PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Extra part (Penyesalan)


__ADS_3

"Eh, ada apa?"


Gibran tak menjawab, pria itu hanya memeluk istrinya erat.


aku hanya menginginkan mu


"Mas" Adiba semakin dibuat geli karena Gibran terus menciumi area tengkuk lehernya.


"Aku merindukan mu"


"Hey tuan! kau ini kenapa? kau merindukan orang yang dia sendiri ada di depanmu?" Adiba tak habis fikir.


"Hmm" Hanya itu yang keluar dari mulut Gibran.


Tak lama Baby B terbangun menangis, bayi itu seperti tahu akan masalah orang tuanya.


"Cup cup sayang, kenapa kau menangis? mama disini" Adiba berusaha lepas dari kukungan Gibran dan beranjak menghampiri putranya.


"Kesini! aku ingin menggendong putra ku"


Adiba menurut dan menyerahkan putra mereka kepada Gibran. Siapa sangka, Baby B langsung terdiam ketika berada di pangkuan sang ayah.


"Kau lihat! dia merindukanku ternyata" ujar nya dipenuhi senyuman.


Gibran menatap wajah putranya yang tampan, sama persis. Bahkan ketampanan bayi ini lebih dari nya. Terbesit rasa bersalah, dia seorang ayah yang jahat. Memisahkan anak dari ayahnya juga cucu dari kakeknya.


maafkan aku.


" hey nak, kenapa wajahmu sangat mirip denganku. Bahkan lebih tampan dariku"


Adiba hanya tersenyum mendengar.


"ada yang bilang, jika anaknya mirip denganku berarti itu artinya kau lebih mencintaiku" Goda Gibran sambil menatap Adiba yang sudah memerah.


Tak dapat dipungkiri, Adiba memang sudah sangat mencintai suaminya. Tapi, apakah itu benar? benar jika dia lebih mencintai Gibran melebihi Gibran sendiri?


"Haha lihatlah B, mamamu sepertinya tertangkap basah oleh kita" Tawa Gibran mengisi ruangan diiringi oleh tawa B kecil yang menggemaskan membuat Gibran semakin tertawa.


"Kalian ini jahat sekali" Adiba merajuk, kedua pria itu menertawakannya.


Gibran tersenyum, pria itu merengkuh pundak kecil Adiba agar masuk kedalam pelukannya. tak lupa juga Baby B yang masih berada di dalam pangkuannya.


"Kau tidak akan pergi meninggalkan kami kan?"


"Hey! kau ini bicara apa? aku tidak mungkin meninggalkan mu apalagi putra kita" Jawab Adiba semangat dan langsung mencium pipi gembul putranya.

__ADS_1


"Syukurlah!" Gumamnya


keluarga kecil itupun kembali berpelukan.


"Ada yang ingin aku bicarakan" Ujar Gibran ragu-ragu apalagi ketika mata Adiba menatapnya menunggu.


"Aku ingin mengatakan klo akul-" Ucapan Gibran terhenti ketika ponsel Adiba berdering.


"Sebentar ya!" Cepat-cepat Adiba meraih ponsel dan menerima panggilannya. Dia sangat takut jika yang menghubunginya adalah mama Alexa.


Tubuh Adiba kaku, matanya beberapa kali berkedip guna memperjelas. Berharap apa yang dilihatnya kali ini tidaklah benar. Air matanya langsung mengalir ketika manik matanya menangkap kejadian yang tidak terduga.


"Ayah" Lirih Adiba pelan yang masih terdengar oleh Gibran yang sedang bersenda gurau dengan putranya.


Gibran terkejut bukan main ketika Adiba tiba-tiba mengatakan hal tersebut. Hal yang selama ini ia jaga dan sembunyikan rapat rapat.


"Ada apa sayang?" Tanya Gibran terburu-buru. Pria itu bertanya dengan penuh cemas, wajahnya dihiasi kekhawatiran.


Adiba mundur ketika Gibran maju mendekatinya. Adiba juga menghindari tangan Gibran yang ingin genggaman tangannya.


Matanya menangkap wajah tampan yang selama ini ia kagumi, suami yang selama ini ia perjuangkan ternyata melakukan hal keji terhadapnya.


