PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Extra part


__ADS_3

Flasback on POV Gibran.


Aku berteriak, memaki semua pekerja dan bodyguard yang tak becus menjaga istriku.


Adibaku menghilang, dia tidak ada. Aku sudah mencarinya di setiap sudut ruangan. Namun tetap tidak ada.


Disaat yang bersamaan, putraku menangis. Hal itu membuatku semakin merasa bersalah.


Apa yang akan kulakukan jika Adiba benar benar pergi dan meninggalkan kami.


Aku tidak mungkin bisa hidup tanpa gadis yang sudah mengambil hatiku itu.


Apalagi putraku, aku tidak mungkin bisa menjaganya sendiri.


Dengan langkah seribu aku menuju ruang cctv Rumah sakit, menggebrak meja dan berteriak.


"Tampilkan cctv dimana istriku dirawat dan temukan dia" Teriak ku dengan berapi api.


"Temukan dia atau aku habisi kalian semua" Lanjut ku, aku sangat marah.


Kemudian Vino datang dan menenangkan ku.


"Tuan, kumohon sabarlah!"


Bugh


aku menghajarnya, terus menerus. Membuat wajahnya babak belur karena ulahku. Pria sialan itu tidak menghindar apalagi melawan.


dia menerima setiap hantaman yang aku berikan.


"Sabar kau bilang hah?! Istriku tidak ada dan kau bilang sabar!" Menarik kerah kemeja dan mendorongnya hingga terbentuk ketembok.


"Dia pergi dengan perasaan kecewa karena kebodohan ku Vin!" Lanjut ku dengan air mata sialan yang sudah keluar.


Aku sudah tidak peduli dengan reputasi ku. Aku tidak peduli.


Yang kuinginkan hanya Adiba ku.


"Tuan, sabarlah. Ini bukan sepenuhnya salah anda"


"Aku bodoh! keparat, bajingan sialan!" Teriakku tanpa mendengarkan ucapannya.


"Arghhh!!!"


Teriakku frustasi, menyapu bersih meja yang ada di depanku. Ketidakhadiran istriku membuatku kehilangan akal.


"Tuan, istri anda ..-"


Suara petugas membuatku sedikit tersadar dan langsung berlari menghampiri.


..


Aku berlari dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun menuju tempat istriku berada.


Ingin aku mencabik cabik wajah Shella yang berani mengajak istriku keluar hingga membuatku kelimpungan mencarinya, membuat istriku menangis. Tak hanya itu dia juga memberikan senjata api kepada istriku.


Sekertaris Vino ingin menghampiri dan melindungi Adiba namun ku tahan.


Aku ingin tau sampai mana wanita itu berani mencampuri urusan seorang Gibran Adelard Wijaya.


Demi ayah dan keluargaku, aku akan menghukum berat wanita itu. Sumpahku.

__ADS_1


Aku menunggu Adiba dengan cemas, namun kecemasanku hilang ketika dia ternyata kembali kepadaku.


"Sayang kau darimana saja?" Tanyaku khawatir


Namun dia tak menjawab.


"Sayang, aku mencari mu kemana-mana" Aku tak putus asa.


"Sayang, putra kita tadi menangis dia membutuhkanmu" Lanjutku tak pantang menyerah.


Sebisa mungkin aku mendapatkan perhatiannya.


Aku mengikut masuk ketika Adiba terus berjalan masuk menghampiri Baby Brian.


Dia meletakan tas yang sempat ia bawa di brankar, aku memerintah Vino lewat gerak mataku.


Vino mengambil senjata tersebut dan menggantinya dengan yang kosong.


Aku melakukannya hanya untuk melindungi istriku, aku tidak ingin suatu hal terjadi padanya.


Aku tidak takut jika Adibaku membunuhku. Aku akan menerimanya. Tapi aku ingin hal itu terjadi karena keinginannya sendiri bukan karena hasutan orang lain.


Adiba berbalik dan mengatakan ingin pulang membuatku semakin cemas.


"Aku ingin pulang"


"Pulang? sayang kau baru saja bersalin." Seruku dengan cemas.


Namun dia tak mendengarkan, Adiba malah terus berjalan keluar.


"Aku katakan, aku tidak mengizinkanmu pulang Adiba Ahmand!" Teriakku ketika Adiba sudah diambang pintu.


