
Episode 153 : Kau itu cantik!
***
Malam hari di mansion Adam Duke,
Setelah seharian melakukan perjalanan dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, Adam dan Alice sudah kembali ke kediaman mereka.
Adam terlihat lelah sekali, mungkin karena tubuhnya terkejut dengan reaksi mengidam yang seharusnya dirasakan oleh Alice , tetapi malah dirasakan oleh Adam sekarang.
"Sayang ... entah mengapa aku mengantuk sekali, kita tidur dulu ya ..." Sesampainya di kamar, Adam menyeret istrinya agar segera terbaring di ranjang.
Alice kebingungan mengapa energi suaminya cepat habis, tidak seperti biasanya.
Saat Adam memeluk istrinya di atas ranjang, hanya dalam beberapa saat dia terlelap dan wajahnya terlihat damai.
Dia mendekap istrinya, walau dia masih mengenakan pakaian rapih, bahkan tidak melepaskan sepatu.
Alice mengusap rambut suaminya, dan memastikan saat suaminya terlelap.
Setelah mengetahui jika Adam sudah terlelap, Alice keluar dari delapan suaminya dan tersenyum melihat bagaimana Adam tertidur mengenakan pakaian rapih.
Secara perlahan Alice membuka dasi suaminya, melonggarkan kerahnya.
Sesaat kemudian melepaskan sepatu dan kaos kaki, untuk beberapa saat Alice duduk di sisi suaminya dan mengusap rambutnya.
"Lelaki hebatku ... aku senang melihat mu terlelap damai seperti ini, aku akan menjagamu, aku akan bersungguh-sungguh berusaha menjadi istri terbaikmu dan juga ibu terbaik untuk anak-anak kita,"
Alice tersenyum lembut sekali.
Setelah hari ini mengatakan perpisahannya, dia memutuskan hanya berfokus kepada suaminya saja dan anaknya yang akan lahir nanti.
Setelah itu, Alice bangkit dan mengepal tangannya menunjukkan semangat juang.
"Aku akan mulai dari sekarang," serunya mengepal tangan dan pergi ke luar dari kamar.
Alice melangkah menuju dapur dan memanggil koki yang merupakan petugas yang mengurus makanan di mansion ini.
"Nyonya Alice ... ada yang bisa saya bantu?"
Kepala koki itu menunduk hormat saat ia dipanggil oleh Nyonya mansion ini.
Alice yang memang bertubuh mungil dan berwajah menggemaskan itu langsung tersenyum lebar.
Dia menunduk hormat dan menjawab kepala koki itu.
"Saya ingin anda mengajari saya cara memasak dengan benar ... bisakah anda membantu saya?"
Alice meminta ijin dengan sangat sopan, walau dia adalah nyonya di mansion ini tetap saja Alice tidak berkeinginan untuk memberikan batas nyonya dan pelayan di kediaman ini.
Dia ingin seluruh pekerja di kediaman ini diperlukan dengan baik dan layak.
__ADS_1
Akan tetapi tentu saja kepala koki tetap segan
Kepala koki itu langsung menunduk lebih dalam.
"Te ... tentu saja Nyonya, jika anda menginginkan nya maka saya akan mengajari anda," kepala koki itu begitu hormat dan dalam menunduk kearah Alice.
Walau Alice sabar baik dan sopan, tetaplah harus dihargai jika tidak maka mereka akan dalam bahaya oleh Adam dan saudara-saudaranya yang lain.
Alice tersenyum sangat bersemangat saat mengetahui itu.
"Baiklah ... suamiku sedang tidur, ayo kita memasak, aku ingin memberikan kejutan untuk suamiku,"
Adam bersemangat sekali.
Tanpa aba-aba dia sudah langsung mengenakan celemek dan mengambil alat masak di tangannya.
Benar-benar bersemangat namun membuat Alice malah terlihat menggemaskan.
"Baiklah Nyonya, saya akan membantu anda ...." kepala koki itu juga jadi bersemangat.
Dia mengambil bahan-bahan masakan sederhana, agar pemula seperti Alice bisa belajar dari dasar.
***
Disaat yang sama di cafe star
Malam itu Haley melakukan kencan buta nya dengan baik, walau merasa terpaksa tetapi Haley menemukan jika Luke adalah lelaki yang sopan dan baik.
