
Episode 103 : Seperti mimpi indah.
***
Sungguh Adam benar-benar memberikan segalanya pada istrinya ini.
"Sayang ..." Adam melangkah mendekat, kakinya bergerak sendiri dan tatapannya sama sekali tidak bisa terlepas dari istrinya.
Entah mengapa Alice menjadi malu, mungkin karena disini ada yang lain juga, pipinya merah merona dan ia otomatis menundukkan wajahnya.
Akan tetapi Adam segera meraih dagu istrinya agar bisa melihat wajahnya lebih dekat, menatap keindahan yang telah menjadi miliknya.
Tiada hentinya Adam memuji keindahan dan kecantikan istrinya, bahkan ungkapan kata seolah tak mampu menggambarkan kekagumannya.
"Hari ini kita akan bermain peran, bayangkan kau sedang bersekolah dan aku adalah kekasihmu, hari ini aku akan memberikan mu pengalaman bagaimana rasanya bersekolah," seru Adam bersemangat.
Senyumannya cerah sekali dan terlihat bersemangat.
Sedangkan Alice, matanya berbinar-binar dan tak kuasa menahan haru.
"Apakah kau melakukan ini karena aku menatap orang yang berseragam sekolah sejak tadi? kenapa kau memberikan aku begitu banyak? apakah aku pantas?"
__ADS_1
Alice merasa terlalu banyak yang ia terima, seolah semuanya terlalu indah, kadang Alice merasa jika dia masih berada di dalam ruangan gelap itu dan sedang bermimpi indah.
Jika ini mimpi, dia tidak ingin bangun, karena segalanya datang begitu tiba-tiba dan terlalu membahagiakan.
"Tak!"
Adam langsung menyentil dahi Alice menggunakan telunjuk jarinya, hal itu membuat Alice melebarkan matanya dan mengangkat wajahnya yang tadi tiba-tiba menunduk.
"Aku kan sudah bilang aku akan memberikan mu segalanya, bahkan ini bukanlah apa-apa, berhenti lah berbicara seolah kau tidak pantas, memangnya siapa yang pantas mendapatkan perhatian ku kecuali kau, istriku sendiri!" ketus Adam seperti tengah mengomel.
Sedangkan saudara-saudaranya yang lain, dimana Black masih menggenggam kado besar mencoloknya hanya bisa melihat adegan di hadapan mereka seperti sedang menonton film romantis.
"Sepertinya kita adalah angin disini .... bukan kah kalian merasa seperti itu?" Sazu menggosip kecil, dia membisik mencoba menggali pembicaraan yang akan menjadi topik hangat nantinya.
Dan saat Sazu menoleh kearah Black, sepertinya Black masih memikirkan mengenai betapa kesepiannya dirinya.
Karena hal itu baru ia sadari beberapa menit yang lalu.
"Haaah!" Sazu menghela nafas panjang.
"Aku jadi rindu Kai, sobat taruhan ku, setidaknya dia bisa diajak bercanda!" gerutu Sazu merasa kedua orang yang ada di sisinya ini sama sekali tidak menarik dan memberikan hiburan untuknya.
__ADS_1
***
Hari itu, sesuai dengan instruksi Adam Duke, semua anggotanya memainkan peran masing-masing.
Haley, Sazu dan Black akan berperan sebagai viguran dalam kencan romansa anak sekolahan ini, Haley menjadi guru, Sazu dan Black menjadi teman basket Adam.
Semuanya begitu sempurna, walau tidak merasakan secara langsung bagaimana rasanya masa-masa sekolah, Alice bisa memahami perasaan itu, semua teman-temannya, Black, Sazu dan Haley melakukan yang terbaik melakoni peran mereka.
Dan Adam juga berperan sebagai kekasih yang akan membuat pacarnya bangga, seperti memenangkan pertandingan basket, membawanya berkeliling sekolah dan menceritakan berbagai hal.
Setiap kali Adam berbicara dan menggenggam tangannya, Alice akan merasa dia begitu terlindungi, dia suka saat melihat tangannya di genggam begitu erat seolah tak akan pernah dilepas lagi.
Waktu akhirnya berlalu, sudah sore hari dan Alice terlihat sangat puas sekaligus kagum dengan segala hal yang baru ia ketahui hari ini.
Dia masih mengenakan seragam SMA, dimana tampilannya terlihat sangat imut dan menggemaskan.
.
.
.
__ADS_1
.