PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
extra part


__ADS_3

"Nona, anda darimana saja?" Tanya Sekertaris Vino yang sedang berdiri tepat diambang pintu perawatan.


Adiba tak menggubris ucapan Sekertaris Vino. Adiba juga membenci pria itu, pria yang merupakan suami dari sahabatnya itu sama saja.


Tidak mungkin kan jika dia tidak mengetahuinya?


semuanya sama saja!


"Sayang, kau darimana saja?" Kini, giliran Gibran yang bertanya.


Pria itu berjalan mengikuti arah jalan istrinya yang terus masuk tanpa menghiraukan pertanyaan nya.


Adiba hanya diam ketika Gibran berusaha menghentikan dengan meraih tangannya. Lagi lagi Adiba hanya diam hanya kilatan kebencian yang tampak dari wajah Adiba, membuat Gibran menatap sendu istri kecilnya.


"Sayang, aku mencari mu kemana mana"


"Baby kita terus menangis, dia membutuhkanmu" Lanjutnya.


Adiba tetap tidak menjawab.


Adiba menggendong Baby Brian, dan menghiraukan Gibran yang selama beberapa jam ini kelimpungan mencarinya.


"Aku ingin pulang"


"Pulang? Sayang, kau baru saja selesai bersalin."


Adiba berjalan keluar menghiraukan penolakan suaminya.


"Sayang..." Panggil Gibran.


"Aku katakan! aku tidak mengizinkanmu pulang Adiba Ahmad!" Teriak Gibran ketika Adiba sudah diambang pintu membuatnya menghentikan langkah.


Adiba terdiam, ucapan Gibran kembali mengingatkannya kepada sang ayah.


Gibran terdiam menyadari kesalahannya, kemudian berlari menghampiri istri dan putranya.


"Maaf, maafkan aku"


"Sayang kumohon dengarkan aku, aku tidak ingin ada suatu hal buruk terjadi padamu da putra kita" Lirih Gibran.


Pria itu sangat frustasi melihat perubahan Adiba.


"Hal buruk? lalu apa gunanya dirimu?" Cibir Adiba.

__ADS_1


Gibran terdiam mengerti maksud ucapan Adiba.


"Oke, oke! kita pulang"


"Vin! bawa mobil" Titahnya dan langsung dibantah oleh Adiba.


"Tidak! aku ingin kau yang membawanya"


Gibran menghembuskan nafas kasar.


"Baiklah"


Tak ada percakapan selama perjalanan, semuanya terdiam dalam keheningan. Gibran melirik putranya yang tertidur nyenyak di kursi belakang bersama seorang suster lewat kaca spion.


Sedangkan Adiba, gadis itu menatap arah jendela dengan tatapan kosong.


Ditengah suasana tenang dan damai mobil tiba tiba berhenti ditengah perjalanan. Gibran menginjak rem mendadak karena Adiba tiba tiba menodongkan senjata api padanya.


"Aaaa" Teriak suster dari belakang.


Suster tersebut bergetar ketakutan melihat senjata api yang digenggam Adiba.


Gibran menoleh menatap istrinya yang sudah dipenuhi dengan amarah. Dia yang sudah terbiasa dalam hal ini pun hanya diam. Tak ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya. Bahkan jika Adiba benar benar membunuhnya, dengan senang hati Gibran menerimanya sebagai tanda permintaan maaf.


Gibran mencengkram stir dengan kuat, pria tersebut marah pada dirinya sendiri yang telah membuat istrinya kecewa.


"Keluar!" Ujar Adiba tegas dengan tangan tangan yang masih mengarah ke kepala Gibran.


Gibran keluar diikuti Adiba yang masih mengawasinya.


Terlihat Shella beserta para bodyguardnya berdiri tak jauh mereka.


"Halo sayang, apa kabarmu?" Sapa Shella dengan lembut. Gibran menatap tajam perempuan ular yang membuat kacau rumah tangganya.


"Ayo Adiba, bunuh dia. Bunuh pria yang telah menghancurkan keluargamu itu" Ujar Shella yang diiringi oleh tawa para bodyguardnya.


Mereka tertawa melihat sang Gibran Adelard Wijaya yang angkuh telah terbekuk diam oleh istrinya sendiri.


Gibran menatap manik istrinya sudah gelap oleh amarah. Gibran mengetahui jika ini bukanlah Adiba yang sesungguhnya.


"Sayang" Gibran mencoba melangkah.


"Stop! sekali lagi kau melangkah aku akan membunuhmu-" Jawab Adiba dengan tegas.

__ADS_1


Shella tertawa puas melihat pertengkaran tersebut membuat Gibran semakin menatap tajam seolah ingin memakan hidup hidup.


Gibran menghiraukan ancaman istrinya, pria itu malah semakin mendekat hingga berhasil menggenggam tangan Adiba.


Adiba terkejut ingin menghindar, namun Gibran telah lebih dulu menghadapkan senjata tersebut tepat di dahinya.


"Ayo, lakukanlah" Gibran berucap dengan tegas.


"Cepat! tembak Adiba. tembak pembunuhan itu" Shella semakin memanasi, melihat adegan itu tertunda membuatnya geram. Ingin sekali dia mengambil alih pistol tersebut dan menembak mereka berduka.


oke, tenang dulu. Kita lihat perempuan kampung itu menembak Gibran. Lalu setelah itu aku yang akan membunuh nya.


Bodyguard Shella menarik paksa suster yang menggendong Baby Brian. Mengambil alih gendongan tersebut dan mendorongnya hingga kepalanya terbentur batu.


"Suster" Pekik Adiba, kesadarannya Adiba sedikit muncul.


"Ayo Adiba, lakukan sesuai apa yang ia lakukan pada ayahmu. Tembak juga bayi sialan ini" Shella menggendong baby Brian dengan geram, dia bahkan mencubit pipi Baby B dengan keras hingga membuatnya menangis.


"Son!" Gibran mengeratkan rahangnya ketika Shella melakukan hal tersebut.


"Cepat! tembak dia Adiba!" Teriak Shella.


"Tembak dia atau aku akan menjatuhkan bayi sialan ini" Teriak Shella membuat Adiba dan Gibran menolah pada putra mereka yang menangis.


Adiba menggeleng.


Dia tidak mungkin memilih salah satu diantara mereka.


"Lakukan!" Ujar Gibran membuat Adiba semakin bingung, air matanya bahkan sudah keluar dari pelupuk matanya yang sayu.


"Oke sepertinya kau lebih memilih pembunuh itu dari pada bayi ini" Ujar Shella marah ketika Adiba tak kunjung menarik pelatuknya.


"Lakukan, percaya lah padaku" Gibran tersenyum.


"Kuhitung sampai tiga.


satu,


dua


tig- "


Adiba memejamkan mata nya.

__ADS_1


dan


Dor!!


__ADS_2