PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Sarapan bersama


__ADS_3

Tok,,,tok,,,tok


Adiba melangkahkan kakinya membuka pintu.


"Selamat pagi nyonya" Sapa sekertaris Vino yang sudah rapi memakai jas hitam dengan membawa makanan yang ditentengnya


"Pagi" Jawab adiba tersenyum.


Gibran yang baru keluar dari kamar sambil membawa dasi menatap tajam kepada Vino sebagai aksi peringatan karena telah berani menatap wajah istrinya.


Sekertaris Vino yang mendapat tatapan mata saringgan Gibran langsung menundukan kepalanya membuat Adiba heran, kemudian Adiba menoleh kebelakang.


-Pantas saja dia menunduk, sebegitu takutnyakah kau kepada kingkong tua ini sekeratris?. Batin Adiba aneh.


"Sayang,,, apa kau lupa sudah bersuami?" Tanya Gibran manja, sambil mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Sekertaris Vino.


-Cih! tidak usah sok mesra begitu tuan.


Adiba yang mendengar suara Gibran menyerngitkan dahinya.


-Sayang? kenapa lagi dia. Apa jangan-jangan karna makan nasi goreng asin itu dia jadi pikun. Batin adiba masih menatap Gibran aneh


"Tolong bantu aku pakaikan dasinya." Ujarnya lembut sambil menghampiri Adiba.


Adiba langsung meraih dasi itu dan memakaikannya, daripada berlama-lama dan membuat Gibran semakin bertingkah aneh di depan sekertaris Vino.


Adiba berjingjit karna tinggi mereka yang berdebad jauh, Gibran tersenyum puas kemudian Gibran meletakan kedua tangannya di pinggang Adiba mengangkat tubuh kecil itu dan meletakannya di atas sofa


aksi Gibran sukses membuat mata Adiba membulat. Adiba yang kini sudah berdiri di atas sofa sudah sejajar dengan tubuh tinggi Gibran, membuat Adiba dengan mudahnya memakaikan dasi. begitu juga dengan Gibran yang dapat mudah menatap wajah istrinya.

__ADS_1


Adiba tertunduk karna Gibran terus saja menatapnya dengan tangan yang masih di pinggangnya.


CUP


Gibran mengecup lembut bibir adiba membuat Adiba malu setengah mati karna dilakukan di depan seketaris Vino.


-Kau telah menodai mata suciku tuan bucin!!!.Arghhh aku akan cari pacar setelah ini.


Batin Sekertaris Vino kesal kemudian memalingkan wajahnya.


Gibran yang menyadari kekesalan sekertaris Vino tersenyum penuh kemenangan.


-Aaaa kau benar-benar tidak punya malu kingkong tua!!.


ketika Gibran lengah menatap Sekertaris Vino, Adiba segera turun dan melangkahkan kakinya menuju kedapur untuk menghilangkan kecanggungan.


"Kenapa kau berdiri disitu saja?" Tanya Gibran tanpa tau malunya kepada sekertaris Vino yang masih mematung di depan pintu.


Gibran mengukuti langkah istrinya menuju dapur dan langsung duduk di meja makan.


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Gibran di sela makannya.


Adiba yang duduk disamping Gibran hanya mendengarkannya, Sekertaris Vino pun ikut sarapan diantara mereka. Hanya posisinya saja yang jauh dengan Gibran dan Adiba, entah kenapa tuannya itu memerintahkan hal seperti itu.


"Sudah tuan" Jawabnya kemudian tak ada lagi pembicaraan di sela sarapan mereka.


"Kau bersiaplah kita akan berangkat 15 menit lagi" Ucap Gibran


"Kita akan kemana?" Tanya Adiba heran.

__ADS_1


"Tidak usah banyak bertanya, bersiaplah." Tegas Gibran kemudian beranjak menuju sofa diikuti sekertaris Vino dibelakangnya.


Entah apa yang mereka bicarakan, Adiba hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.


Adiba memakai pakaian yang tersedia diruang ganti, masih banyak pakaian baru yang belum di pakainya.


Setelah selesai, Adiba menghampiri dua orang pria berjas hitam yang sedang berbincang di sofa itu. Gibran yang melihat kedatangan Adiba langsung menyambutnya dengan angkatan tangan pertanda untuk mendekatinya.


Adiba menurut dan langsung duduk disamping Gibran. Dengan senang hati Gibran menyambutnya dengan tangan kirinya.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Gibran menatap wajah cantik Istrinya dan merangkulnya.


-Memangnya mau apasi, aku seperti akan pergi berperang saja!


Adiba menganggukkan kepalaya pelan, membuat Gibran semakin tersenyum merekah.


Adiba menatap sekertaris Vino meminta penjelasan, sekertaris Vino yang pengerti arti tatapan istri tuan mudanya malah memutuskan kontak mata dan menunduk.


-Tuan saja tidak memberitahumu nona, memangnya aku punya nyawa berapa hingga berani memberitahumu. Batin Sekertaris Vino


Gibran akhirnya beranjak dan menggandeng tangan Adiba diikuti sekertaris Vino dibelakangnya. Sekertaris Vino membukakan pintu mobil mempersilahkan masuk.


Adiba dan Gibran sudah duduk di belakang kemudian sekertaris Vino berlari mengitari mobil dan duduk dibelakang kemudi. Mobil mewah yang mereka tumpangi mulai melaju memecah keraimain kota.


Tidak ada percakan di dalam mobil. Sekertaris Vino fokus menyetir, Adiba menatap ke jendela mobil melihat pemandangan indah yang dilewatinya sedangkan Gibran fokus dengan i-pad nya memeriksa laporan keuangan cabang perusahaan.


2 jam berlalu, tapi mobil yang mereka tumpangi belum juga berhenti. Adiba mulai mengantuk, dia sering kali menguap dan menutup mulutnya. Gibran yang menyadarinya merangkul pundak istrinya dan mengecup lembut dahi istrinya.


Adiba tidak merasakan rangkulan dan ciuman Giban, karna dia sudah berlaju ke mimpi indahnya, Gibran semakin mendekap Adiba kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Berapa lama lagi?"


"Sekitar 15 menit lagi tuan" Jawab Sekertaris Vino


__ADS_2