PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Hantu....!


__ADS_3

Setelah kepergian Adiba, Aisyah segera masuk kedalam kamarnya. Takut jika Vino kembali menyerangnya.


Adiba yang baru menghampiri Gibran langsung direngkuh pundaknya, kemudian Gibran menggiring tubuh Adiba masuk kedalam kamar mereka.


Adiba kembali jengah ketika tangan Gibran kembali meraba tubuhnya dan mulai masuk kedalam bajunya.


"Kau tidak mau makan?" Tanya Adiba sambil menyodorkan sendor berisi makanan.


"Tidak, aku ingin ini saja!" Gibran tersenyum mesum sambil menunjuk dua gundukan besar kemudian langsung memasukan kepalanya kedalam piyama lebar milik Adiba


Adiba hanya menghembuskan nafasnya kasar dan mulai menyantap makan malamnya meski ribet dengan keberadaan Gibran yang menempel ditubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gibran disela kegiatannya.


"Hanya mengambil makanan" Jawab Adiba sambil mengunyah makanannya.


"Terus?"


"Terus apa?" Adiba berbalik nanya.


"Sebelum itu apa yang kau lakukan?" Jelas Gibran


"Oh, aku pipis di kamar mandi kecil tadi. Kenapa?" Kepo Adiba yang aneh terhadap pertanyaan Girban yang berlebihan.


Gibran yang sedang meminum vitamin mendongkakan wajahnya.


"Jangan kesana lagi, Ada dua hantu sedang berpacaran disana!" Jawabnya singkat kemudian melipat tangan di dadanya.


"Hantu sedang berpacaran?" Tanya Adiba merinding.


Khayalan Adiba kembali melambung tentang film horor yang pernah di tontonnya, gambaran matanya tertutup oleh bayangan kuntilanak, dua tuyul botak yang memakai cd putih, pocong, suster ngesot dan genderuwo.


Apalagi mereka sedang berada di daerah sepi dan puncak, bukan tidak mungkin jika hal mistis seperti itu ada benarnya.


Adiba melepas sendok dan memeluk erat Gibran.


Membuat Gibran tersenyum jahil.


"Apa kau takut?" Tanya Gibran sambil mengelus-ngelus pundak istrinya sambil memberikan ketenangan.


Adiba menganggukan kepalanya pelan.


"Maka dari itu, kau jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak ingin kau dimakan hantu itu nanti." Ucap Gibran dengan gagahnya.


"Hantu bisa memakan manusia?" Pekik Adiba mendongkakan wajahnya sedikit menatap wajah suaminya.


"Iya, apalagi mereka sedang berpacaran sudah pasti tidak ingin diganggu" Jawab Gibran terdengar menyeramkan.


Ucapan Gibran membuat bulu kuduk Adiba berdiri.

__ADS_1


Gibran melepas pelukannya dan berdiri.


"Kau mau kemana?" Lirih Adiba sambil menarik lengan Gibran membuat Gibran semakin tersenyum penuh kemenangan.


"Aku ingin kesana sebentar", Gibran menunjuk lemari buku


Mungkin dia ingin mengambil buku (begitu fikir Adiba).


Gibran berjalan perlahan menuju lemari buku.


"Aaaaaa" Adiba berlari kemudian memeluk Gibran dari belakang, ketika lampu kamar tiba-tiba mati.


Reaksi Adiba membuat Gibran semakin tersenyum jahil, istri cantiknya ini ternyata sangat penakut. Membuatnya bisa lebih mudah untuk terus menempel dengan istrinya.


Gibran berbalik badan.


"Jangan jauh-jauh dariku" Ucap Gibran kemudian mencium kening istrinya.


Adiba menganggukan kepalanya pelan, dirinya sangat takut sekarang. Belum selesai gambaran hantu-hantu di matanya ditambah lampu mati membuat suasana horor di Villa ini semakin kental.


Gibran menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di ranjang.


Gibran langsung menghimpit tubuh kecil istrinya dan mulai ******* bibir manis Adiba yang menjadi candu baginya. Adiba membalasnya dengan sangat lembut karna rasa takut yang masih memghampirinya.


Gibran yang geram akan balasan Adiba geram, dia melepas ciumannya dan mulai turun menciumi leher jenjang Adiba sampai turun tepat di daerah favoritnya.


Adiba merengkuh ketika tangan Gibran sudah bermain di area sensitifnya.


Mendengar lenguhan istrinya membuat Adiba semakin bersemangat, dia menelungkupkan wajahnya di area sensitif istrinya membuat Adiba semakin menjerit sambil menjambak rambut Gibran agar lebih masuk kedalam.


