PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
kuliah


__ADS_3

Gibran kesal dan bingung terhadap dirinya sendiri yang aneh, dia membenci semua perempuan karena menurutnya semua perempuan sama aja termasuk Adiba. tapi kadang dia marah jika Adiba ditatap pria lain.


Gibran berlalu keluar kamar dan duduk di sofa ruanh tv.


"Kapan terakhir kali gadis ini makan?" Tanya dokter Rino yang tiba-tiba datang dan duduk di depan Gibran.


Gibran berfikir sejenak.


-Makan? mana aku tau. Batinnya


Gibran mengingat sesuatu, dia beranjak kedapur diikuti dokter Rino dibelakang dan melihat sajian makanan yang tertata rapi. Gibran mengingat ucapan Adiba Saya menunggu tuan untuk makan.


-Benarkah dia sebodoh itu untuk menungguku?


-Sarapan? apa dia juga tidak sarapan. Batin Gibran


"Gadis bodoh!" Ucap Gibran yang membuat dokter Rino geleng-geleng kepala mengetahui maksud ucapan Gibran.


"Kondisinya lemah, tubuhnya kekurangan nutrisi." Jelas dokter Rino


Gibran menatap dokter rino lekat


"Tenanglah, aku sudah memberikan cairan nutrisi kedalam tubuhnya. Jangan biarkan dia telat makan lagi jika tidak ingin terjadi hal yang sama, bisa beresiko terhadap maghnya kembali." Jelas dokter Rino


"Baik, terimakasih." Jawab Gibran


"Sama-sama. Ingat! jika dia sadar nanti jangan langsung mengajaknya berolahraga."Ucap Dokter Rino mengangkat telunjuk kanannya sambil mengedipkan satu matanya.


"Sialan! pergi sana." mendorong tubuh Dokter Rino kepintu.


"Baiklah, baiklah.


aku permisi." Ucap dokter Rino tersenyum sebelum berbalik badan.


"Cih!" Umpat Gibran.


***


Gibran menatap lekat wajah Adiba yang pucat, muncul rasa iba dan kasian dalam dirinya. Adiba pasti tidak akan sampai seperti ini jika dia tidak menyuruh membereskan semuanya. (fikirnya)


Kemudian Gibran menyelimuti tubuh Adiba sampai ke lehernya.


-Bodoh! salah sendiri! kenapa juga harus menungguku untuk makan. Gerutu Gibran.


Gibran meraih ponselnya yang berada dalam saku dan mulai menghubungi seseorang.


"Carikan Asisten Rumah Tangga perempuan untuk bekerja di apartemenku!" Titah Gibran kepada sekertaris Vino dalam sambungan telpon.


Tanpa menunggu jawaban, Gibran langsung mematikannya secara sepihak.


Gibran melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah selesai dan menggunakan baju santainya Gibran kembali menatap wajah Adiba yang masih enggan membuka matanya.

__ADS_1


Merasa lapar di dalam diperutnya, Gibran pergi ke dapur. Terdapat banyak makanan yang tersaji disana, Gibran menyerngitkan dahinya melihat semangkuk besar sop Ayam favoritnya. Karena rasa laparnya yang meronta tanpa berfikir panjang Gibran langsung melahap sop tersebut.


"Enak! tak kalah dengan masakan mama."Ucapnya sambil mengunyah makanan tersebut.


Dirasa perutnya sudah terpenuhi, Gibran membersihkan jejak makanannya dan kembali ke kamar untuk beristirahat. Gibran kembali mengingat jika gadis itu belum sadar.


"Hey bangunlah!"Teriak Gibran menggoyangkan badan Adiba.


Adiba tetap dalam posisinya.


"Bodoh! enak sekali pingsan dan tidur di ranjangku!" Kesal Gibran kepada Adiba yang tak kunjung sadar.


Tak kehabisan akal, Gibran pergi kedapur dan kembali membawa segelas air putih.


Gibran memasukan tangan kanannya kedalam gelas lalu memercikkan air tepat diwajah Adiba


Tiga kali Gibran mengulang hal yang sama, Adiba baru sadar dari pingsannya.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Batuk Adiba


Gibran memberikan gelas berbeda yang berada diatas nakas.


Adiba meminumnya hingga habis tandas tak tersisa karena tenggorokannya kering.


"Sudah tidurnya?"Tanya Gibran sambil melipat tangan di dadanya.