"Saya sangat berharap saya bisa menghubungi anda di waktu selanjutnya, saya merasa tertarik dengan anda ..." Luke menunjukkan reaksi positif dari pertemuan ini.
Dia berharap dapat menghubungi Haley saat pertemuan ini sudah berakhir.
"Ummm ... ba ... baiklah, saya akan menjawab panggilan dari anda jika saya punya waktu ...." balas Haley juga sopan.
Sebab lelaki bernama Luke ini memang memiliki kepribadian yang sopan dan baik.
Haley juga akan memperlakukan orang baik kepadanya dengan reaksi dan respon yang baik juga.
Saat mendengar respon baik dari Haley, Luke tersenyum sangat lebar, dia merasa bersemangat sekali.
Dia akan berusaha mendapatkan Haley, bagaimana pun caranya.
"Ummm ..."
Dengan gugup Luke mencoba menawarkan kepada Haley untuk mengantarkan Haley pulang.
"Sudah larut, bisakah saya mengantar Nona pulang? jika anda berkenan?"
Luke tersenyum lebar.
Dia berharap Haley mengijinkan, akan tetapi karena Haley hendak menemui Sazu setelah ini tentu saja Haley harus menolak dengan halus jangan sampai lelaki ini terkuak dan sakit hati.
__ADS_1
"Mohon maaf sekali Tuan Luke, akan tetapi saya harus bertemu saudara saya setelah ini, sudah ada janji sebelumnya jadi sangat tidak baik jika saya batalkan,"
Haley mencoba menolak dengan halus, agar Luke tidak merasa sakit, dan benar saja Luke yang sangat menghormati janji itu mengerti.
Tidak ada pertanyaan selanjutnya dan rasa keberatan.
Luke segera meminta ijin untuk kembali, karena waktu kencan buta mereka sudah berkahir.
"Baiklah Nona Haley, saya undur diri dulu ... semoga malam anda menyenangkan,"
Luke tersenyum lalu berlalu dengan harapan yang besar untuk bisa menghubungi Haley di kemudian hari.
Setelah Luke pergi, Haley langsung menatap tajam kearah Sazu yang sudah cengar cengir di sudut cafe star.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Haley melangkah dengan hak tinggi nya menuju tempat Sazu.
"Kau bilang kita mau ke casino, kenapa malah mengatur kencan buta untukku?"
Haley terlihat kesal, walah Luke terlihat merupakan lelaki yang sopan dan baik, tetap saja Haley tidak suka mengenal orang baru apalagi mengharapkan hubungan serius dengannya.
"Hehe ... sudahlah Al, aku mengatur ini demi kebaikan mu, aku tidak kau tidak akan menikah nanti, kau itu cantik loh, sayang sekali jika kau tidak mempergunakan kecantikan mu ..."
Sazu menganggap kekesalan Haley sebagai lelucon, dan mengatakan jika Haley itu cantik, seharusnya menggunakan kecantikan dengan baik.
Tetapi ucapan Sazu menurut Haley sudah keterlaluan.
Haley bangkit dan tiba-tiba saja menangis.
"Kau tahu aku bekerja jadi apa dahulu? kau tahu karena kecantikan ini aku menjadi apa dahulu!"
"Kau tahu aku menderita karena wajah ku, dan aku tidak ingin mengenal orang baru bukan karena aku tidak mau! tapi aku takut mereka tahu masa laluku dan akan menghina ku, menghakimi aku dan membuatku menderita?"
Dia menatap sedih kearah Sazu, mereka kali ini Sazu sudah keterlaluan.
Mendengar suara pilu Haley, Sazu yang selalu ceria dan becanda itu terdiam.
Hatinya tiba-tiba sakit melihat Haley menangis, bisanya memang Haley mengeluarkan emosinya terkadang dia menangis, akan tetapi kali ini Haley menangis dengan rasa pilu dan luka yang dalam.
Membuat Sazu tidak bisa berkata-kata dan terdiam di tempat.
.
.
.
.
Like dan komentar kalian adalah semangat author loh, jangan lupa berikan Like dan komentar nya yaa 🤍
__ADS_1