
Karna selalu teringat kepada gadis yang berada di apartemennya membuat Gibran ingin pulang lebih awal hari ini.
Gibran mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak sabar ingin bertemu dengan gadis bodoh itu. Rasanya Gibran mempunyai hoby baru sekarang, mengerjai gadis itu membuatnya senang.
Sesampainya di Apartemen tepat pukul 16:00 WIB, Gibran menatap Tubuh kecil yang sedang terbaring dikasur itu dengan seksama.
Terlihat Adiba tertidur sangat pulas seperti bayi, membuat Gibran kasian membangunkan dan menjahilinya. Gibran kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
Lama Gibran berendam didalam bath up, mengistirhatkan tubuh dan fikirannya sejenak.
-Apa aku sudah gila?
-Aku sudah mengambil kesuciannya. Aku seperti telah menjilat ludah sendiri. Sesal Gibran kembali mengingat ucapannya yang tak sudi menyentuh Adiba, tapi sekarang ia malah merenggut kesuciannya.
"Arrghhh" Teriak Gibran frustasi, membuat Adiba yang sedang tidur pun terbangun.
"Dia sudah pulang? matilah aku!!
Malah tidur disini." Refleks Adiba yang langsung bangun dan duduk mendengar teriakan Gibran.
"Aaa dia pasti sedang marah dan memikirkan cara yang pas untuk membunuhku!!! Aaa tuhan! tolonglah hambamu yang bodoh ini. aku masih pengen hidup dan menikmati sop durenku" Ucap Adiba mengangkat kedua tangannya seraya berdoa
CEKLEK
Pintu kamar mandi terbuka membuat Adiba gelapan karna takut.
Adiba menelan salivanya melihat tubuh sempurna Gibran yang hanya dibalut handuk yang melilit bagian bawahnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Gibran menatap wajah Adiba seperti ketakutan.
"Anda sudah pulang tuan?" Tanya Adiba yang langsung berdiri.
"Keringkan rambutku!" Melempar handuk kecil ketubuh Adiba dengan cepat Adiba menangkapnya.
Gibran duduk di sofa dengan mengangkat kedua kaki serta memejamkan matanya.
Tanpa banyak berbicara lagi, Adiba langsung memposisikan dirinya berdiri dibelakang sofa dan mulai mengeringkan rambut Gibran dan sedikit memijatnya.
30 menit berlalu Adiba berdiri di posisinya, rambut Gibran sudah kering sedari tadi. Tapi yang punya rambut tak kunjung menyuruh Adiba berhenti. Kaki Adiba mulai kram, tangan dan jari-jarinya sudah malas beraktifitas lagi.
Gibran tetap diposisinya duduk serta memejamkan matanya. Entah tidur atau hanya pura-pura tidur.
-Aaa kaki ku rasanya ingin patah, tolong lah tuan! kasihanilah aku sedikit saja. Kau ini hanya memejamkan mata apa tidur si. Batin Adiba kembali jengkel.
__ADS_1
"Anda pasti lelah, apa mau saya siapkan makan sekarang?" Tanya Adiba berhati-hati sambil perlahan melepas pijatannya
Dengan cepat Gibran mengenggam kedua tangan Adiba yang sedang memijit kepalanya.
"Sebentar lagi! teruskan pijitannya." Jawab Gibran yang masih memejamkan matanya menikmati tiap sentuhan Adiba yang membuatnya tenang.
-Ish dia tidak tidur ternyata. Kau sengaja ya membuatku berdiri selama ini. Huft sabar Adiba!!! Batin Adiba
2 menit kemudian Gibran langsung beranjak ke ruang ganti membuat Adiba yang fokus memijat terkejut.
"Eh, sudah selesai kah?" Gumam Adiba kecil.
Melihat kepergian Gibran tanpa berucap membuat Adiba bingung sekaligus senang.
"Kenapa dia ini?" Monolognya sendiri
Kemudian Adiba beranjak ke dapur membuat makan untuk suaminya, berhubung waktu sudah sore dan Bi Lastripun sudah kembali.
Seperti biasa, Adiba membuat sop ayam kesukaan Gibran. Lama bergelut dengan barang-barang dapur, akhirnya masakan pun telah jadi. meski sop yang kemaren tidak dimakan. Semoga aja sop yang ini dia menyukainya, begitu fikirnya.
Lama bergelut dengan peralatan dapur, Akhirnya Adiba telah menyelesaikan kegiatannya. Kemudian Adiba kembali ke kamar untuk memanggil Gibran.
