menghujani ciuman kepuncak kepala Adiba.


Adiba melepaskan pelukannya dan menatap wajah Gibran meminta penjelasan.


Gibran mulai menceritakan semuanya, mulai dari tertangkap basahnya penghianatan Shella di malam pernikahan mereka dan kedatangan Shella di Apartemen waktu itu dan meminta maaf soal Zein yang mengatakannya sebagai pembantu.


Adiba bernafas lega mendengarnya. Tenyata, suaminya tidak seburuk yang difikirkannya. Adiba tersenyum manis karna cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan.


"Will you be mine?" Tanya Gibran lagi


Dengan senang hati Adiba menjawabnya. "Aku mau suamiku" Jawab Adiba tulus dari dalam hatinya. tidak lagi karna ancaman ataupun tekanan.


Kebahagiaan Gibran menghampirinya, dia langsung memakaikan cincin indah itu dijari manis istrinya. Mencium cepat bibirnya dan menggendong tubuh Adiba kemudia berputar-putar di balkon tersebut.


Villa indah dan pemandangan asri yang luas menjadi saksi bisu pernyataan cinta mereka. Gibran menurunkan Adiba dan memeluknya dengan sangat erat.


"Uhuk,uhuk" Adiba terbatuk karna sesak nafas saking kuatnya Gibran mendekapnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Gibran khawatir.


"Kau ini! kau benar-benar seperti kingkong tua jika sudah memelukku" Kesal Adiba memarahi Gibran.


Gibran yang mendapat amukan singa betina tersebut malah tersenyum geli.


"Sudah berani memarahi suami dan mengata-ngatainya ya sekarang...!" Ucap Gibran menahan tawa dan hendak menyerang Adiba dengan jurus kelitikannya.


Adiba yang mendapat ancaman segera berlari kedalam kamar menjauhi kingkong tua itu.


"Hahaha maafkan aku, tolong jangan mulai lagi" Teriak Adiba yang sudah berlari.


Gibran mengejarnya dengan berlari kecil, mengejar istrinya di tempat kecil seperti ini tentu sangat mudah baginya bahkan dia mampu mengejar Adiba sampai keujung duniapun saat ini. Tapi Gibran sengaja mengalah karna ingin bermain-main dan menikmati liburan mereka sekarang.


***


Hay, hay para readersku yg setia.


Bagaimana ni menurut kalian episode kali ini, mohon keritik dan sarannya ya.


Maaf juga jika ada kesalahan bahasa inggrisnya, author tidak mahir berbahsa inggris😁🙏 mohon dimaklumi.

__ADS_1


Author juga ingin mengucapkan banyak terimakasih yg sudah vote dan likenya. jangan bosen-bosen ya


Salam hangat, happy weekend🤗❤


__ADS_2