"Sayang! kumohon katakan ada apa" Gibran semakin panik ketika Adiba menatapnya dengan penuh kekecewaan bahkan air matanya sudah membasahi pipinya.


Adiba tak menjawab, wanita itu hanya menatap suaminya dengan tatapan kosong. Kemudian beralih pada ponsel miliknya dan benar. dialah orangnya.


Adiba terjatuh, kakinya tak mampu menanggung beban tubuhnya lagi.


Adiba bahkan menjatuhkan ponselnya yang masih berputar putar kejadian tersebut. Gibran menatap tak percaya ketika apa yang dilihat Adiba barusan adalah video dimana dia menembak sang sopir yang ternyata adalah ayah dari istrinya.


Video tersebut terus berputar karena si pengirim mengirim video tersebut berkali kali. Seperti orang yang sengaja membuat Adiba terus terbayang bayang akan kejadian tersebut.


"Sayang, aku bisa jelask..."


Adiba mengangkat tangan.


Dia tidak ingin mendengar apapun, hatinya merasakan kecewa yang luar biasa.


Jadi ayahku bukan meninggal karena sakit?


Adiba menggeleng, membuat Gibran semakin frustasi.


kenapa jadi seperti ini.


sial! siapa yang mengirim itu padanya.

__ADS_1


Dengan cepat Gibran meletakan baby B ketempat nya membuat dia kembali menangis dan memeluk Adiba.


Adiba menolak, wanita itu malah berteriak histeris.


"Dokter!!!! dokter tolong!!!" Teriak Adiba meminta bantuan.


Dokter Satya beserta para suster berlari terbirit-birit mendengar teriakan nona muda, mereka datang dan langsung melerai mereka.


"Tuan kumohon hentikan, tekanan pada ibu lahir bisa membuatnya gila." Sahut dokter Satya ketika Gibran terus mencoba mendekati Adiba. Adiba mencengkram lengan Dokter Satya meminta perlindungan.


Gibran melangkah mundur. Dia memilih mengalah, apa yang diucapkan dokter Satya benar. Sikapnya akan membuat Adiba lebih tertekan.


Tapi dia harus menjelaskan semuanya.


"Arghhh!!" Teriak Gibran membuat Dokter dan para suster yang hadir bergidik ngeri.


"Pergi"


"Kumohon pergi, hiks hiks" Teriak Adiba lagi disambung dengan tangisnya yang pilu.


Dokter Satya tak berucap, disatu sisi dia merasa kasihan dengan nona Adiba namun disisi lain mana berani dia mengusir pemilik rumah sakit ini, bisa-bisa dikirim ke Antartika.


Pria itu kemudian melenggang pergi dengan air mata yang juga sudah turun dari pelupuk matanya


kau bodoh gibran!


Para suster menenangkan Baby B sedangkan Dokter Satya membantu Adiba untuk kembali berbaring dan istirahat.


Adiba terus saja menangis, kenangan bersama sang ayah membuatnya kembali merasakan sakit.


"Ayah!!!,, hikss hiksss" Adiba terus menangis bahkan menghiraukan pertanyaan Dokter Satya yang kelimpungan dengan apa yang terjadi.


"Nona! nona tenanglah. Kumohon tenangkan dirimu" Ujar Dokter Satya namun Adiba tak menanggapi.


Gadis itu hanya menutup mulut dengan kedua tangannya, penyesalan membuatnya semakin membuatnya merasakan nyeri karena telah menerima lamaran dari pria pembunuh.


"Kalian jaga nona dan bayinya" Sahut Dokter Satya kepada suster.


 


"bagaimana keadaannya?" Gibran menyambar ketika Dokter Satya sudah keluar. Terdapat Sekertaris Vino yang juga sudah siaga.


"Dia baik-baik saja, hanya membutuhkan istirahat lebih dan jangan membuatnya tertekan."


"aarghh bodoh!" Gibran menonjok tembok rumah sakit hingga membuat tangannya terluka.

__ADS_1


Dokter tadi ketakutan mengira jika Gibran marah kepadanya, karena tak ada ampun jika seseorang melakukan kesalahan dengan seorang Gibran. Namun keselamatan masih bersahabat dengannya ketika Sekertaris Vino menyuruh Dokter Satya untuk pergi dengan tatapan matanya.


__ADS_2