Gibran semakin tersenyum mesum, istri polosnya ternyata sangat menikmati setiap sentuhannya.


Dan dengan senang hati Gibran memenuhi permintaan istrinya semakin menelusupkan wajahnya, lidahnya semakin lincah menari-nari di dalamnya.


Adiba yang sudah kehilangan akal dan kesadaran semakin dibuat gila oleh suaminya ketika Gibran memulai penyatuannya dan mempercepat ritme gerakannya.


Adiba mencengkram keras tangan Gibran, karna permainan Gibran yang terlalu cepat dan lama hingga Adiba susah menyeimbangi permainan suaminya.


Entah sudah berapa kali Gibran mencapai pelepasan, menjelang tengah malam suara desahan-desahan Adiba dan Gibran tetap terdengar.


Dikamar lain, Sekertaris Vino sedang berendam air dingin untuk menghilangkan gairahnya yang sudah memuncak tadi. Vino lebih memilih kedinginan di cuaca puncak seperti ini, daripada harus menahan gairahnya yang tak bisa di kendalikan lagi.


"Sial...!" Umpatnya.


Vino merasa sangat aneh kepada dirinya sendiri yang mudah terpancing gairah hanya dengan mencium mulut cerewet Aisyah. Berbeda dengan para mantan yang pernah dicumbuinya, ia tidak pernah merasakan sampai segairah ini.


2 jam berlalu, Vino menyelesaikan mandinya dan mulai beranjak ke atas tempat tidur.


Tugasnya cukup banyak hari ini, membuatnya sangat lelah kemudian tertidur.

__ADS_1


...---...


Pagi harinya....


Bi Lastri sudah menyiapkan sarapan dibantu oleh Aisyah.


"Wah sepertinya enak" Ujar Adiba yang baru tiba bersama Gibran


"Iya dong, siapa dulu! Aisyah!" Jawab Aisyah dengan bangga.


Tak lama kemudian, Sekertaris Vino datang dengan fashion khasnya. Jas hitam dan sepatu hitam mengkilat menempel dikakinya sama seperti Gibran.


Vino yang mendengar ocehan Aisyah hanya memutar bola matanya malas membuat Adiba cekikikan, sedangkan Gibran hanya acuh dan memulai sarapannya.


Adiba terlihat celingak celinguk di dapur Villa tersebut.


"Apa yang kau cari?" Tanya Aisyah yang heran dengan tingkah Adiba, sedangkan Gibran dan Vino hanya menjadi pendengar sambil menikmati makanannya.


"Kau harus berhati-hati syah, mas Gibran bilang di kamar mandi itu ada hantu yang sedang berpacaran semalam" Ujar Adiba menunjuk kamar mandi kecil yang berada tepat di belakang mereka.


Ucapan Adiba membuat Vino yang sedang menyeruput kopi tersedak.


"Uhuk!" Vino menatap wajah Adiba kemudian beralih menatap tuan mudanya.


Gibran tersungging senyuman, membuat Vino mendengus kesal.


-Tamatlah juniorku!!!. Batin Vino memelas


sedangkan Aisyah meneguk salivanya.


-Ada hantu berpacaran dikamar mandi? jangan-jangan..! jangan-jangan tuan Gibran tau apa yang kulakukan dengan ketek paus sialan itu. Aaaa bisa digorok sma ema ni klo dia tau.


Aisyah menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, tak berani menatap suami dari sahabatnya itu.


"Kau kenapa sekertaris Vino?" Tanya Adiba khawatir sambil menyodorkan segelas air putih.


"Hey! apa yang kau lakukan!!" Bentak Gibran


"Aku? aku hanya ingin memberinya minum" Jawab Adiba polos.


"Kau ini! kau tidak boleh perhatian dengan laki-laki manapun selain aku!" Tegas Gibran dan langsung meraih gelas yang berada di genggaman Adiba.


Adiba menghela nafasnya kasar bisa-bisanya Gibran cemburu dengan sekertarisnya sendiri.


"Saya tidak apa-apa nona, terimakasih" Ucap Sekertaris Vino halus yang dijawab senyum anggukan oleh Adiba.


"Dan kau? kenapa melamun saja? ayo makan" Ucap Adiba mengagetkan Aisyah.


"Ah iya" Jawab aisyah cepat dan langsung melahap makanan di depannya.

__ADS_1


Suasana menjadi canggung karna ucapan Adiba tadi, semua orang tampak hanya sibuk dengan sarapannya masing-masing. Adiba yang heran dengan tiga manusia di depannya hanya menatap heran.


__ADS_2