PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Kekecewaan


__ADS_3

BRAK!!!


Suara pintu di


dobrak dengan sangat keras, pintu tersebut bahkan terhempas dari posisi


awalnya. Dua insan yang sedang dimabuk asmara itupun tersentak dan langsung


menghentikan aktifitas mereka. Shella yang selama ini di rindukan Gibran tengah


menyerahkan tubuhnya kepada pria lain, mata Gibran menghunus pada tubuh Shella


yang polos ditambah dengan keberadaan seorang pria diatasnya membuat amarah


Gibran langsung semakin naik hingga ke ubun-ubun.


Semua para


pengawal, sopir andalan dan sekertaris Vino berpencar mengelilingi ruangan


kamar tersebut.


"Gibran, kau?" Suara seorang pria


yang sedang berada diatas tubuh Shella itupun langsung mengambil selimut dan


baju-bajunya yang berserakan, secepat kilat ia memakai bajunya dan melempar


baju Shella ke wajahnya.


Sial!


dimana para pengawal ku! Dasar bodoh!.Batinnya kesal ketika menangkap semua wajah


bodyguardnya yang lumpuh.


"Beraninya kau Darreen!"


Rahang Gibran


mengeras, Gibran langsung berlari menuju Darren dan menghadiahinya pukulan yang


sangat keras di wajahnya, seketika Darren pun tersungkur di lantai. Bukan takut


melihat amarah Gibran yang menggebu, Darren malah menyunggingkan seringai tipis


di ujung bibirnya yang terdapat darah segar.


"Hahahahaha.” Tawa Darren menggema, menutupi


seluruh pendengaran Gibran. Gibran menutup mata.


“ lihatlah!betapa menyedihkannya dirimu. Melihat kekasih


yang selama ini kau rindukan tengah bercinta dengan sahabatnya sendiri!"


Shella


menggigit bibir mendenga ucapan Darren yang sedang mencari mati.


"shitttt"


Tanpa menjawab


cibiran Darreen, Gibran langsung memberikan pukulan secara membabi buta. Darren


tergeletak dilantai dengan bersimbah darah diiringi dengan teriakan Shella ynag


histeris. Gibran melangkah mundur dan mengarahkan pistol yang sudah


digenggamannya itu tepat kearah kepala Darren.


"Hentikan!" Shella berlari dan bersimpuh


dikaki Gibran.


Mata Gibran


lagi-lagi terpejam. Kekecewaannya bertambah ketika Shella sampai bersimpuh


untuk jaminan nyawa pria brengsek itu.


"Beraninya kau membelanya!" Amarah

__ADS_1


Gibran semakin naik melihat Shella membela sahabatnya yang sudah menjadi pria


bajingan itu.


"Aku mohon hentikan, hiks hiks hiks. Aku akan menjelaskan semuanya."


Berucap dengan


terbata-bata melihat Gibran tetap mengarahkan pistolnya kearah Dareen. Sedang Dareen


semakin menyunggingkan senyumannya karena tanpa bersusah payah dia mempunyai


senjata tajam untuk melawan Gibran yang tak lain adalah Shella.    Melihat sunggingan senyuman Dareen membuat


darah Gibran semakin mendidih.


dan


 


DOR!!!


TIDAKKKKKK!!!


*


*


*


Brukk.


Badan pak Ahmad


ambruk ketika timah panas tepat mengenai perutnya. Shella berlari secepat kilat


dan mendorong lengan Gibran hingga tembakan itu tepat mengenai perut pak Ahmad.


Ya, yang terkena tembakan Gibran ialah Pak Ahmad supir andalannya Gibran,


Ayahnya Adiba, harta paling berharga bagi Adiba


"Beraninya kalian!!! Secepat kilat


disampingnya.


"Ikat dia! Kenapa kalian diam saja brengs*k!”


Gibran


melangkan kearah Darren yang susah bersusah payah berlari, memberinya bertubi-tubi


pukulan dari belakang. Darren berbalik membalas pukulan Gibran dan sukses mengenai


wajah tepat di matanya membuat Gibran langsung tertunduk memegangi wajahnya


yang berdarah.


Darren kembali


berlari, tetapi larinya tak kalah cepat dengan Timah panas yang dilayangkan


Gibran kepadanya.


DORRR


Suara tembakan


kedua terdengar nyaring. Tubuh Darren ambruk seketika diirngin dengan jerita


Shella menggema mengisi seluruh ruangan.


Flashback Off


Adiba terbangun


ketika tetesan air mata Gibran mengenai wajahnya. Secepat kilat Gibran


menghapus air mata sialan itu, sebelum gadis itu menyadarinya.


Gibran benci


menangis, dia benci ketika menjadi lemah, itulah air mata kedua yang keluar setelah

__ADS_1


kematian sang ayah. Kesedihan Adiba mengingatkannya pada kesalahan terbesarnya


kepada pa Ahmad, orang yang mempunyai banyak jasa terhadap keluarganya, bukan


membalas jasa tersebut Gibran malah tega membunuhnya meskidia sendiri tidak sengaja


melakukannya. Namun, Baginya itu sangatlah bodoh dan gila ia mengutuk dirinya


sendiri dan bersumpah akan bertanggung jawab terhadap keluarga pa Ahmad.


Setelah


mendapat info dari sekertaris Vino jika pak ahmad hanya mempunyai satu keluarga


yaitu putri tunggalnya Adiba yang masih sekolah dan tinggal di pondok pesantren


yang lumayan terkenal di kota X. Gibran langsung bergegas menjemput gadis itu


untuk mengantarkan pa Ahmad ke kediaman terakhirnya.


Ketika sedang


bergelut dengan dunia lamunannya, seketika Adiba mendorong dada Gibran yang


sedang melamun itu hendak berdiri dan


Bruk


"Auw!"


Kepala Adiba terbentur atap mobil ketika hendak berdiri dan ia pun kembali


ambruk di pangkuan Gibran.


"Lepaskan" Sentak Adiba kesal.


Menyingkir dari


posisi tersebut dan duduk di sebelah Gibran.


Tanpa disadari


tersungging senyuman disudut bibir Gibran karena tingkah Adiba yang menurutnya


lucu. Namun secepat kilat wajahnya kembali berubah datar seperti yang menjadi


khasnya.


"Kita sudah sampai tuan muda"


suara Vino


memecah keheningan.


Mata adiba


mengarah ke arah kaca mobil disampingnya, pandangannya menyapu semua tempat


pemakaman tersebut. tampak dari kejauhan sekerumunan orang disana


seketika Adiba


kembali teringat sang Ayah


"Ayah" Adiba kembali meneteskan air


bening dari ujung matanya. Gadis tersebut langsung turun dari mobil dan berlari


menuju ke kerumunan yang tak jauh itu. Awalnya Adiba mengira jika pria ini


hanya mengada-ngada, namun ternyata ini benar adanya. Ayah telah pergi.


"Ayah hiks hiks hiks" Suara Adiba


semakin pecah ketika dari kejauhan melihat bi inah (pembantu yang sudah ia


anggap ibu kandungnya) juga keranda hijau yang masih berdiam di samping


kuburan.


Adiba berlari


sekuat tenag, berharap apa yang dilihatnya ini adalah mimpi. Baru saja Adiba

__ADS_1


sampai, tiba-tiba….


__ADS_2