Aku marah, karena Adiba tak biasanya membatah setiap ucapanku. Istriku yang lembut biasanya sangatlah manis dan penurut.


Gibran kau memang bodoh!!!


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin ada hal buruk terjadi padamu" Ucapku lirih.


sungguh, aku hanya tidak ingin terjadi suatu hal padanya.


"Hal buruk terjadi padaku? lalu apa gunanya dirimu?" Cibirnya.


aku meriah tangannya namun dia menolak.


sayang aku memang pria terbodoh. Namun perlakuan mu membuat hatiku semakin hancur.


"Oke oke, kita pulang" Ucapku Pasrah.


"Vin bawa mobil" Titah ku


"Tidak, aku ingin kau yang membawanya" Tolaknya semakin membuat pasrah.


"Baiklah" Lagi lagi aku hanya bisa menuruti permintaan istriku.


aku kembali memerintah Vino dengan gerak mataku, karna aku yakin akan suatu hal terjadi setelah ini dan benar saja.


ditengah perjalan, Adiba menodongkan senjatanya padaku. Aku terdiam menatap istri kecilku yang masih dibalut kemarahan.


"Keluar!" bentaknya padaku.


Aku keluar dan melihat wanita ular itu sudah ada disana bersama para bodyguard nya.

__ADS_1


aku tidak tau darimana dia mendapat kan bnyak bodyguard, karna seingatku aku sudah memutus semua fasilitas ku terhadapnya


bahkan sekertaris Vino sudah memenjarakannya


Vin, kau harus bertanggung jawab setelah ini.Geramku terhadap sekertarisku.


"Hallo sayang, apa kabarmu?" Sapanya,


sungguh, aku sangat jijik mendengar suaranya. apalagi melihat tanda kissmark yang banyak ditubuhnya.


dan sekarang aku tau, dia menjual diri untuk mendapat kan semuanya.


dasar gadis ******! aku sangat bersyukur karna mama menikahkan ku dengan Adiba.


"Ayo Adiba, tembak dia. Tembak pria yang telah menghancurkan keluargamu" Teriak Shella membuatku semakin marah.


Aku melangkah, mataku hanya berfokus pada wajah cantik istriku.


"Stop! sekali lagi kau melangkah, aku akan membunuhmu" Teriak Adiba.


Para bodyguard Shella menertawakan ku.


Aku tak peduli, aku menatap istri kecilku yang masih dibalut amarah yang menggelora.


Akan ku jamin kalian tidak akan bisa bicara lagi setelah ini. Hardikku.


Aku tau ini bukanlah istriku yang sesungguhnya.


Adibaku tak seperti ini. Dia gadis lugu dan polos. Tangannya bergetar ketika senjata itu ia arahkan padaku.


aku tak mendengarkan, aku kembali melangkah.


menggenggam tangannya.


"Ayo, lakukanlah" Ujar ku dengan tatapan sendu.


"Ayo Adiba, bunuh pria yang sudah membunuh orang tuamu itu"


ingin aku mencabik habis mulutnya.


Jika tidak ada Adiba, mungkin aku sudah berlari membunuhnya. Menghabisi seluruh body guard nya dengan tanganku sendiri.


Kemaranku semakin memuncak ketika dia mengambil paksa putraku dan mencubit keras hingga membuatnya menangis.


demi apapun aku akan membunuhmu.


"Ayo Adiba, bunuh pria itu atau aku akan menjatuhkan bayi sialan ini" Teriaknya


Adiba memejamkan mata, istriku takut takut ingin menarik pelatuknya.


dan ketika hitungan ketiga


Dor!!


Bodoh!!


Umpatku kepada pria sialan yang bernama Vino itu, dia sangat lambat dan lelet!!! dia hampir saja membunuh putranku jika telat sedetik saja.


Aku berlari meraih putraku yang dihempaskan ke udara, dan aku berhasil mendapatkan nya meski aku haris menjatuhkan tubuhku ke tanah.


Sangat lambat! Vino berhasil meringkuk habis Bodyguard Shella dalam hitungan satu jam.

__ADS_1


Aku menatap istriku yang terkejut. Dia sangat syok dan ketakutan.


Gibran POV off


__ADS_2