"Ma_maaf maafkan saya tuan, apa yang terjadi?." Tanya Adiba sambil memegang kepalanya yang terasa berputar.


"Bodoh!! kenapa kau tidak makan hah?" Bentak gibran sambil mencengkram dagu Adiba.


"Maaf, saya sudah bilang saya menunggu anda dan tidak akan makan jika tidak ada ijin dari anda." Jelas Adiba.


Hati Gibran luluh mendengar ucapan Adiba yang sangat patuh dan sangat menghormati suami.


-Sebaik itukah dia. Batin Gibran


"Lain kali, kau tidak perlu menungguku." Jelas Gibran


"Baik tuan." Jawab Adiba menunduk.


"Sudah kucarikan ART untuk bekerja disini, kau tidak perlu melakukan pekerjaan lagi." Jelas Gibran.


"Hah? kenapa tuan? apa salah saya?


maafkan saya, saya akan bekerja lebih baik lagi." Ucap Adiba memasang puple eyesnya menatap Gibran, khawatir jika pekerjaannya tidak bagus. Padahal dia sudah menjalankannya dengan baik seperti yang biasa dilakukannya di astrama.


-Sial!! kenapa dia menjadi cantik begitu?. Batin Gibran menatap wajah cantik Adiba


"Singkirkan wajahmu!" Bentak Gibran memalingkan wajahnya.


"Hah? maksud tuan?" Tanya Adiba penuh keheranan.

__ADS_1


-Oh iya lupa, dia kan tidak sudi melihat wajahku. Batin Adiba sambil menundukan kepalanya.


"Bodoh!! Aku tidak ingin melihat wajahmu!


soal ART tidak ada bantahan!" Tegas Gibran yang tidak suka dibantah.


"Tapi kenapa tuan? maafkan saya.


saya akan bekerja lebih baik lagi, saya biasa melakukan hal seperti itu." Jelas Adiba agar Gibran percaya dia ahli dibidangnya.


-Biasa melakukannya?. Batin Gibran heran bagaimana bisa Adiba biasa melakukan hal yang biasa dilakukan ART, jangan...jangan...


"Bodoh!! aku mencari ART agar kau tidak bekerja." Bentak Gibran kemudian keluar kamar.


"Agar aku tidak bekerja? tapi kenapa?


Jika aku tidak bekerja, terus apa yang harus aku lakukan dirumah sebesar seperti ini." Gumam kecil Adiba.


Adiba mengikuti langkah Gibran dan berdiri di samping Gibran yang sedanh duduk si sofa sambil memijit dahinya.


"Maaf tuan, jika saya tidak bekerja. Terus apa yang harus saya lakukan di rumah sebesar ini." Tanya Adiba sambil memutar mata menatap seluruh ruangan yang besar itu.


"Bodoh!! kau bilang ingin kuliah!" Suara Gibran meninggi hingga mengejutkan Adiba.


-Ish, senang sekali memanggilku seperti itu. Aku punya nama tuan. Batin Adiba geram


-Iyasi, aku kan ingin kuliah. Batin Adiba berbinar-binar.


"Berarti anda menginjinkan saya kuliah tuan?" Tanya Adiba berbinar-binar.


"Aku tidak peduli!!" Jawab Gibran acuh


Adiba tidak menanggapi jawaban Gibran, pikirannya langsung tertuju kepada tempat kuliah yang selama ini jadi impiannya.


Gibran menatap wajah Adiba yang sedang berbunga-bunga.


-Cih! sebahagia itu dia. Batin Gibran.


"Makan dulu sana! jangan sampai kau mati di apartemenku!" Titah Gibran


"Ah iya, apa anda sudah makan tuan?" Tanya Adiba


"Aku tidak berselera makan bersamamu!" Jawab Gibran acuh sambil berjalan menuju kamar.


Adiba sedikit kecewa karena makanan yang dibuatnya susah payah itu sama sekali tidak disentuh oleh suaminya. Tetapi hatinya kembali berbinar mengingat dia akan kuliah.


Adiba menuju dapur untuk menyantap makanan yang dibuatnya sendiri.


Di dalam kamar...


"Cari tau apa saja kegiatan gadis bodoh itu sebelum menikah denganku!" Perintah Gibran kepada Sekertaris Vino dalam sambungan

__ADS_1


__ADS_2