PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Mencari Adiba dan Aisyah.


__ADS_3

Setelah pengecekan lahan selesai, Gibran kembali melakukan perjalanan untuk menghadiri meeting penting bersama para karyawan yang akan bekerja diperusahaan barunya.


Sekertaris Vino yang sedang fokus mengemudi mobil, sesekali melirik kaca spion yang menghadap kursi belakang, dia melihat kegundahan dari raut wajah tuannya.


"Apa anda baik-baik saja tuan?" Tanya Sekertaris Vino yang sedari tadi memperhatikan tuannya.


Gibran menganggukan kepalanya pelan.


Setelah mereka sampai ditempat tujuan. Meetingpun segera dimulai, dipimpin oleh Gibran sendiri. Dia sangat bersemangat membangun perusahaan baru di tempat asri seperti ini. Baginya, ini adalah lahan emas yang mesti dikembangkan.


Selama meeting berlangsung, Gibran merasakan kegundahan dihatinya, wajah Adiba selalu membalut semua fikirannya. Dengan sekuat tenaga Gibran meyakini hatinya, jika Adiba baik-baik saja. Karna dia sudah menugaskan beberapa bodyguard untuk menjaganya dan kembali fokus untuk meeting hari ini.


Tak lama kemudian, ponsel sekertaris Vino berdering. Dia menghindar untuk menerima panggilannya.


Sekertaris Vino menerima panggilan tersebut, matanya langsung membulat sempurna ketika poselnya sudah bersuara jelas ditelinganya.


Sekertaris Vino, menghampiri dan membisikkan sesuatu kepada Gibran yang duduk di meja pemimpin meeting tersebut.


Gibran pun tak kalah terkejutnya mendengar kabar yang disampaikan sekertarisnya. Tanpa memperdulikan puluhan orang yang hadir di meeting tersebut, Gibran langsung melenggang pergi dengan berlari meninggalkan ruangan.


Sekertaris Vino yang melihat tuannya langsung pergi tanpa permisi langsung mengambil alih meeting tersebut.


"Rapatnya kita lanjutkan minggu depan, terimakasih" Ucap Sekertaris Vino datar tanpa meninggalkan sikap hormatnya, kemudian ikut meninggalkan tempat mengikuti tuannya yang sudah jauh.


Setelah mendapat kabar dari Vino, Gibran berlari menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Tanpa menunggu Sekertaris Vino, Gibran langsung menancap gas dengan kecepatan penuh. Tidak memperdulikan keselamatan dirinya.


Wajah tampan seorang Gibran Adelard Wijaya yang cool dipenuhi kecemasan hari ini, fikirannya terus melayang kepada istrinya.


Gibran meraih ponselnya dan menghubungi nomor Adiba. Namun nihil, tidak ada jawaban. Gibran memukul keras stir mobil tersebut.


"Adiba...! kau dimana?" Pekiknya pelan dengan mata bergerak kekanan kiri, berharap mendapati pujaan hatinya berjalan di pinggir jalan.


"Bodyguard bodoh!!! aku tidak akan mengampuni kalian, jika Adibaku terluka meski hanya seujung kuku" Monolog sendiri dengan suara terdengar sangat tegas.

__ADS_1


Untungnya, kota tersebut tidak termasuk kota padat hingga kini Gibran bisa lebih cepat sampai di villa tempatnya menginap.


Ketika sampai di halaman villa, dengan tergesa-gesa Gibran langsung turun dan berlari masuk kedalam Villa melewati para bodyguard yang sedang tertunduk ketakutan karna kedatangan Gibran.


Gibran mengepal kuat ponsel yang ditinggalkan Adiba diatas ranjangnya. Rahangnya semakin mengeras ketika kabar yang disampaikan Vino benar adanya jika Adiba menghilang dari jangkauan para bodyguardnya.


Gibran berlari menuju para bodyguardnya yang sedang berbaris rapi dengan posisi tertunduk. Tanpa aba-aba Gibran langsung menyerang dan menghantam Alex (kepala bodyguard).


