PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Bingung


__ADS_3

Adiba


mengaduk-aduk isi cover bag itu, dan Nah! Adiba menemukan apa yang carinya. ia


hanya menggunakan bedak dan memakai secukupnya.


 Setelah selesai


dari kegiatannya, Adiba membereskan semuanya tanpa ada yang meninggalkan bekas


sedikitpun. Adiba ingat jika yang punya kamar ini adalah tuan Wajah datar yang


terhormat itu.


 Adiba kebingungan


ketika hendak membereskan baju seragam bekasnya tadi, kemudian ia mencari-cari


kantong bekas untuk tempat baju kotornya tetapi Hasilnya nihil.


 Haduh adibaaa, mana adasi kantong keresek di tempat seperti ini sih.Tak sadar dia menepuk keningnya sendiri.


Tak kalah akal,


Adiba kemudian menyatukan baju yang tidak dipilihnya tadi kedalam cover bag


Peralatan kecantikan, dan cover bag kosong itu ia gunakan untuk seragam


kotornya.


 Adiba keluar


kamar mandi sembari menenteng dua cover bag itu.


 DEGGG


Baru saja kakinya melangkah keluar, dia sudah disuguhkan dengan wajah


menakutkan itu lagi.Tuan si wajah


datar itu sudah berada tepat di depannya dengan tangan dilipat di dada dengan


sorot mata tajamnya. Adiba menunduk karena lagi-lagi mendapatkan tatapan


tersebut.


 Gibran menatap


Adiba lekat-lekat. Pria menatap Adiba dari ujung bawah hingga ujung atasnya.


Penampilannya kali ini sukses menarik perhatian matanya. Jika tadi gadi sini


hanya memakai segaram abu hingga terlihat cupu dan kanak-kanak, tapi sekrang


penampilannya lebih cocok dan enak dipandang.


 Cantik.

__ADS_1


Tak lama


kemudian


Hey apa yang kau fikirkan bodoh! dia hanya gadis licik. ingat itu! Gibran Memaki dirinya sendiri


 "Keluarlah!" Ucapnya datar


kemudian membalikan badan tidak ingin melihat gadis itu lgi.


 "iya tuan, terimakasih banyak" Menunduk


kemudian melangkah keluar melewati Gibran yang masih menyilangkan tangannya.


 "Cihh, bahkan dia tidak meninggalkan barangnya


sedikitpun.” Bergumam kecil namun masih terdengar oleh Adiba


 Tidak mau ambil pusing Adiba langsung berlalu


keluar menghampiri sekertaris Vino. "Biarkan saya yang membawanya nona" Ucap sekertaris Vino


menawarkan.


 "Tidak perlu tuan, ini tidak berat ko. Terima kasih." Menjawab dengan


wajah yang berseri.


 Sekertaris Vino


yang putih berseri itu sangat manis. Tubuhnya yang kecil dan akhlaknya yang baik


membuat Sekertaris Vino tersanjung.


 Sekertaris Vino


menatap lekat wajah Adiba, namun seketika ia langsung menundukkan wajahnya


mengingat Adiba adalah calon Istri dari tuannya.


 "Baiklah, mari nona."


 Adiba dan


sekertaris Vino berjalan berdampingan menuju Lift, ketika terbuka sekertaris


Vino mempersilahkan Adiba memasuki tempat makan.


 "Wahh, calon menantu mama cantik sekali"


Menghampiri Adiba dan langsung memeluknya. Mata Alexa menangkap benda yang di


tenteng menantunya kemudian mengambil alih cover itu tangannya dan


menyerahkannya kepada sekertaris Vino dengan tatapan tak kalah tajam dari


anaknya.

__ADS_1


 Suatu tindakan


protes, Beraninya kau menyuruh calon menantu Keluarga Adelard Wijaya


menentengnya sendiri! Kurang lebih seperti itu arti tatapan Alexa pada


Sekertaris Vino.


 Hufttt Buah memang tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. salahkan


calon menantu anda yang baiknya keterlaluan ini nyonya!!. Batin Vino.


 Alexa menuntun


Adiba duduk meja makan bundar yang sangat besar. Ada beberapa para pelayan yang


sedang menata makanan disana


 Kenapa sebanyak ini makanannya, seperti mau ada pesta? tetapi kemana


semua penghuni rumah besar ini?.Batin Adiba heran menatap begitu banyaknya


makanan yang disediakan.


 Adat kebiasaan


yang sangat jauh berbeda dengannya, Adiba terbiasa memakan makanan secara


ramai-ramai dalam satu wadah. Rasanya lebih nikmat dibandingkan jika harus


menikmatinya sendiri tanpa berbagi kepada orang lain.


 Tak lama


kemudian, seorang pria dengan fashionnya yang sangat formal tiba, sangat pas


dengan badannya yang tegap dan bahu lebar. Wajahnya sangat terlihat segar,


bahkan rambutnya pun masih lerlihat sedikit basah bahkan air kecil


menetes-netes dari sudutnya.


 Astagfirullahaladzim, datang lagi.


 Ah ya! dia kan penghuni rumah ini adibaa!! wajar


saja kau selalu bertemu dengannya.


 Tanpa menatap


siapapun, Gibran duduk dan meneguk air. Adiba khilaf, gadis itu menatap pria


yang dia katakana tua dengan lekat.


Masya allah. Gumamnya


dengan wajah yang berbinar-binar.

__ADS_1


__ADS_2