Pengantin Tuan Adam

Pengantin Tuan Adam
Adam Duke cemburu.


__ADS_3

Episode 99 : Adam Duke cemburu.


***


Sesuai dengan keinginan Alice, Adam membawanya ke kantor dimana disana banyak sekali hal baru diketahui oleh Alice.


Dia mempelajari hal-hal sederhana terlebih dahulu, seperti struktur organisasi perusahaan, dari tanggung jawab hingga beberapa pencapaian dan proyek perusahaan yang sedang berjalan dan sudah usai.


Walau Alice masih belum terlalu memahami segalanya, akan tetapi semangatnya dalam mengetahui hal baru sungguh luar biasa.


Adam yang tengah mengerjakan beberapa pekerjaan akan berpangku tangan melihat istrinya yang duduk tepat berada di hadapannya.


Adam akan tersenyum melihat wajah serius istrinya yang mencoba memahami hal-hal yang ia sedang baca.


Melihat wajahnya yang begitu serius, rasanya Adam ingin membawanya kemanapun ia pergi.


Akan tetapi demi kencan dengan istrinya dia harus menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.


Apalagi dia telah mendapatkan kabar dari Gordon jika malam ini, dia memiliki pertemuan dengan Baron Brown.


Adam memang menduga jika Baron akan menghubungi nya segera akan tetapi tidak secepat ini.


Mungkin rencananya akan dilakukan lebih cepat dari perkiraan.


"Tak ... Tak ... Tak!"


Tangannya segera bergerak dengan cepat, dia tetap harus memeriksa segalanya secara personal, beberapa pekerjaan yang biasanya ditangani oleh Kai, harus segera ia selesaikan juga.


Agar besok dia bisa bersantai dan mengajari istrinya hal-hal yang ingin diketahui oleh Alice.


Setelah beberapa saat ....

__ADS_1


Adam melihat jam sudah siang, dan sudah waktunya makan siang.


Dihadapannya masih ada Alice yang tenaga serius sejak Adam memberikan beberapa buku yang merupakan aset perusahaannya.


"Sayang ..."


Adam memanggil istrinya sembari berpangku tangan dekat sekali di hadapan istrinya.


"Hmmm?"


Alice benar-benar terlalu serius dan fokus, hal itu membuat Adam cemburu kepada buku yang sedang ia pegang.


"Tak!"


Adam segera menutup buku itu dan bibirnya manyun, wajahnya cemberut dan matanya yang tajam namun sepertinya kucing.


"Kenapa di tutup?" Alice akhirnya melihat wajah suaminya.


Adam melipat tangannya dan memalingkan wajahnya.


"Sepertinya buku itu lebih penting bagimu, bahkan tidak memperhatikan aku sedikitpun, padahal aku selalu saja memperhatikan mu!"


Ini adalah pertama kalinya Adam cemburu kepada benda mati, sebuah buku yang tidak bersalah itu.


Alice terpaku, matanya melebar dan bahkan mulutnya sedikit mengaga, melihat seorang yang begitu gagah memalingkan wajahnya dan terlihat cemberut namun terkesan lucu.


Alice yang sadar suaminya tengah meminta perhatian lebih darinya segera memikirkan segala cara agar suaminya tidak ngambek lagi.


"Su ... suamiku ... ummm ...." Alice sedikit bingung, apakah yang harus ia katakan sekarang.


Akan tetapi hanya saat ia mengatakan kata suamiku, Alice bisa melihat telinga suaminya yang memerah dan garis bibir senyuman suaminya yang tengah memalingkan wajah itu.

__ADS_1


Benar-benar lucu sekali.


"Maafkan aku, bagaimana mungkin buku itu lebih penting darimu, kau lebih penting dari segalanya untukku!" seru Alice segera berterus terang sembari mengepalkan tangannya.


Menandakan jika dia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Pffft ...." Adam terkekeh pelan, dia merasa istrinya terlalu menggemaskan.


Mungkin dia sendiri tidak sadar jika dia telah menjadi menggemaskan seperti istrinya juga.


"Ehem ..." Adam mulai menoleh kearah istrinya.


"Aku tetap masih marah, bagaimana mungkin kau bahkan tidak menoleh ke arahku walau sekali, kau harus membayar nya, ikut aku!" ketus Adam masih pura-pura ngambek.


Menaikkan dagunya, melipat tangan namun dia sedang menahan tawanya sekarang ini.


Alice yang tidak mau mengecewakan suaminya segera menganggukkan kepalanya, dengan bersungguh-sungguh dan mata bulat berbinar, dia mengikuti suaminya yang sudah berdiri.


Adam melangkah beberapa langkah namun ia segera melangkah kembali dan merangkul istrinya sambil berjalan.


"Apa boleh buat, karena kau berjalan sangat lambat aku harus merangkul mu!" seru Adam dengan percaya diri sembari merangkul bahu istrinya erat sembari menuntunnya melangkah


"Apakah aku selambat itu saat berjalan? aku rasa tidak?" Alice bertanya dengan suara yang kecil sembari melangkahkan mengikuti langkah suaminya.


.


.


.


Tolong di like para pemirsa 🤍 yang baca karya ini kata editor aku per hari banyak loh 😌

__ADS_1


Maap ye masih masa bucin nih penganten baru, entar action nya lanjut lagi jadi selang seling biar ga terburu-buru alur nya kayak novelku yang lalu lalu 🤍


__ADS_2