PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Jatah pagi


__ADS_3

Adiba mengerjapkan matanya, sayup-sayup pendengarannya adzan berkumandang. Nyawa Adiba langsung kumpul secepat kilat ketika mengingat hari ini wisuda, dia belum bersiap. Mau pakai baju yang manapun dia belum mempersiapkannya.


Adiba menyingkirkan perlahan tangan kekar Gibran yang melingkari perutnya, Ketika Adiba hendak beranjak tangan Gibran kembali memeluknya dengan cepat bahkan lebih erat.


Dirasa Gibran mengigau, Adiba kembali menyingkirkan tangan Gibran perlahan tapi lagi-lagi tangan itu kembali ke posisi semula membuat Adiba jengkel kemudian menatap wajah suaminya yang sebelumnya dibelakanginya.


Adiba terpesona dengan wajah suaminya sendiri, mana bisa orang yang sedang tertidur saja setampan ini. Kulitnya yang putih, halisnya yang tebal, matanya yang indah dan hidungnya yang mancung membuat sempurna makhluk tuhan satu ini


lama Adiba menatap suaminya, hingga suara berat mengejutkannya.


"Aku memang tampan, jangan dilihat nanti kau bisa tergila-gila oleh suamimu sendiri." Suara berat Gibran tapi masih memenjamkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuh Adiba.


-Ish ini orang ngigau apa udh bangun si? Batin Adiba.


Adiba kemudian beranjak paksa dan melepaskan pelukannya. Baru setengah berdiri, tangannya sudah di tarik oleh Gibran kemudian terjatuh diatas dada bidang Gibran. Gibran tidak mau kalah, dia semakin memeluk bantal hidupnya.


"Mau kemana? temani aku tidur disini?" Pinta Gibran menatap wajah Adiba


manik-manik mata mereka bertemu, nafas Adiba maupun Gibran kembali menggebu ketika sentuhan udara dari masing-masing nafas mereka menyentuh kulitnya.


"Ini sudah subuh tu.." Belum sempat Adiba melanjutkan ucapannya Gibran langsung ******* habis bibir kecilnya.


Adiba hanya diam masih mencerna dengan apa yang terjadi subuh-subuh begini.


"Itu hukuman untukmu! karna tidak patuhi perintahku." Ucap Gibran dengan senyum mesumnya.


"Ucapkan lagi! agar aku bisa menghukummu kembali" Ujarnya lagi membuat wajah Adiba panas seketika.


-Aaa dasar kingkong tua mesum!


"Maaf suamiku" Lirih Adiba membuat Gibran tersungging senyuman.


Adiba kemudian kembali beranjak karna waktu semakin berputar cepat.


"Hey mau kemana, kubilang temani aku" Ucapnya sambil membalikan tubuh Adiba. Kini Adiba berada di bawah kukungan tubuh Gibran.

__ADS_1


Gibran membenamkan wajahnya di area favoritnya.


"Maaf suamiku, tapi ini sudah subuh. Aku juga harus bersiap ke acara wisuda hari ini." Ucap Adiba pelan karna takut kingkong ini kembali marah karna tidak memberi tahu sebelumnya.


Gibran mendongkakan wajahnya menatap wajah cantik istrinya, kemudian merapikan rambut yang menghalangi pipinya kebelakang telinga.


Adiba sempat menunduk karna Gibran menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jam berapa acaranya?" Tanyanya pelan


"Jam 8, kau mengizinkanku pergi suamiku?" Tanya Adiba berbinar membuat Gibran gemas karna terlihat sangat imut dimatanya.


"Hey kau mau menggodaku ya!" Bentak Gibran membuat Adiba bingung.


-Is hobi banget si membentakku, lagipula apa salahku? aku kan hanya bertanya. Bantin Adiba sambil mengerucutkan bibirnya.


Wajah Adiba semakin membuat imut di mata Gibran, membuat juniornya berdiri.


-Persetan dengan semua ini! Batinnya kesal karna lagi-lagi hasratnya menggebu-gebu


"Suamiku, aku harus bersiap." Pinta Adiba memasang mata puple eye nya, karna kesal bukan membiarkannya pergi Gibran malah mengekangnya seperti ini.