BUGH


BUGH


BUGH


Tamparan keras bertubi-budi mendarat sempurna di wajah tampan Alex hingga mengeluarkan cairan merah segar.


"Bodoh...! aku membayarmu untuk menjaganya..!"Teriak Gibran dengan posisi sudah mengepal kuat kemeja Alex dan mendorongnya hingga terbentur kuat ketembok.


Alex tidak menjawabnya, dia menyadari kesalahan atas kelalaiannya. Sedangkan yang lain, mereka hanya bisa menunduk dan mendengarkan ringisan ketua mereka tanpa berani mendongkakan wajah apalagi membelanya.


Bi Lastri yang ikut berdiri di sana, meremas kuat tangannya. Akankah dirinya akan melihat penembakan sekarang?


Dengan tegap dan wajah yang sudah memerah, Gibran menarik pelatuk senjatanya dan siap meluncur tepat di otak Alex.


"TUAN MUDA...!"


Teriak Sekertaris Vino yang baru tiba, sambil berlari dan langsung menabrak tangan Gibran hingga senjata itu jatuh ketanah.


"Kumohon jangan lakukan tuan, anda pernah menyesal karna senjata ini."


"Lebih baik kita mencari nona, sebelum semuanya terlambat"


Ucapan Vino menyadarkan Gibran dari amarahnya. Mendengar nama Adiba, perhatian Gibran langsung teralihkan.

__ADS_1


"Cepat cari Adibaku sampai ketemu, atau aku tidak akan mengampuni kalian semua jika terjadi sesuatu hal dengannya" Teriak Gibran menggema di puncak gunung membuat para bodyguardnya merinding dan langsung berlari kocar-kacir.


Sama halnya dengan Alex, dia berlari menuju tempat awal nona Adiba menaiki kuda tadi diikuti oleh Vino dan Gibran. Mereka semua berpencar di hamparan hijau yang asri dan luas mencari keberadaan Adiba dan Aisyah.


"Nona Adiba....!!" Teriak Alex diikuti para teman bodyguardnya memanggil nama nonanya.


Bukan hal yang mudah mencari seseorang di tempat seperti ini, tempat yang sulit dijangkau dan jarang orang.


"Arghhh...!" Gibran menggusap wajahnya kasar frustasi.


Dia sangat takut kehilangan Adiba, kebahagiaannya baru ia dapatkan bersama istrinya. Dia tidak rela jika kebahagiaan yang baru saja menghampirinya berlalu begitu saja.


"Adiba.....!" Teriak Gibran hingga terdengar jelas menggema di hamparan luas hijau tersebut.


Adiba dan Aisyah yang mengdengar suara tersebut langsung berteriak tanpa suara dibalik kain yang menempel keras dibibir mereka. Adiba menitikan air mata ketika mendengar suaminya memanggil namanya.


Sungguh, dia membutuhkan pria menjengkelkan itu sekarang.


"Aku disini..." Lirih Adiba di dalam hati sambil tangisnya yang kembali pecah.


...---...


"Hahahaha, selamat datang nyonya Adelard wijaya..!"


Suara wanita terdengar sangat nyaring dari arah kegelapan, hingga wajahnya tidak dapat terlihat oleh Adiba dan Aisyah yang sudah diikat disebuah kursi dengan posisi saling membelakangi.


Adiba dan Asiyah menatap ke sumber suara, tidak ada satupun dari mereka yang mengerti maksud pembicaraan wanita tanpa wujud tersebut.


"Siapa kamu?" Tanya Adiba dengan suara yang tidak terdengar jelas karna bekaman tersebut.


"Hahaha dasar gadis bodoh..! kau sudah mengambil Gibran dariku. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kaupun tidak boleh memilikinya." Suaranya terdengar sangat berat.


Terdengar suara ketukan kaki. Perlahan dia melangkah maju mendekati Adiba dan Aisyah sehingga sedikit cahaya menerpa wajahnya.

__ADS_1


Adiba terkejut bukan main ketika melihat siapa orang yang sedang berjalan dengan anggun didepannya.


__ADS_2