Perlahan Adiba melangkahkan kakinya karena melihat Gibran yang sedang terbaring di kasur.
-Lagi tidur saja setampan ini, apalagi jika ikut fashion show kali ya, Haha. Batin Adiba
Namun tak ada balasan dari Gibran, kemudian Adiba berinisiatif untuk membersihkan badannya terlebih dahulu dan akan membangunkan Gibran kembali jika sudah selesai nanti.
-Sepertinya dia sangat lelah, sampai-sampai tidur tidak pakai baju. Adiba menyelimuti tubuh Gibran yang bertelanjang dada menggunakan selimut hingga ke lehernya.
***
Setelah selesai mandi dan sholat Adiba kembali menghampiri Gibran yang masih tertidur.
-Sepertinya dia perlu istirahat, aku akan menunggunya. Adiba meraih satu buku yang berada di rak dan membacanya di sofa tak jauh dari kasur.
Satu jam telah usai, buku yang Adiba baca sudah habis. Tapi Gibran tak kunjung membuka matanya, Adiba menghampiri Gibran.
"Tuan bangun, makanlah dulu." Seru Adiba sambil menggoyangkan badannya.
Gibran tak menjawab seruan Adiba, Kemudian Adiba beranjak hendak keluar kamar. Tapi tangannya langsung di genggam Gibran dengan kuat.
"Panas sekali tangannya." Gumam Adiba kemudian meletakan punggung tangannya di dahi Gibran.
__ADS_1
"Ya Allah, ternyata kau sakit tuan." Ucap Adiba panik dan langsung beranjak hendak mengambil air hangat untuk mengopres.
Dengan cepat Gibran menggenggam tangan Adiba.
"Jangan pergi"Pinta Gibran dengan mata yang masih tertutup
"Tidak tuan, saya hanya akan kedapur dan akan kembali lagi." Ujar Adiba sambil melepaskan genggaman tangan Gibran perlahan.
Adiba beranjak keluar menujur dapur dan kembali lagi dengan membawa nampan berisi air hangat dan handuk.
Adiba langsung mengompres Gibran dan mempertebal selimut yang digunakannya, tetapi Gibran tetap kedinginan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Cemas Adiba sambil menatap wajah Giban yang sangat pucat.
Dengan hati-hati Adiba meraih tangan Gibran, dan menggosok-gosokan dengan tangannya sambil meniupnya. Berharap kedinginan Gibran berkurang meski sedikit.
Karna gerakan yang diberikan Adiba membuat Gibran menarik lengan Adiba tanpa sadar. Hingga terjatuh tepat diatas tubuhnya dan mendekapnya.
Gibran yang mendapatkan kehangatan semakin mempererat dekapannya dan membalikan posisi mereka, membuat Adiba terbebelak matanya. Adiba bergerak melonggarkan dekapan Gibran.
"Diamlah!" Ucap Gibran membenamkan wajahnya di dada Adiba.
Gibran tidur dengan posisi mendekap Adiba kemudian mereka tertidur bersama hingga larut pagi melewatkan makan malamnya.
Flasback on
Gibran memejamkan matanya sambil menikmati pijatan Adiba hingga akhirnya tertidur. Gibran merasakan gerakan Adiba yang ingin pergi kemudian menghentikannya dengan menggenggam tangannya.
"Sebentar lagi!, teruskan pijatannya." Ujar Gibran sambil memejamkan mata
Dirasa pijatan Adiba sudah cukup, dan malah membuatnya ngantuk Gibran langsung beranjak keruang ganti memakai celana pendek khasnya ketika hendak tidur.
Gibran langsung membaringkan tubuhnya yang sangat lelah di kasur empuknya dan tertidur.
Gibran merasakan dingin yang tak biasa di tubuhnya kemudian Gibran menyadari Adiba menyelimutinya hingga membuatnya kembali tertidur dengan tenang.
Lama tertidur, Gibran kembali merasakan kehangatan yang berasal dari gerakan tangannya, Gibran tersenyum ketika Adiba adalah pelaku gerakan tangan yang membuatnya hangat. kemudian Gibran menarik lengan si pelaku dan mendekapnya.
"Diamlah!" Ucap Gibran karna Si pelaku itu tidak bisa diam.
Kemudian malah lebih mendekapnya membuat Gibran menemukan kehangatan baru dan nyaman hingga akhirnya tertidur.
Flasback off.
__ADS_1