-Sial!! mata itu, jika tidak ada acara sekarang akan ku makan habis dirimu. Harman!!! (kepala sekolah Adiba) kau harus membayar malah karna hal ini. Batin Gibran sambil menahan hasratnya.


"Baiklah, cium aku dulu" Ucap Gibran santai membuat mata Adiba membulat.


"Tidak mau yasudah, jangan pergi." membaringkan tubuh disamping Adiba kemudian memeluk erat tubuh Adiba.


Adiba semakin kesal dibuatnya, bisa-bisanya pria tua seperti dia bisa bertingkah seperti bayi seperti ini.


Adiba memiringkan badannya menghadap Gibran kemudian mencium pipinya dengan cepat.


"Bukan itu, ini!" Menunjuk bibirnya


-Masa bodo dengan maluku, urat nadi maluku sudah putus karna dia.

__ADS_1


Adiba langsung mencium sekilas bibir suaminya dan langsung berlari ke kamar mandi membawa selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


Gibran tersenyum senang melihat tingkah polos istri kecilnya. Dia bahkan geleng-geleng kepala ketika Adiba berlari kocar-kacir menuju kamar mandi.


-Aaaa apa yang kulakukan!! Gila! aku menciumnya lebih dulu.


Adiba membenamkan wajahnya di dalam bath up, malunya sudah mendarah daging sekarang.


Tak lama kemudian, Adiba maupun Gibran sudah selesai mandi sekarang. Sebelumnya Gibran memberitahu agar Adiba menunggunya karna dia ingin sholat berjamaah ujarnya.


Gibran mengimami Adiba sholat subuh saat ini, membuat hati keduanya tenang dan damai. Baru kali ini setelah pernikahan mereka bisa sholat bersama.


setelah ritual peribadatan selesai, Adiba membereskan semua alat sholatnya sedangkan Gibran duduk diatas ranjang sambil memainkan i-padnya. Memeriksa seluruh laporan keuangan yang sempat ia tinggalkan semalam karna Adiba menghilang.


Gibran sampai dibuat pusing malam itu, dia menghubungi sekertaris Vino agar membantunya. Kemudia sekertaris Vino mencarinya dan mendapati Adiba Zein dan teman Adiba sedang bersama, membuat Gibran sangat marah saat itu.


Gibran memeluk tubuh Adiba dari belakang, ketika Adiba sedang menguncir rambut panjangnya. Gibran tak henti-hentinya menciumi leher putih Adiba membuatnya geli.


"Lakukan kewajibanmu sekarang." Suara berat Gibran karna sedang menahan hasratnya.


Adiba yang mengerti arah tujuan Gibran membuatnya malu dan pipinya merah seketika.


"Maaf suamiku, tapi aku belum bersiap."


"Ayolah! ini baru jam 5 pagi. Kau akan bersiap dengan MUA jam 7 nanti"


Tanpa menunggu jawab Adiba, Gibran langsung menggendong tubuh Adiba dan meletakannya di atas kasur.


Gibran mulai menghujani Adiba dengan ciuman diseluruh tubuhnya sambil melepas seluruh pakaiannya. Gibran dan Adiba berolahraga panas pagi ini.


Gibran benar-benar menepati ucapannya, pukul 7 pagi Gibran baru menyelesaikan kegiatannya dan melepaskan Adiba untuk bersiap.


Adiba dibantu oleh 2 orang MUA terkenal yang sudah dihubungi Gibran sebelumnya. MUA tersebut datang tepat pukul 7 membawa alat rias lengkap dan satu gaun mewah dan elegant berwarna moca untuk dipakai Adiba hari ini.


Tepat pukul 8, Adiba berangkat menuju astrama diantar oleh Gibran.

__ADS_1


Sebelumnya Adiba menolak karna tahu Gibran harus bekerja, tapi Gibran menolaknya mentah-mentah dengan alasan Ini perintah!! membuat Adiba pasrah dengan apa saja yang dilakukan suaminya.


__ADS_2